Osaka Castle, Foto: Farchan

Osaka Castle, Foto: Farchan

Sholat lima kali sehari adalah kewajiban muslim, pun bila dia seorang musafir. Saya pun tak mau melalaikan kewajiban ini saat berpetualang ke negeri-negeri asing. Termasuk saat saya melakukan perjalanan ke negara di mana umat muslim menjadi minoritas, misalnya Jepang. Tentu saja, saya sempat dibayangi berbagai kegamangan. Tapi, saya berpasrah diri saja karena Allah pasti akan memudahkan.

Itulah yang terjadi di suatu Jumat di Jepang. Saat itu, saya sedang melintas antara dua kota Kyoto dan Osaka. Asumsi saya, waktu zuhur adalah hampir sama dengan waktu di Indonesia, yaitu jam 12 siang. Hati saya mantap menuju masjid. Salah satu masjid di Osaka yang biasa mengadakan shalat jumat berjamaah adalah Osaka Central Masjid. Lokasinya sedikit di pinggiran Osaka, untuk ke sana saya harus naik kereta kurang lebih 15 menit dari Stasiun Osaka.

Siang hari kereta lengang, beda dengan pagi atau sore hari yang menyemut. Di dalam kereta sangat hening. Orang-orang Jepang memiliki semacam etika tak tertulis untuk tetap diam dan menjaga ketenangan di dalam kereta. Berbicara sedikit keras saja dianggap tidak sopan. Saya amati juga orang-orang sibuk menunduk, mereka sibuk dengan bahan bacaan yang mereka baca, entah buku, entah itu koran. Sebagian penumpang memilih tidur sampai nanti di tujuan.

Suasana jalan menuju masjid. Foto: Farchan

Suasana jalan menuju masjid. Foto: Farchan

Dari stasiun tempat turun, saya masih harus berjalan sekiranya 10 menit menuju masjid. Saya sedikit salah orientasi dan sempat tersasar sampai akhirnya saya mampir di sebuah kios untuk bertanya jalan. Penjaga kios pun menunjukkan arah yang benar dan akhirnya saya bisa melanjutkan langkah menuju masjid. Orang Jepang, walaupun mayoritas tidak terlalu menguasai bahasa Inggris, tapi mereka sangatlah ramah terhadap orang asing. Mereka sangat santun dan tidak segan-segan memberi bantuan. Seperti penjaga kios tadi, walau kami harus bercakap dengan bahasa tubuh, tapi dia sangat detail menjelaskan arah masjid pada saya.

 

Tiba di Masjid Osaka

Akhirnya, sampai juga saya di Osaka Central Masjid. Masjid ini adalah salah satu masjid yang ramai di Osaka. Terletak di dalam bangunan tingkat empat yang jika tanpa penanda nyaris tidak bisa dibedakan bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid. Masjid ini didirikan dengan dana patungan umat muslim di Osaka. Pada 2010 dana yang sudah terkumpul tersebut kemudian dibelikan sebuah bangunan tadi dan kemudian menjadi Osaka Central Masjid seperti sekarang dan menjadi salah satu tempat syiar Islam di Osaka.

Lantai satu masjid di Osaka. Foto: Farchan

Lantai satu masjid di Osaka. Foto: Farchan

Saat tiba di masjid, suasana sangat sepi, hampir tak ada kegiatan. Di lantai pertama masjid, ada toko yang menjual makanan halal untuk konsumsi umat musli kondisinya pun sama, sepi dan tak ada orang. Saya menduga mungkin shalat jumat sudah usai. Akhirnya saya memutuskan mengambil wudhu dan berniat shalat zuhur di masjid ini, tempat shalat berada di lantai dua masjid ini.

Ketika hendak beranjak ke lantai dua, saya disapa dengan salam lembut. “Assalamualaykum My Brother”. Seorang India menyapa saya dan kemudian mengenalkan diri bernama Naseth lantas menanyai saya “Kamu ingin shalat Jumat saudaraku?”.

“Ya, tentu. Apakah shalat Jumat sudah lewat?”jawab saya memastikan.

“Tenang, bahkan Shalat Jumat belum mulai, adzan zuhur baru dikumandangkan jam satu siang, shalat Jumat dimulai jam setengah dua siang” Naseth menerangkan.

Alhamdulillah gumam saya. Saya lantas mengikuti Naseth ke lantai dua yang masih sepi, belum ada orang. Ternyata sudah ada beberapa jamaah, mereka menunggu waktu shalat jumat dengan tadarus, beberapa lagi menunaikan shalat sunat.

Menjelang pukul 13.00, Shalat Jumat segera dimulai, Azan segera dikumandangkan, jamaah satu per satu mulai berdatangan. Masjid yang tadinya sepi sekarang jadi penuh jamaah, mereka satu padu, ingin menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.

Khutbah Jumat. Foto: Farchan

Khutbah Jumat. Foto: Farchan

Khutbah pun dimulai, dalam bahasa Arab, lalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Isinya universal, tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga perilaku, menjaga iman dan menjaga hubungan dengan sesamanya. Tepat pukul 13.30 iqamat dikumandangkan. Imam segera memimpin shalat jumat berjamaah. Maka di detik inilah untuk pertama kalinya saya menunaikan shalat Jumat di negeri orang.

Seusai shalat hati saya tergetar luar biasa. Begini rasanya pengalaman shalat Jumat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Dalam shaf-shaf siang itu, saya hanya satu bagian kecil dari bangsa-bangsa lain yang bersujud pada Allah di hari Jumat. Justru pengalaman ini memperkaya iman saya sebagai seorang muslim. Saya shalat bersama Naseth dari India, ada juga jamaah dari Irak, dari Afrika Utara, dari Nigeria, beberapa muka Melayu selain saya, juga ada umat muslim Jepang di barisan shaf terdepan.

Penulis dan Naseth. Foto: Farchan

Penulis dan Naseth. Foto: Farchan

Seusai shalat kami saling bersalaman, saling bertukar salam. “Assalamualaikum saudaraku” adalah sapaan khas kami, umat muslim di negeri orang. Bahwa walau saling asing, tapi kami saudara sesama muslim. Siang yang manis, bertemu saudara seiman di negeri orang, saling menyapa dan saling menguatkan.

 

Makanan Halal

Saya berterima kasih pada Naseth dan kami pun berpisah.  Naseth hendak pulang ke rumah, sementara saya harus melanjutkan perjalanan. Sebelum pulang saya sempatkan berbelanja makanan di toko yang berada di lantai satu masjid, sekaligus menambah bekal makanan halal di perjalanan.

Makanan khas Jepang, Suzhi. Foto: Farchan

Makanan khas Jepang, Suzhi. Foto: Farchan

Bekal makanan halal selama di Jepang memang harus senantiasa disiapkan. Kuliner Jepang memang rata-rata belum ramah untuk umat muslim. Makanan Jepang asli yang biasanya yang halal adalah onigiri, ini yang paling mudah ditemui dan harganya sekitar 100 Yen per satu onigiri. Agak sulit memang menaksir makanan halal di Jepang, biasanya saya bertanya sebelum membeli, adakah kandungan zat yang diharamkan dalam makanan yang akan saya beli.

Sekelumit kisah untuk menunaikan shalat jumat benar-benar memberi perspektif baru selama perjalanan di Jepang. Sungguh Allah memberikan kejutan di perjalanan siang itu di Osaka, tak terkira. Saya benar-benar percaya bahwa Allah akan senantiasa meringankan jalan dan melindungi umatnya yang sedang dalam petualangan.  (Farchan Noor Rachman/LiputanIslam.com)

 

Penulis adalah seorang travel blogger, kisah  perjalanannya melanglang buana bisa dibaca di http://efenerr.com/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL