Bagian dalam Benteng

Bagian dalam Benteng Karim Khan (foto:Afifah Ahmad)

Oleh: Afifah Ahmad*

Shiraz, tak hanya menyimpan peninggalan sejarah Persia kuno dan makam para penyair. Kota ini juga menawarkan sejumlah situs warisan kerajaan Islam yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Salah satunya adalah kompleks masjid Wakil. Berjalan menyusuri kota tua Shiraz di tengah rinai gerimis musim dingin adalah kenangan yang sulit terlupakan. Meski harus menahan dingin, namun terbayar oleh keunikan gedung-gedung klasik yang terguyur rintik hujan.

Di sekitar komplek wakil ini, wisatawan dapat mengunjungi tiga peninggalan bersejarah berupa masjid Wakil sendiri, pasar tradisional berkubah, dan hamam atau pemandian umum. Bangunan-bangunan tersebut dirancang atas perintah Raja Karim Khan Zand pada abad ke 18. Karim Khan sendiri merupakan Raja yang cukup populer di kalangan masyarakat Iran. Karena ia dianggap Raja terakhir yang mampu mempertahankan wilayah Persia hingga ke dataran Afganistan. Saya sempat melintasi benteng peninggalan Karim Khan yang kokoh sebelum tiba di kompleks wakil. Di salah satu bangunan benteng, digambarkan sang Raja sedang menerima tamu asing.

Sepi dan tenang. Itulah suasana yang tergambar saat memasuki pelataran masjid Wakil. Tidak banyak turis dan pengunjung yang datang hari itu. Apalagi kami tiba sebelum waktu salat. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengeksplorasi bangunan lebih jauh. Jarang-jarang bisa mendapati situs wisata di Iran yang lengang pengunjung. Masjid dengan luas sekitar 8000 meter persegi ini, hanya memiliki dua ivan atau gerbang. Tidak seperti kebanyakan masjid-masjid di Iran yang mempunyai empat ivan. Di atas ivan itu, terlihat dekorasi mozaik kermaik yang melambangkan bunga-bunga dan kebun Persia. Model ini menjadi ciri khas masjid-masjid Persia.

Bangunan masjid wakil

salah satu sudut masjid Wakil (foto;Afifah Ahmad)

Saat menyusuri pelataran masjid, saya menjumpai arsitektur bangunan yang jauh dari kemegahan namun impresif. Terlebih ketika menyaksikan atap berbuku-buku yang tersusun dari ribuan batu bata. Begitu rumit namun mengesankan. Atap itu sendiri disangga oleh 48 pilar batu berbentuk spiral. Setiap dua pilar saling bertemu menghasilkan lengkung kubah. Semakin ke dalam bentuk lengkung itu terlihat mengecil, seolah ingin mengajak jamaah untuk lebih konsentrasi dan memusatkan perhatian saat menghadap sang pemilik ‘rumah’ suci.

Berjalan di bawah bangunan berkubah ini terasa hangat, meski di luar sana udara cukup dingin. Tempat ini memang tidak hanya menyuguhkan keindahan, namun telah menunjukkan fungsi dan kekohonannya. Masjid wakil termasuk diantara sedikit bangunan yang tetap tegak berdiri setelah gempa hebat yang melanda kota Shiraz sekitar tahun 1800 an. Sampai sekarang pun masjid bersejarah ini masih digunakan sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan di hari-hari besar keagamaan.

Tidak jauh dari masjid, terdapat bangunan tua yang unik. Lokasinya hanya beberapa meter dari gerbang masjid. Di atas pintu bangunan itu tertulis “hammam wakil”. Hammam dalam bahasa farsi adalah mandi. Namun kata hammam di sini menunjukkan sebuah tempat pemandian umum yang dikomersilkan. Menurut keterangan penjaga, dahulu saat penghangat air belum masuk ke rumah-rumah, masyarakat pergi membersihkan diri ke hammam, karena tempat ini menyediakan air panas, ruang uap, perlengkapan mandi, dan pemijatan. Mungkin sekarang mirip dengan sauna.

Hammam wakil menjadi galeri karpet

Hammam wakil menjadi galeri karpet (foto:Afifah Ahmad)

Tidak sekedar pemandian biasa, ruang hammam wakil didesain sangat indah dengan lukisan-lukisan dinding yang kaya seni. Keindahan itu masih dapat terlihat sampai sekarang meskipun sebagian muai terlihat lusuh. Beberapa tahun ke belakang, hammam ini sempat beralih fungsi menjadi restoran tradisional yang cukup populer di Shiraz, namun ditutup karena asap dapurnya merusak dekorasi dinding ruangan.

Hari ini, hammam wakil difungsikan sebagai galeri karpet. Saat saya memasuki ruangan, berbagai karpet buatan tangan dipajang dan dilelang dengan harga jutaan. Setelah sempat melihat-lihat berbagai model karpet, saya duduk-duduk di ruangan utama hammam sambil memandangi interior dalam. Meskipun bangunan ini memiliki ciri khas sendiri, namun ada kesamaan dengan bangunan masjid yang mengembangkan pola atap berkubah.

Kemiripan itu juga dapat dijumpai pada bangunan pasar tradisional yang lokasinya masih di sekitar kompleks wakil. Menurut keterangan, pasar ini telah ada sejak masa dinasti buwayhid, namun Raja Karim Khan abad ke 18, merenovasi dan mengganti namanya menjadi pasar wakil. Ketika tiba di area, pengunjung dapat melihat lorong-lorong memanjang berkubah. Seperti atap masjid wakil, pasar ini juga didesain begitu rinci menggunakan batu bata.

Selain perpaduan fisik bangunan masjid, bazar, dan hammam, yang lebih menarik sebenarnya adalah harmonisasi sosial antara ketiga bangunan tersebut. Keberadaan tiga tempat penting dalam satu kompleks ini seperti menyimpan cerita tersendiri. Sambil berjalan meninggalkan kompleks, saya mencoba merenungi. Perpaduan itu seolah memberikan pesan bahwa antara material yang disimbolkan oleh pasar dan spiritual yang diwakili masjid harus saling memberi keseimbangan. Sedangkan hammam menunjukkan sebuah antara, tempat seseorang mensucikan diri sebelum menghadap kepadaNya. (LiputanIslam.com)

Penulis adalah travel-writer, penulis buku Road to Persia, tinggal di Teheran

Raja Karim Khan Zand menerima tamu

patung ‘Raja Karim Khan Zand menerima tamu’ (foto:Afifah Ahmad)

Info Perjalanan

Untuk sampai di kota Shiraz, ada berbagai alternatif kendaraan. Kita bisa menggunakan bus vip dengan tarif 325 ribu rial atau bus biasa yang harganya 200 ribu rial. Bila bepergian bersama keluarga, kita bisa mencoba kereta berkamar dengan 4 tempat duduk, biaya perorang sebesar 262 ribu rial. Kereta ini hanya ada pada hari Minggu dan Selasa. Lama perjalanan ke Shiraz sekitar 13 jam dari Teheran. Di sekitar kompleks wakil, ada berbagai pilihan untuk menginap, mulai dari losmen yang murah meriah seperti di Anvari, permalam 280 ribu rial untuk dua orang. Atau bila ingin sedikit lebih nyaman bisa mencoba hotel Eram dengan harga 890 ribu rial.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL