Bugis Street (foto: Farchan Noor Rachman)

Bugis Street (foto: Farchan Noor Rachman)

MRT (Mass Rapid Transit) yang saya tumpangi dari Changi Airport menuju Bugis melaju kencang. Dari jendela kacanya, saya menyaksikan hasil pembangunan di Singapura juga melesat kencang sekali. Bangunan-bangunan rapi jali, jalanan mulus tanpa lubang dan transportasi umum yang nyaman dan manusiawi.

Bugis adalah kawasan di Singapura yang menyediakan segala hal yang berbujet rendah, cocok untuk turis berkantung tipis. Dinamai Bugis karena dulu di daerah ini banyak pelaut Bugis yang datang berdagang dengan orang-orang Singapura. Bedanya sekarang, walau dinamai Bugis tapi justru sedikit orang Bugis. Kebanyakan daerah Bugis justru menjadi residen bagi orang-orang peranakan Tionghoa.

Jalanan Singapura (foto: Farchan Noor Rachman)

Jalanan Singapura (foto: Farchan Noor Rachman)

Turun dari MRT Bugis saya segera menuju hostel. Tersembunyi di antara deretan ruko-ruko model lama, saya mendapatkan kamar dormitori, sekamar berempat dengan orang lain. Murah, yang penting bisa tidur nyenyak.

Menjelajah Kampong Glam

Selepas istirahat di hostel, saya menyegerakan diri untuk berjalan-jalan. Banyak orang bilang Singapura adalah kota imitasi, semua artifisial yang membosankan. Tapi, buat saya,negeri asing selalu memberikan nuansa dan pengalaman baru, apapun bentuknya.

Berjalan kaki 10 menitan dari hostel saya tiba di tujuan saya, Kampong Glam. Kawasan ini adalah kawasan orang-orang muslim di Singapura. Sejarahnya panjang, buah dari kebijakan kolonial Inggris yang memisahkan kawasan residensial berdasarkan bangsa-bangsa yang ada di Singapura. Di Kampong Glam inilah ditempatkannya orang-orang Muslim Melayu.

Umat muslim di Singapura hanya 15 % dari total populasi. Mayoritasnya Melayu dan keturunan Indonesia. Karena kebanyakan mereka memang tinggal di daerah Kampong Glam dan sekitarnya, Kampong Glam pun menjadi daerah utama umat muslim di Singapura.

Masjid Sultan (foto: Farchan Noor Rachman)

Masjid Sultan (foto: Farchan Noor Rachman)

Kebetulan saya datang bertepatan dengan kumandang adzan dhuhur. Segera saya menuju Masjid Sultan, masjid utama di Kampong Glam dan menjadi salah satu masjid terpenting di Singapura.

“Are you moslem?” tanya pengurus masjid.

“Of course, I am moslem.” Segera setelah menjawab demikian saya dipersilakan menuju tempat wudhu dan ditawari apakah saya butuh kain sarung atau tidak. Dengan halus saya menolak karena saya sudah membawa kain sarung sendiri.

 Masjid ini punya sejarah panjang dan salah satu masjid tertua di Singapura. Masjid ini awalnya dibangun pada 1824. Waktu berjalan, lambat laun masjid ini berkembang seiring masyarakat muslim di Singapura yang semakin banyak, akhirnya pada 1924 Masjid Sultan dipugar dan diperbesar.

Gaya arsitekturnya unik, perpaduan antara pengaruh gaya arsitektur era kolonial Inggris dan gaya arsitektur Moghul. Bangunan masjid dilabur cokelat dengan kubah warna emas, tampak berdiri anggun dan megah. Karena sejarahnya masjid ini dijadikan bangunan heritage yang dilindungi oleh Pemerintah Singapura.

Masjid ini juga menjadi salah satu tempat untuk wisata sejarah di Singapura. Jadi Masjid Sultan terbuka untuk umum, wisatawan pun boleh masuk. Hanya saja ada pembatasan area untuk non muslim, mereka tidak boleh memasuki area tempat shalat, dibatasi hanya di serambi. Tujuannya agar umat Muslim di Singapura tetap bisa menunaikan ibadah dengan khusyu di dalam masjid.

Kuliner Halal di Kampong Glam

Zam-Zam Resto (foto: Farchan Noor Rachman)

Zam-Zam Resto (foto: Farchan Noor Rachman)

Seusai shalat, jamaah berhamburan di jalan raya, ramai riuh-rendah. Biasanya orang-orang akan mampir sebentar ke kedai-kedai makanan yang tersebar di sudut-sudut Kampong Glam.

Saya menuju Zam-zam Resto, tepat di seberang Masjid Sultan. Restoran ini adalah restoran tua, hanya sedikit lebih muda dari Masjid Sultan. Zam-zam Resto sudah ada sejak tahun 1908 di Singapura dan turun-temurun menyajikan makanan halal bagi umat muslim.

Lokasinya yang sangat strategis membuat banyak jamaah yang melangkahkan kaki ke sana, usai menunaikan sholat. Jamaah mungkin berpikir, segera setelah mendapatkan siraman rohani, maka kebutuhan jasmaninya juga harus dipenuhi.

“Mari masuk, untuk berapa orang?” tanya pegawai restoran.

“Satu orang saja.” Saya menjawab dengan terkaget-kaget karena melihat sosok perawakan besar keturunan India namun fasih sekali berbahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu.

Restoran ini menyajikan makanan khas muslim India. Membayangkannya saja ludah saya hendak meleleh. Pasti lezat sekali. Saya memesan menu spesial dari Zam-zam, satu porsi Nasi Ayam Briyani dan Martabak Daging Rusa. Dua menu ini adalah menu paling populer di Zam-zam, ditambah dengan segelas teh tarik dingin yang kiranya cukup untuk menghapus dahaga siang itu.

Nasi Briyani (foto: Farchan Noor Rachman)

Nasi Briyani (foto: Farchan Noor Rachman)

Begitu pesanan saya datang, dugaan saya benar. Olahan kuliner di Zam-zam memang luar biasa. Lezat, dengan bumbu kari yang sangat kuat dan menggugah selera. Sementara martabak daging rusanya begitu sedap, tekstur dagingnya sangat terasa dan bumbunya seolah meleleh di tiap-tiap serat dagingnya. Restoran ini memang cocok untuk dijadikan tempat bersantap siang.

Selesai dengan urusan perut, saya segera kembali menyusuri jalanan di Kampong Glam. Oya, kekagetan saya tentang kenapa pramusaji restoran yang orang India bisa fasih berbahasa Indonesia tadi terjawab sudah. Rupanya banyak orang Indonesia yang juga sering berkunjung ke Zam-zam, jadi, alah bisa karena biasa.

Belanja di Kampong Glam

martabak rusa (foto: Farchan Noor Rachman)

martabak rusa (foto: Farchan Noor Rachman)

Kampong Glam sesungguhnya terbagi menjadi beberapa bagian, ada Bussorah Street dan Arab Street, di sinilah di mana orang-orang Arab bermukim turun – temurun. Selain itu ada Muscat Street dan ke sanalah saya menuju sebagai destinasi terakhir menjelajahi Kampong Glam.

Muscat Street di era 1950-1960 dikenal sebagai pusat kain di Singapura. Sekarang bisa dikatakan salah satu tempat belanja di Kampong Glam. Deretan toko-toko tua sekarang menjadi cantik karena sudah dipugar dengan baik dan dicat warna-warni.

Di Muscat Street saya menyusuri toko demi toko yang menjual beraneka ragam barang, ada kain-kain kerudung, sutra sampai pakaian-pakaian khas Melayu. Seperti dulu, sekarang pun Muscat Street masih terkenal dengan kain-kainnya. Saya menyempatkan membeli beberapa lembar kain kerudung sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah.

Tak terasa sudah lebih hampir setengah hari saya berkeliling di Kampong Glam. Saat di Muscat Street, saya juga menunaikan shalat Ashar. Kini menjelang Maghrib,saya duduk-duduk di selasar Masjid Sultan, menunggu muazin mengumandangkan adzan.

Kampong Glam bagi saya seolah setitik oase, diantara gedung-gedung pencakar langit nan megah di Singapura. Azan berkumandang dengan syahdu. Saya tertunduk dan bersimpuh bersama para jamaah. Dalam shaf-shaf yang rapi, kami menyebut asma-Nya dan memasrahkan diri pada kehendak-Nya. (Farchan Noor Rachman/LiputanIslam.com)

*Penulis adalah seorang travel blogger, kisah  perjalanannya melanglang buana bisa dibaca di http://efenerr.com/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL