Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Langit biru membentang sepanjang jalan dihiasi awan-awan tipis. Kota Teheran sudah jauh tertinggal di belakang. Jalanan terjal dan berkelok-kelok mulai terlihat di depan mata. Rasa penasaran saya semakin menjadi, seperti apa wajah desa yang ramai dibicarakan di dunia maya itu. Saya memang mendapat informasi Bargejahan yang berarti daun dunia dari beberapa situs. Orang Teheran sendiri banyak yang belum tahu lokasi desa yang berada sekitar 50 km di Timur Laut Teheran ini.

“Musim gugur adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Bargejahan” demikian tertera di sebuah artikel. Kebetulan yang menyenangkan, karena memang hari-hari ini Teheran sedang menyambut musim gugur. Jadi, saya tidak harus menunggu lama untuk bisa melihat desa unik itu. Di jalanan, perubahan alam ini semakin terasa. Warna daun-daun mulai menguning, bahkan sebagian sudah jatuh berguguran. Semakin mendekati lokasi desa Bargejahan, warna daunnya semakin beraneka. Saya berkali-kali berhenti di tengah jalan untuk mengambil gambar. Meskipun saya sudah melewati musim gugur bertahun-tahun di Teheran, tapi baru kali ini melihat gradasi warna daun yang sangat indah.

fifah 2Tiba di tepi desa. Suasana masih hening. Sepertinya kami datang terlalu pagi. Belum banyak warga desa yang melakukan aktivitasnya, apalagi di hari libur seperti ini. Begitu turun dari mobil, saya segera merapatkan jaket. Udara di sini jauh lebih dingin dari Teheran. Saat mulai menyusuri desa, ada yang terasa janggal. Rumah-rumah di sini terlihat besar dan baru. Sebelumnya saya membayangkan, penduduknya masih tinggal di rumah-rumah kuno tradisional. Saya sempat terpikir, makmur juga para petani di desa ini.

Menariknya, meskipun aroma modernisme sudah merambah desa ini, tapi kondisi alam dan budaya setempat tetap terjaga. Saat melintasi jalan desa tadi, saya melihat keledai- keledai yang digunakan untuk membajak tanah dan membawa hasil kebun. Suasana desa juga masih terasa alami, seperti desa-desa di Utara Iran. Saya tak sabar ingin segera turun dan berjalan-jalan di sekitar desa, sementara Shadiq masih sibuk mencari tempat parkir.

fifah 3Cukup lama kami menikmati hawa segar di tepi sungai. Aliran air yang tenang dan jernih serta lanskap indah di sekitar sungai, menyuguhkan ketenangan tersendiri. Bahkan, kami sempat memasang tenda untuk sekedar duduk-duduk. Bagi para pendaki gunung dapat meneruskan rute mereka dengan menyusuri perbukitan di seberang sungai. Kali ini, kami tidak berniat untuk mendaki karena membawa putra saya yang masih kecil.

Mengapa Dinamai Bargejahan?

Setelah puas beristirahat di tepi sungai, kami kembali menyusuri rumah-rumah penduduk. Suasana desa mulai ramai. Warga setempat sudah melakukan aktifitas keseharian mereka. Terlihat para perempuan yang mengenakan chadur membawa hasil kebun mereka berupa sayuran dan buah-buahan lokal. Di sebuah gang kecil, saya bertemu salah seorang penduduk. Perempuan setengah baya, namanya Mahbubeh. Kami saling bersapa dan berkenalan. Seperti biasa, dia menanyakan asal negaa kami. Begitu tahu dari Indonesia, dia langsung menjabat erat tangan saya. “Saya pernah ke Mekkah dan di sana banyak bertemu orang Indonesia” Ibu Mahbubeh bercerita hangat.

fifah 5Obrolan kami pun semakin mengalir. Saya bertanya tentang asal mula mengapa desa ini dinamai Bargejahan atau daun dunia. “Nama desa ini sudah ada sejak nenek moyang kami, karena tempat ini ditumbuhi berbagai jenis pepohonan,” tuturnya penuh keramahan. Ya, pantas saja, pepohonan di desa ini memang tampak beraneka warna, apalagi di musim gugur seperti sekarang ini. Perpaduan warna hijau, kuning, kuning kecokelatan, cokelat, dan merah terlihat sangat luar biasa. Desa ini juga merupakan penghasil berbagai komoditi penting perkebunan untuk memasok kebutuhan warga Teheran kota.

Namun yang lebih menarik lagi, cerita tentang ide sebagian warga penduduk yang tinggal di luar desa itu, saling bahu membahu membuat sebuah situs resmi yang bertujuan mengenalkan potensi desa. Lambat laun, tempat ini menjadi buah bibir di dunia maya dan menarik minat banyak orang untuk berkunjung ke desa Bargejahan. Saya sendiri begitu terpikat saat membaca tulisan di situs tersebut dan akhirnya terpanggil untuk datang ke tempat ini. Tidak heran, jika suatu saat ‘desa daun dunia’ ini akan lebih dikenal dunia.

Berburu Walnut dan ‘Apel Emas’

Menyenangkan sekali melihat gundukan walnut yang masih bercangkang keras berwarna kecoklatan. Pemilik kios itu langsung membuka beberapa dan diberikan kepada kami. Rasanya renyah dan gurih. Berbeda dengan walnut yang biasa dijual di toko-toko maupun pasar. Kadang ada yang terasa agak pahit dan hambar.

fifah 6

Buah beh, foto: Afifah Ahmad

Di salah satu sudut lain, saya melihat tumpukan buah berwarna kuning dalam baskom. Setelah saya dekati, ternyata itu adalah buah beh (quince). Sepertinya, baru saja dipetik dari pohon karena masih terlihat segar dan berbulu halus. Buah ini hanya ada di musim-musim tertentu, yaitu pada awal musim gugur. Buah beh berasal dari wilayah Asia Selatan-Barat seperti Uzbekistan, Iran, Turki, dan lain-lain. Biasanya diolah menjadi manisan atau selai. Bisa juga dimakan langsung, meskipun dagingnya sedikit keras. Karena bentuknya yang mirip apel namun berwarna kuning keemasan, sering juga disebut ‘apel emas’.

Ciri khas buah beh, kalau digigit akan meninggalkan wangi. Konon, pada jaman Yunani kuno, buah ini selalu menjadi ritual wajib saat pesta pernikahan. Pasangan pengantin akan memakan buah ini sebelum memasuki kamar pengantin. Buah beh juga sudah ada pada resep masakan bangsa Romawi. Bahkan, dalam mitos-mitos kuno, beh dipercaya sebagai buah khusus yang diturunkan dari surga. Jauh merentang ribuan tahun setelahnya, warga penduduk Bargejahan juga menanak nasi dibubuhi buah ini.

fifah 7

Walnut, Foto: Afifah Ahmad

Di dalam mobil, pembicaraan tentang buah beh masih menjadi topik hangat. Saya bertanya pada Shadiq tentang kepercayaan masyarakat Iran, katanya kalau ibu hamil memakan buah beh, anaknya akan menjadi cantik atau ganteng. Seperti mendapat pertanyaan yang sangat ditunggunya, Shadiq sontak menjawab sambil menunjukkan foto di ponselnya. “Betul sekali. Ini lihat foto anak saya, cantik kan? Karena sewaktu hamil ibunya makan buah beh.” Bila Anda penasaran, terutama bagi ibu-ibu yang sedang hamil, silahkan dicoba. (AfifahAhmad/LiputanIslam.com)

 

*Penulis adalah travel-writer, pernah menerbitkan buku berjudul “The Road to Persia”, tinggal di Teheran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL