Kota Selcuk, Foto: Farchan

Kota Selcuk, Foto: Farchan

Oleh: Farchan Noor Rachman

Barangkali salah satu alasan kenapa saya ke Turki adalah karena untuk menziarahi situs-situs Islam yang ada di Turki. Dan benar, pada akhirnya saya melakukannya, ada satu situs ziarah Islam yang akhirnya bisa saya kunjungi.

Informasi tentang situs ziarah Islam ini tidak sengaja saya dapatkan ketika saya sedang berada di Selcuk, sebuah kota kecil yang berjarak 10 jam perjalanan darat dari Istanbul. Kota ini walaupun kecil namun menyimpan banyak kekayaan sejarah. Seperti kota tua Efesus sampai rumah peristirahatan terakhir Bunda Maria.

Saya sedang mengamati peta Selcuk ketika mata saya tertumbuk pada informasi kecil tentang The Cave of Seven Sleepers. Di peta lokasinya sedikit membingungkan karena informasinya pun terbatas.

Sebenarnya saya benar-benar terkejut ketika mendapat informasi ini karena sesungguhnya saya tidak menyangka akan bertemu situs Islam sepenting ini di Selcuk. Dalam Islam, Seven Sleepers sesungguhnya memiliki tempat yang terhormat, bahkan diabadikan sebagai surat ke-18 dalam Al-Quran. Islam mengenal Seven Sleepers sebagai Ashabul Kahfi, para pemuda yang tertidur dalam gua.

Kota Efesus. Foto: Farchaan

Kota Efesus. Foto: Farchaan

Sejarah Gua Ashabul Kahfi

Ada banyak versi tentang di mana tepatnya lokasi Gua Ashabul Kahfi. Setidaknya ada Yordania, Tunisia bahkan sampai ke daerah Uyghur, Cina. Dari semua tempat tersebut masing-masing memiliki interpretasi tentang kebenaran lokasi tersebut.

Tentang Gua Ashabul Kahfi di Selcuk ini ternyata memiliki tafsirannya sendiri. Ini terkait dengan keberadaan Efesus, kota kuno era Kekaisaran Romawi dan ada singgungannya juga dengan catatan-catatan sejarah Kristen di awal abad ke-5 Masehi.

Dalam Islam dijelaskan bahwa pemuda-pemuda ini lari dari kekuasaan raja yang lalim untuk mempertahankan tauhidnya. Sementara dalam kisah Kristen, para pemuda ini lari dari kekuasaan Raja Decius, dan melarikan diri ke gua, tertidur selama beratus tahun dan baru bangun kembali ketika kuasa berganti di bawah tapuk pimpinan Raja Theodosius II. Kejadian-kejadian ini terjadi di Kota Efesus, kota tua yang sekarang berada di Selcuk.

Bagi saya Gua Ashabul Kahfi versi Turki ini sungguh menarik karena terdapat singgungan cerita antara 2 agama besar, Islam dan Kristen. Karena terdapat benang merah yang kuat diantara 2 agama ini tentang keberadaan Gua Ashabul Kahfi di Selcuk. Orang-orang Turki pun meyakini bahwa Gua Ashabul Kahfi yang di Selcuk-lah yang menjadi sebenar-benarnya Gua Ashabul Kahfi atau The Cave of Seven Sleepers.

Menuju Ashabul Kahfi. Foto: Farchan

Menuju Ashabul Kahfi. Foto: Farchan

Menuju Gua Ashabul Kahfi

Lokasi gua ini sesungguhnya berada di luar Kota Selcuk, di kaki Pegunungan Bul-bul dan sedikit tersembunyi. Pegunungan ini melingkar mengurung Selcuk dan menjadikan kota ini seperti kota kecil yang terbenam di mangkok raksasa.

Saya mencari cara bagaimana caranya supaya saya bisa menuju gua tersebut. Selcuk adalah kota yang sepi, sedikit susah untuk mencari angkutan umum. Satu-satunya angkutan umum di Selcuk adalah dolmus, semacam angkot jika di Indonesia. Pun ketika saya bertanya di terminal tidak ada dolmus yang melayani rute ke Gua Ashabul Kahfi.

Beruntung di Selcuk ada taksi, segera saya menyewa taksi dan memintanya untuk mengantarkan saya ke lokasi gua. Ferit, sopir taksi yang sawa sedikit heran karena menurutnya sedikit sekali turis yang menuju ke lokasi gua, bukan lokasi favorit para turis di Selcuk begitu katanya.

Ashabul Kahfi. Foto: Farchan

Ashabul Kahfi. Foto: Farchan

Taksi yang membawa saya melibas jalanan Selcuk yang lengang. Semakin dekat ke Gua jalanan semakin sepi dan nyaris tidak bertemu kendaraan selain yang saya tumpangi. Ferit membawa saya melalui jalan yang sempit dan di kanan-kiri hanya ada tanaman zaitun dan jeruk lemon, 2 hasil pertanian yang jamak ditemui di Selcuk.

Ferit mengemudikan taksinya dengan tenang, ia seperti mengerti kebingungan saya. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata ia menjelaskan bahwa sebentar lagi sampai, ia menambahkan bahwa situs ini memang situs kecil dan nyaris tidak menjadi perhatian orang-orang.

Petunjuk menuju Gua kecil saja, nyaris tidak terlihat karena tertutupi oleh rimbun pepohonan. Jika saya pergi sendiri mungkin saya akan tersesat atau bahkan tidak akan mengenali keberadaan situs ini, situs yang sesungguhnya penting bagi umat muslim. Jika tidak karena bantuan Ferit, mungkin saya juga tidak akan sampai ke Gua Ashabul Kahfi ini.

Menjelajahi Area Gua Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi. Foto: Farchan

Ashabul Kahfi. Foto: Farchan

Jangan dibayangkan bahwa situs sepenting ini akan memiliki bangunan yang megah. Situs ini bahkan biasa saja jika tak mau dibilang ala kadarnya. Untuk masuk ke dalam kompleks Gua Ashabul Kahfi ini saja jalannya masih tanah. Tidak ada fasilitas layaknya tempat wisata, hanya ada 1 bangunan berupa restoran perkebunan di pintu masuk, itupun sepi sekali.

Ferit memarkirkan taksinya di bawah pohon sekenanya. Tidak ada lahan parkir di sini, hanya ada tanah lapang dengan rumput-rumput dan semak liar. Setelah itu Ferit menunjukkan jalan yang harus saya tempuh, jalannya menanjak, menjulang menuju arah perbukitan.

Saya segera mendaki perbukitan yang ditunjuk Ferit, lagi-lagi tanpa petunjuk. Hanya ada susunan bukit gersang dengan semak-semak yang jarang. Saya hanya mengikuti intuisi, ada semacam jejak jalan setapak menuju arah bukit dan sepertinya memang benar, itu jalan yang harus saya tempuh. Namun sejauh mata memandang hanya bukit dan bukit, kesana sini mencari tidak ada tanda-tanda keberadaan situs bersejarah.

Pertanyaan saya akhirnya terjawab sudah, ketika saya bertemu dengan pagar tinggi yang mengelilingi sebagian area perbukitan. Saya melongok ke dalam pagar dan ternyata di situlah letak Gua Ashabul Kahfi, apa yang saya cari sudah saya temui.

Ashabul Kahfi 2Di balik pagar itulah Gua Ashabul Kahfi berada. Saya mencoba mencari jalan untuk masuk dengan bertanya kepada penduduk setempat, rupanya memang tidak ada akses sama sekali untuk masuk ke area gua. Menurut penduduk, ketiadaan penjaga dan mungkin karena penelitian arkeologis area ini belum selesai menyebabkan area ini tertutup untuk umum.

Namun dari kejauhan kompleks Gua Ashabul Kahfi ini tampak jelas. Langit-langit guanya begitu tinggi dan tampak lamat-lamat ada relung-relung kecil serupa ruangan di dalam gua tersebut. Di sekeliling gua banyak terdapat bekas reruntuhan pondasi, semacam reruntuhan pondasi rumah-rumah kecil.

Memang pada kenyataannya saya tidak sampai ke Gua Ashabul Kahfi, saya tidak masuk dan mendekat sampai di dalamnya. Namun setidaknya saya telah berhasil mencapai salah satu situs penting bagi umat Islam yang diabadikan di Al-Quran.

Apa yang saya rasakan hanya sedikit rasa trenyuh, mengingat situs sepenting ini tampak terabaikan. Mungkin itulah yang menyebabkan sedikit pengunjung yang datang. Walaupun ketika saya tanyakan ke Ferit saat berangkat, sesungguhnya situs ini banyak dikunjungi para peziarah, baik yang Muslim ataupun Kristen karena situs ini sama pentingnya di dua agama tersebut.

Akhirnya saya menutup kunjungan ini dengan memanjatkan doa di luar pagar yang membatasi saya dan Gua Ashabul Kahfi. Mengucap syukur bahwa saya bisa menziarahi satu tempat yang namanya diabadikan dalam Al-Quran. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL