Masjidil Aqsa, Jerusalem (foto:Presstv)

Masjidil Aqsa, Jerusalem (foto:Presstv)

Paus Francis mengunjungi Jerusalem, dan berpesan, “May we learn to understand the suffering of others. May no-one abuse the name of God through violence.” Sebelumnya, saat berkunjung ke kota Betlehem, Paus tiba-tiba berhenti, lalu meninggalkan para pengawal dan rombongannya kemudian berdiri tepat di depan dinding pemisah Palestina-Israel di lokasi dekat kamp pengungsi Palestina al-Dahishah. Di situ dia berdoa sambil mengernyitkan kening dan memejamkan mata.

Membaca berita ini, mata saya mendadak basah. Teringat pada perjalanan panjang saya menuju Gaza tahun 2010 dan upaya mencapai titik terdekat dari Jerusalem pada 2012. Sungguh kerinduan besar pada Jerusalem, kota suci bagi tiga agama besar dunia, Islam, Kristen, Yahudi, telah membuat banyak pihak mencurahkan perhatian untuk proses perdamaian di wilayah konflik itu.

ACG 2010 di Turki

ACG 2010 di Turki

Tahun 2010, sekitar 500 orang dari 17 negara bergabung dalam Asia Caravan to Gaza (ACG) untuk menujukkan pembelaan kepada bangsa Palestina. Saya beruntung dapat bergabung dalam karavan ini. Karavan itu awalnya berangkat dari New Delhi pada awal Desember, menuju Gaza dengan rute India-Pakistan-Iran-Turki-Suriah-Mesir-Gaza. Tetapi saya dan tim dari Indonesia langsung berangkat dari Jakarta ke Teheran. Kami menunggu karavan dari New Delhi tiba di Teheran dan bergabung bersama mereka.

Selama di Teheran, peserta ACG 2010 disambut hangat dan antusias oleh pejabat Iran (termasuk Presiden Ahmadinejad) dan rakyat Iran. Di berbagai even yang diselenggarakan dalam menyambut ACG 2010 (diadakan 10 kota di berbagai penjuru Iran), warga Iran terlihat antusias menghadiri. Semangat pembelaan terhadap Palestina terasa sangat kuat. Rombongan ACG 2010 juga dijamu dengan pelayanan yang sangat baik.

Dari Iran, kami menuju Turki dengan menggunakan bis. Di Turki, peserta ACG 2010 diinapkan di stadion olahraga. Seadanya. Tapi tak mengurangi semangat kami untuk melanjutkan perjalanan menuju Gaza. Saya bahkan melihat ada anggota rombongan dari Iran dan Kashmir yang membawa balita. Padahal hawa sangat dingin. Bulan Desember adalah musim dingin dengan rasa dingin yang tajam menusuk tulang.

konferensi pers ACG 2010 di Damaskus

konferensi pers ACG 2010 di Damaskus

Lepas dari Turki, kami masuk Suriah. Pemerintah Suriah menyambut kami dengan sangat baik. Kami diinapkan di hotel dan disediakan makanan yang sangat cukup. ACG 2010 beraudiensi dengan Khaled Meshal, Ketua Biro Politik Hamas yang saat itu masih berkantor di Suriah. Sayang, hanya setahun kemudian, Meshal malah berbalik melawan pemerintah Suriah.

Tiba di Gaza

Setelah tiba di Kairo, kami melanjutkan perjalanan ke Rafah (wilayah Palestina yang membatasi Mesir dan Gaza). Kami menaiki bis kecil berkapasitas 29 orang, yang terpaksa dinaiki 50 orang plus koper-koper. Pintu bis bahkan tak bisa ditutup. Namun para aktivis mengobarkan semangat dengan bernyanyi dan membaca puisi dalam bahasa Arab.

Tiba di Rafah, kami dilarang masuk Gaza oleh pemerintah Mesir. Kami semua melakukan aksi demo dan bernegosiasi dengan alot. Akhirnya, mereka mengizinkan kami masuk, kecuali rombongan yang warga negara Iran. Selain itu, ada sekitar 200 ton barang bantuan yang dibawa dengan kapal (termasuk 4 ambulans sumbangan rakyat Indonesia). Namun pemerintah Mesir menghalangi masuknya sebagian bantuan itu. Ada 4 truk kontainer yang sebagian besarnya berisi bahan makanan, alat-alat tulis, yang tidak jelas nasibnya.

bersama PM Palestina, Ismail Haniyeh di Gaza

bersama PM Palestina, Ismail Haniyeh di Gaza

Tepat tanggal 2 Januari 2011, sekitar jam 1.30 dini hari, kami menjejakkan kaki di Gaza. Air mata saya menetes. Orang-orang berpelukan, sebagian melakukan sujud. Perjalanan ini sungguh panjang. Bila dihitung dari awal, rombongan berangkat dari Delhi pada 2 Desember 2010, menempuh jarak sekitar 8000 kilometer. Kami hanya diberi izin 48 jam berada di Gaza. Warga Gaza menyambut kami dengan sangat antusias.

Kenangan manis yang saya ingat, kami diundang makan oleh seorang ibu, warga Gaza yang memiliki 8 anak, 4 di antaranya gugur syahid di tangan Israel. Saya menghadiahinya poster Imam Khomeini, dan ibu luar biasa itu membalasnya dengan memberikan foto anaknya yang syahid. Di tengah berbagai keterbatasan, beliau menyuguhi kami nasi kebuli. Nasi kebuli yang terenak dalam hidup saya.

Global March to Jerusalem

Kerinduan kepada Jerusalem; kepada tegaknya keadilan di Palestina; membuat saya memutuskan untuk kembali bergabung dalam aksi solidaritas Palestina tahun 2012.

Kali ini, program yang digagas para aktivis internasional adalah Global March to Jerusalem. Para aktivis dari berbagai negara akan berkumpul secara bersamaan di empat negara yang berbatasan dengan Palestina: Yordania, Mesir, Suriah, dan Lebanon. Sejalan dengan itu, protes menentang penjajahan Israel juga diselenggarakan di kedubes-kedubes Israel di Arab dan Eropa.

salah satu sudut kota Amman

salah satu sudut kota Amman

Saya dan seorang teman memutuskan untuk bergabung dalam GMJ di Yordania. Saya berangkat ke Amman via Mashad, Iran. Tiba di Amman International Airport, suasana terasa mencekam. Pemeriksaan sangat ketat. Ada alat photo untuk memotret close up setiap pendatang. Saya sudah mengunjungi banyak negara, baru kali ini ada prosedur seperti di Amman.

Mereka melakukan pemeriksaan yang lebih ketat terhadap saya dan teman saya, karena kami datang dari Republik Islam Iran. Selama sekitar 3 jam kami diinterogasi, ditanyai, apa yang kami lakukan di Iran. Petugas yang menginterogasi kami lagaknya mirip agen FBI berpakaian preman yang saya lihat di film-film.

Tas kami digeledah, handphone disita (tetapi akhirnya dikembalikan lagi). Akhirnya, ada pihak KBRI yang menjemput kami dan kami pun terbebas dari ruang interogasi itu. Tak lama kemudian, saya mendapat info, beberapa aktivis pro-Palestina dari Indonesia yang masuk ke Amman melalui Lebanon malah dideportasi, dilarang masuk.

Akhirnya saya bergabung dengan para aktivis Indonesia lainnya yang dipimpin oleh dr. Joserizal Jurnalis dari Mer-C Indonesia yang telah mengikuti GMJ 2012 dari awal, berkaravan dari Pakistan, Iran, Turki, Libanon, hingga Jordania.

Saat itu bulan Maret. Musim semi membuat cahaya matahari bersinar lembut dan cerah. Amman adalah kota yang mewah, menurut saya. Kota Arab yang modern, mirip Singapura. Mobil-mobil mewah berseliweran. Orang-orang yang saya temui di pasar ramah-ramah, jauh beda dengan petugas di airport yang membuat saya tercekam itu. Kami tinggal di apartemen dan masak sendiri, jadi saya tak sempat mencicipi kuliner ala Yordania.

kelompok Neturei Karta dalam aksi GMJ

kelompok Neturei Karta dalam aksi GMJ

Tepat tanggal 30 Maret, hari Jumat, sekitar 20.000 orang, baik warga Yordania maupun para aktivis anggota karavan GMJ dari 80-an negara bergerak menuju lembah Yordan, di desa Kafrein, sekitar 10 kilometer dari perbatasan Yordania-Palestina. Saya lihat, ada empat rabi Yahudi dari Neturei Karta juga bergabung dalam rombongan ini, Neturei Karta adalah organisasi Yahudi anti Zionis dan aktif menyerukan dihentikannya penjajahan Israel atas Palestina.

Setelah mendengarkan orasi-orasi dari para aktivis pro-Palestina berbagai negara, menegaskan lagi seruan pembebasan Palestina, kami pun bubar dan kembali ke negara masing-masing. Kami pulang, dengan doa yang kuat, semoga Allah menyegerakan kemerdakaan bagi Palestina. Semoga Yerusalem terbebas dari penjajahan atas nama agama. Semoga kita semua bisa berziarah ke Yerusalem dalam kedamaian. (Ema Rachman/LiputanIslam.com)

*penulis adalah traveler, aktivis pembela Palestina

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL