Pangan Fiji, foto: Syam Asinar

Pangan Fiji (foto: Syam Asinar)

Oleh: Syam Asinar Radjam*

Rasanya belum makan kalau tak pakai nasi. Belum afdol. Begitulah pendapat kebanyakan orang Indonesia dalam urusan makanan pokok. Sekalipun sudah makan roti, singkong dan ubi jalar goreng, mie instan, martabak, atau bahan makanan sumber karbohidrat lain dalam porsi cukup. Sungguh berbeda dengan orang-orang Fiji, penduduk negeri kepulauan di kawasan Pasifik Selatan yang saya singgahi baru-baru ini.

Fiji merupakan negeri yang terdiri dari 300-an pulau besar dan kecil. Negeri tropis dengan tanah yang subur. Makanan pokok penduduk negeri ini adalah umbi-umbian terutama talas dan yam. Makanan pokok selain umbi-umbian adalah pisang (vudi) dan sukun.

Pangan Fiji, foto: Syam Asynar

Pangan Fiji (foto: Syam Asinar)

Keragaman bahan pangan pokok Fiji berkembang karena interaksi dengan bangsa luar. Termasuk pada masa kolonialisasi Inggris. Masyarakat Fiji pun mengenal ubi jalar, ubi kayu atau singkong, dan kentang., dan gandum. Kedatangan para pekerja kontrak dari India untuk dipekerjakan di perkebunan tebu milik perusahaan Inggris memperkenalkan pula beras ke kepulauan ini.

Pada dasarnya, saya gampang beradaptasi dengan jenis makanan yang tersedia di satu tempat yang saya singgahi ketika melancong. Meski di Indonesia, saya juga terbiasa meski tak “bertemu” nasi dalam sehari-dua. Pengalaman melancong di Fiji, terutama di kawasan pedesaan, menguatkan saya bahwa sekalipun tak makan nasi berminggu-minggu bukan masalah.

Pangan Fiji, foto: Syam Asynar

Pangan Fiji (foto: Syam Asinar)

Seringkali saya sarapan pagi dengan singkong rebus yang digoreng dimakan bersama kornet dan saos tomat. Makan siang dengan sukun goreng dan ikan. Makan malam dengan talas rebus dan telur ceplok atau ikan goreng. Tetap kenyang, tetap berenergi, sekalipun selama di pedesaan Fiji saya sering membantu warga desa bekerja di ladang-ladang mereka.

Bahan pangan berbasis umbi-umbian lokal memang berlimpah di Fiji. Di Pulau Taveuni, misalnya, talas tumbuh seperti tanaman liar tanpa harus dipupuk. Talas dari sini memasok sekitar 80% dari keseluruhan talas yang diekspor Fiji ke negara-negara seperti Selandia Baru dan Australia.

Di perkampungan di pulau yang dijuluki “Garden Island of Fiji” ini pohon-pohon sukun berbuah subur dan berbuah lebat hingga banyak buah berjatuhan. Singkong tumbuh tak ubahnya semak liar. Bahan pangan pokok yang tersedia terlalu banyak untuk warga pulau yang hanya sekitar 10 ribu jiwa ini. Meski melimpah, hanya talas saja yang diekspor ke luar pulau. Sisanya dikonsumsi lokal, dan terbuang.

Lovo

Cara memasak di Fiji, foto Syam Asinar

Cara memasak di Fiji (foto: Syam Asinar)

Hampir semua bahan pangan mereka diolah dalam keadaan segar dengan cara yang ringkas. Cukup direbus, digoreng atau paduan keduanya. Cara lain adalah dengan metode yang di Fiji dikenal dengan nama lovo.

Ketika pertama kali ke restoran yang menyediakan makanan khas Fiji di Denarau, saya jadi tahu bahwa makanan yang dimasak dengan cara lovo dihargai mahal. Lovo adalah cara atau metode memasak sederhana.

Caranya dengan lebih dulu membakar batu yang telah ditumpuk menggunduk hingga panas. Setelah itu disusun bahan makanan yang akan dimasak (misal talas, ikan, daging) di atas batu panas tadi. Selanjutnya, tumpukan batu berikut semua bahan makanan yang akan dimasak ditutupi dengan daun-daun lebar hingga rapat agar panas dari batu dapat bertahan lama.

Pangan Fiji (5)Metode ini banyak ditemukan di masyarakat Polynesia, termasuk Papua di Indonesia. Masyarakat Papua menyebut cara masak bakar batu ini dengan istilah barapen. Masyarakat Maori di Selandia baru menamakannya hangi.

Makanan yang dimasak dengan cara lovomemiliki cita rasa yang berbeda. Talas lovo terasa lebih manis, lebih kenyal, tak becek seperti talas rebus atau kukus. Mungkin karena kadar airnya sedikit. Makanan yang dimasak dengan cara lovo juga tidak cepat basi.

Beras dan Roti

Menu Makanan di Fiji, foto Syam Asinar

Menu Makanan di Fiji (foto: Syam Asinar)

Masyarakat Fiji juga mengonsumsi bahan pokok dari biji-bijian, seperti beras dan gandum. Beras, dikonsumsi oleh warga Fiji keturunan India atau biasa disebut Indo-Fijian. Merekalah yang memperkenalkan beras ke negeri ini ketika mereka datang ke Fiji sebagai pekerja kontrak di perkebunan-perkebunan tebu milik Inggris pada pengujung abad ke-19. Para pekerja dari India dan keturunannya kemudian menetap menjadi warga negara Fiji. Kini, jumlahnya hampir separuh populasi nasional Fiji.

Warga keturunan India juga menanam padi ke kepulauan ini. Pesawahan terdapat di sekitar kota Navua di Pulau Viti Levu, pulau terbesar di Fiji, dan kawasan Dreketi – Labasa di pulau Vanua Levu. Sebagian beras mereka impor dari Thailand dan Vietnam.

Tetapi warga keturunan India di Fiji pun terbiasa dengan keragaman pangan. Pengalaman berkali-kali menginap di keluarga Fiji, tidak selalu nasi yang menjadi makanan pokok. Kadang singkong, kadang talas. Kadang juga makanan dari tepung gandum.

Gandum menjadi bahan pangan yang 100 persen impor bagi Fiji. Tepung gandum diolah menjadi roti ceper tanpa ragi ala yang di India juga disebut naan, serta roti empuk ala bakery eropa. Masyarakat asli Fiji bisa makan siang menu sebongkah besar roti tawar dan selai. Terutama masyarakat Fiji di perkotaan, mengingat harga sebongkah roti tawar relatif murah. Mulai dari 70 sen dolar Fiji.

Rumah makan di Fiji, foto Syam Asynar

Rumah makan di Fiji (foto:Syam Asinar)

Belajar dari Fiji

Program diversifikasi pangan di Indonesia masih jauh dari harapan. Ketergantungan terhadap beras sudah amat tinggi, sementara jenis makanan pokok tradisional lain seperti jagung, sagu, dan umbi-umbian pelan-pelan terlupakan. Ditambah lagi dengan kesan yang diciptakan bahwa makan nasi tiga kali sehari menjadi penanda kesejahteraan.

Ketergantungan terhadap beras membuat ketahanan pangan kita terancam. Untuk memenuhi kebutuhan beras nasional, kita terpaksa impor dari negara-negara tetangga. Tentu banyak pekerjaan rumah yang perlu kita lakukan untuk mencapai ketahanan pangan. Terutama jika dikaitkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang semakin besar sementara jumlah petani semakin sedikit dan luas lahan pertanian semakin sempit.

Meski demikian, setidaknya kita bisa memetik pelajaran dari Fiji terkait keragaman makanan pokok. Tanaman pangan lokal yang mulai kita lupakan harus dikembangkan lagi di lahan-lahan pertanian hingga pekarangan. Bahan-bahan pangan lokal yang sudah mulai kita lupakan harus dihadirkan kembali ke meja makan. Bukan sekadar sebagai cemilan, melainkan sebagai sebagai makanan yang setara dengan nasi.(LiputanIslam.com)

 *petani alami yang senang berjalan dan menulis

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL