Jakarta, LiputanIslam.com—Baru-baru ini, Kementerian Pariwisata merilis 100 agenda wisata unggulan sepanjang 2018. Di dalamnya ada agenda-agenda wisata dan festival yang meliputi tiga atraksi, yakni, atraksi: budaya, alam, dan buatan.

Sebanyak 100 agenda wisata dikelompokkan menurut waktu pelaksanaannya. Pada Februari ini, Kementerian Pariwisata mencatat dua pergelaran berskala internasional. Keduanya digelar di pulau yang berbeda, yakni di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat; dan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Bila Anda punya rencana traveling sepanjang Februari ini, cobalah menyambangi dua pulau yang menggelar agenda menarik berikut ini.

  1. Festival Pulau Penyengat

Sesuai dengan namanya, festival tersebut digelar di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Tujuannya untuk merayakan hari jadi Pulau Penyengat.

Sejumlah atraksi budaya yang mencerminkan kehidupan asli masyarakat melayu di Kepulauan Riau ditampilkan dalam festival. Atraksi itu meliputi pentas seni, kegiatan religi, pameran bahari, dan festival kuliner.

Festival Pulau Penyengat ditandai sebagai salah satu agenda wisata terbaik lantaran konsisten dilaksanakan tiap tahun. Juga, karena festival ini mampu menarik minat wisatawan asing datang ke Kota Tanjung Pinang. Khususnya wisatawan dari Singapura, Malaysia, dan China.

Festival Pulau Penyengat digelar pada 14-18 Februari 2018.

 

Festival Bau Nyale

Bau Nyale yang digelar di pesisir Pantai Mandalika biasanya memang ditunggu-tunggu wisatawan yang melancong ke Lombok. Sebab, festival ini merupakan gabungan dari peristiwa alam yang langka dan pergelaran budaya yang otentik.

Festival Bau Nyale diangkat dari legenda Putri Mandalika. Putri tersebut, menurut kisah yang berkembang, menceburkan diri ke laut karena menjadi rebutan sejumlah putra mahkota. Bunuh diri dilakoninya guna menghindari perang antar-kerajaan.

Jasadnya berubah menjadi cacing wawo atau nyale. Cacing warna-warni ini lalu muncul setahun sekali (biasanya bulan Februari) di pesisir Pantai Mandalika. Masyarakat sekitar, pada bulan munculnya nyale, beramai-ramai menjaringnya. Kegiatan menjaring nyale ini berhubungan dengan mitos kebaikan dan kesejahteraan.

Dalam perkembangannya, kegiatan menjaring nyale tak cuma bisa dinikmati masyarakat lokal. Wisatawan yang penasaran dengan kemunculan nyale juga diperkenankan mengikuti ritual tahunan itu.

Festival Bau Nyale digelar pada 20 Februari 2018. (ra/tempo)

*Sumber foto: (1) http://travelplusindonesia.blogspot.co.id (2) https://student.unud.ac.id/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL