Perpus

Perpustakaan Nasional Singapura

Aku bergegas menyusuri Jalan Victoria, yang menghubungkan Complex Bugis Junction dan Bras, ditengah udara Singapura yang sedemikian panas demi mengobati rasa penasaranku terhadap sebuah bangunan yang begitu indah —  yang tak sengaja kulihat ketika aku sedang berada di balik jendela Perpustakaan Nasional Singapura. Ya, setiap hari Minggu aku selalu menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan tersebut  di sela-sela aktivitasku yang padat, karena berkunjung tempat itu sangat ampuh menepis rinduku kepada Indonesia. Untukku yang telah  empat tahun lamanya di Singapura, tak jarang aku mengidap penyakit rindu pada kampung halaman.

Perpustakaan ini setinggi 16 lantai, dan aku biasa mendatangi lantai 9, tempat dimana bisa kutemukan buku-buku dalam bahasa Indonesia. Selain bahasa Indonesia, juga ada buku-buku dalam bahasa Cina dan bahasa India. Tapi karena keterbatasanku menguasai bahasa tersebut, buku-buku dalam bahasa itu tidak pernah kusentuh sama sekali. Dengan menggunakan  member card  perpustakaan, kita diperbolehkan meminjam buku perpustakaan untuk dibawa pulang.

Aku sangat menggemari kisah-kisah Sufistik yang membantuku untuk tidak terlampau silau kepada dunia, dan selalu ada hikmah dalam setiap kisahnya yang membuatku merasa tenang, apalagi aku berada di sebuah negara yang menjadi surganya para pencari kenikmatan dunia. Dalam sebuah syairnya, Rumi pernah berkata, “Kekasih, beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui bagaimana  cara menyambut-Mu dan sulutkanlah obor di tangan-Mu agar membakar habis rumah ke-ego-an dalam diriku.” Aku merasa, syair Rumi tersebut mewakili harapan terbesarku.

Tadi dari balik jendela perpustakaan, kuhubungi Pavle Radonick, seorang dosen dan juga seorang penulis asal Australia yang saat ini juga menetap di Singapura. Kami tidak sengaja bertemu dan akhirnya berkenalan. Layaknya seorang guide, dia hampir selalu tahu apapun yang kutanyakan.

Gereja St yoseph

Gereja St Yoseph

“Bangunan itu adalah Gereja St Yoseph, yang istimewanya,  di gereja tersebut ada patung Our Lady of Fatima, “ jelas Pavle. Aku tersentak, dan tentu saja penasaran, bukankah Fatima (Fatimah) adalah nama putri dari Baginda Muhammad Saw? Yang diperistri oleh Sayyidina Ali bin Abu Thalib pemilik Pedang Dzulfiqar, dan melahirkan putra-putra penghulu surga yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Mengapa nama yang begitu agung tersebut ada di sebuah gereja? “Aku harus mencari tahu,” batinku.

Aku pun berjalan menuju Gereja St Yoseph yang terletak di Jalan Victoria, dan di jalan ini aku tidak sendirian. Seperti biasanya, hari  Minggu selalu ramai orang-orang yang berlalu lalang mencari hiburan yang sangat digemari oleh wisatawan dari  mancanegara. Kebanyakan dari mereka memenuhi berbagai tempat hiburan dan  shopping center. Negeri yang kecil ini juga dibanjiri para pekerja dari berbagai negara Asia, seperti dari Indonesia,  Filipina, India, Myanmar, dan Bangladesh dan mereka biasanya memanfaatkan hari libur mereka dengan bersenang-senang di luar.

Sepanjang perjalanan aku disuguhi pemandangan berupa bangunan-bangunan yang sangat menakjubkan. Dari bangunan yang sangat modern hingga bangunan kuno klasik bekas peninggalan penjajahan Inggris. Saat mengingat penjajahan, hatiku sedikit pilu, dan berharap jangan lagi ada penjajahan atas nama apapun di dunia ini.

Aku pun sampai di Gereja St Joseph. Karena hari Minggu, kulihat banyak jemaat sedang mengikuti peribadatan. Aku berdiri di luar ruangan dan tak bisa berhenti berdecak kagum menatap bangunannya yang indah.

jemaat

Jemaat sedang beribadah

Aku kemudian mengambil beberapa foto di dalam gereja, sedangkan jemaat terlihat terpaku mendengarkan khotbah dari Pastur. Selain aku, banyak orang luar yang masuk ke dalam gereja untuk sekedar mengambil foto. Awalnya aku ingin berbicang dengan pihak gereja, namun lantaran mereka masih beribadah aku merasa sungkan.

Pavle menuturkan lewat email, sebuah kisah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, konon pada tahun 1917, tiga orang anak gembala yang bernama bernama Lúcia Santos, Jacinta dan Francisco Marto,  mengungkapkan bahwa   Bunda Maria menampakkan di hadapan mereka. Penampakan itu berupa seorang wanita yang konon “lebih bercahaya daripada matahari, memancarkan satu sinar yang terang berbanding kristal, dengan jasad seolah-olah ditembusi cahaya”. Peristiwa tersebut terjadi di Fatima, sebuah kota  di Portugal. Sejak saat itu Fatima menjadi kota tujuan wisata religius.  Istilah Our Lady of Fatima pun mendunia. Di berbagai belahan dunia kemudian dibuat Patung Our Lady of Fatima dan menghiasi gereja-gereja.

Patung Lady of Fatima

Patung Lady of Fatima

Kembali ke Gereja St Yoseph, di samping menara utama ada dua menara kecil yang menjulang tinggi seakan-akan hendak menggapai langit. Layaknya  gereja tua, St Joseph dibangun dengan tanda Salib ala Latin. Menurut Pavle, gereja tersebut mampu menampung hingga 1.500 jemaat.

Namun yang menurutku paling menarik  dan berkesan dari semua ini adalah proses pembuatan gereja yang bahu membahu dari para tokoh di seluruh dunia. Bergotong royong, begitu tepatnya. Altar utama untuk St Joseph didedikasikan untuk Our Lady of Lourdes yang dibuat oleh perusahaan Milanese Fratelli Barttarelli. Altar Our Lady of Fatima dan St Anthony dibuat oleh perusahaan Italia Bertelli. Patung asli Our Lady of Fatima disumbangkan oleh jemaat Portugis terkemuka yaitu Dr Xavier Caetano Furtado. Satu jendela Saint Catherine disumbangkan oleh Craik DM untuk mengenang putrinya Katherine yang meninggal di laut.

Sedangkan di luar gereja ada sebuah gua yang didedikasikan untuk Our Lady of Fatima. Arsitek bangunan gereja tersebut adalah D. McLeod Craik, yang gaya arsitekturnya Neo-Gothic  pada jendela dan atap. Ada juga sentuhan azulejos Portugis (ubin dekoratif) di dinding gereja yang menggambarkan penampakan Bunda Maria (Maryam as). Aku berdo’a dalam hati semoga gotong royong dari umat Khatolik ini bisa dicontoh oleh saudara-saudaraku kaum Muslimin, ibarat kata pepatah,”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

anita 2

Marina Bay

Nama Fatima masih terus mengusikku. Baik Bunda Maria maupun Bunda Fatimah adalah dua dari empat wanita termulia penghulu surga dalam pandangan Islam. Dalam sebuah hadists Rasulullah Saw bersabda: ”Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Fir’aun”. Terbersit rasa rindu kepada wanita-wanita ahli surga itu, dan harapku semoga aku bisa meniru walau hanya sedikit saja kemuliaan hati dan keteguhan iman mereka.

Nada pesan masuk berbunyi membuyarkan lamunanku. Pesan dari  Sally,  aku janji akan menemuinya didekat kawasan itu, Marina Bay. Aku ‘terpaksa’  meninggalkan gereja dan menuju tempat Sally — yang tengah duduk termenung menungguku. (Anita Fajarwati/ LiputanIslam.com)

 

Penulis adalah seorang mahasiswa Indonesia asal Jawa Timur  yang sedang kuliah dan menetap di Singapura.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL