Makam Sayyidina Ali

Makam Sayyidina Ali

LiputanIslam.com — Kondisi di Irak masih belum kondusif akibat masih adanya bentrokan antara Tentara Irak dan pasukan suku-suku lokal melawan kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah. Meski demikian, redaktur senior Aktual.co Satrio Aris Munandar berhasil masuk ke Irak, berziarah, dan mengamati kehidupan masyarakat di Negeri Seribu Satu Malam tersebut secara langsung.

Berziarah ke Makam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Nabi Ayub as

Karena berkah dan karunia Allah Swt, Rabu, 4 Maret 2015, saya bisa berziarah ke kota Najaf, kota suci Muslim Syiah di mana terdapat makam Sayidina Ali bin Abi Thalib, sahabat dan menantu Nabi Muhammad Saw yang oleh penganut Syiah dihormati sebagai Imam pertama. Sayang, oleh penjaga saya tidak boleh memotret di dalam makam. Saya hanya boleh memotret bagian luar. Makam ini sangat luas dan ada masjid yang bersebelahan dengannya. Sekedar info, pintu masuk menuju makam Ali bin Abi Thalib itu terbuat dari emas murni! Dan bukan cuma ada satu pintu itu untuk menuju makam Ali, ada beberapa gerbang (pintu) lain.

Tempat Sayyidina Ali ditikam saat shalat

Tempat Sayyidina Ali ditikam saat shalat

Inilah tempat sahabat Nabi Muhammad SAW dan Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib sholat di masjid Kufah, pada saat ia ditikam oleh seorang munafik. Ini tragedi pertama bagi para Muslim, khususnya Muslim Syiah. Akibat tikaman itu, Ali pun wafat dan sebelum wafatnya menantu Nabi Muhammad SAW itu mengatakan; “Demi Tuhan yang memiliki Kabah, aku telah mencapai kemenangan!”

Saya yang lemah dan hina ini juga diberi kesempatan berdoa di makam Nabi Ayub as, di selatan Irak, dalam perjalanan menuju Najaf. Saya berdoa agar oleh Allah SWT diberi kesabaran dan kesembuhan dari semua penyakit, seperti yang dialami Nabi Ayub as.

Istana Saddam Hussein yang Terlantar

Bekas istana Saddam Hussein, mantan Presiden Irak yang digulingkan dan dihukum mati pasca invasi pasukan Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, kini terlantar, terbengkalai, dan terlihat tidak terawat. Saddam ketika berkuasa punya beberapa istana. Bekas istana Saddam ini adalah yang terletak di wilyah Babylon, sekitar 90 km selatan Baghdad, ibukota Irak.

Makam Nabi Ayyub as

Makam Nabi Ayyub as

Ketika invasi pasukan AS mau masuk ke kota Baghdad pada 2003, pasukan AS menggunakan istana Saddam ini sebagai basis dan akomodasi untuk pasukan . Istana itu kini terlihat seperti gedung megah di atas bukit, tetapi isinya kosong melompong.
Temboknya penuh coretan dan kumuh. Tidak ada satu pun perabot yang tersisa, dan tampaknya isi istana sudah habis dijarah pada 2003. Meskipun istana ini bertingkat, pengunjung tidak bisa naik ke lantai atas, karena tangga untuk naik ditutup dengan kawat berduri.

Kini bekas istana Saddam ini hanya menjadi obyek wisata, tapi juga terkesan tidak dikelola serius. Ketika saya berkunjung ke sana, hanya sedikit wisatawan lain yang berkunjung dan mereka semuanya juga warga Irak. Tidak terlihat satu pun wisatawan asing.

Pernikahan Sunni-Syiah Adalah Hal Biasa

Pernikahan antara warga Muslim Syiah dan Sunni adalah hal yang biasa saja di Irak. Hal itu sudah berlangsung puluhan tahun, dan masih terus berlangsung sampai sekarang. Bagi masyarakat awam di Irak, perbedaan Sunni dan Syiah tidak pernah menjadi isu serius. Hal itu disampaikan beberapa staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Baghdad.

Bekas Istana Saddam Hussein

Bekas Istana Saddam Hussein

“Kalau dibandingkan dengan konteks Indonesia, pernikahan antara warga Sunni dan Syiah di Irak kira-kira sama dengan pernikahan antara warga Nahdlatul Ulama dengan warga Muhammadiyah, atau dengan warga Persis,” ujar seorang Staf KBRI yang kebetulan menganut Sunni, dan lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir, jurusan teologi.

“Sesudah menikah, masing-masing ya tetap dengan kepercayaannya. Kalau mau jujur, warga Syiah di sini sebetulnya umumnya tidak sangat ketat dalam masalah agama, dan tidak terlalu peduli dengan isu-isu perbedaan agama. Ya, kalau ditempatkan dalam konteks Indonesia, Islam KTP-lah! ” tambahnya.

Diakui, dalam masalah pertarungan politik di parlemen dan pemerintahan Irak, isu Sunni dan Syiah ini sempat mengemuka. Namun, persaingan itu pun sebetulnya longgar. Buktinya, ada kelompok Syiah yang berkoalisi dengan kelompok Sunni, dan keduanya sama-sama menentang pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri yang Syiah. Sementara perpecahan dan persaingan di antara sesama kelompok Syiah sendiri juga cukup keras.

Salah satu masjid Sunni di Irak

Salah satu masjid Sunni di Irak

Adakah Syiahisasi di Irak?

Seorang diplomat lain tertawa geli, ketika ditanya tentang “Syiahisasi” di pemerintahan Irak. “Bagaimana bisa? Di Irak, Perdana Menterinya Syiah, tapi Presidennya dan Ketua Parlemennya Sunni. Sedangkan di jajaran anggota parlemen dan kabinetnya, separuhnya Syiah dan separuhnya Sunni. Padahal kalau melihat jumlah penduduk, Syiah itu justru mayoritas, sampai 60 persen,” ujarnya.

Pertentangan Muslim Sunni dan Syiah di Irak sebetulnya lebih banyak merupakan komoditi dan kepentingan para elite politik. Jika dilihat pada kehidupan sehari-hari warga Sunni dan Syiah, mereka biasa hidup bertetangga dengan baik, tidak bermusuhan satu sama lain.

Para diplomat Muslim –yang kebetulan penganut Sunni– memberi contoh, warga Sunni bisa sholat di masjid Syiah dan diterima baik. Tidak ada masalah. Sebaliknya orang Syiah juga bisa sholat di masjid Sunni, dan juga tidak dipersoalkan.

“Mungkin semula kita membayangkan, akan ada masalah. Soalnya orang Syiah kalau sholat kan menggunakan keping tanah dari Karbala untuk tempat sujud. Tetapi ketika mereka menggunakan ritual itu di masjid Sunni, saya lihat jamaah Sunni yang ada di masjid juga cuek saja. Artinya, hal itu tidak dipersoalkan,” ujar seorang diplomat.

Salah satu restoran di Baghdad

Salah satu restoran di Baghdad

Menurut data, penganut Syiah adalah mayoritas di Irak, sekitar 60 persen. Sedangkan penganut Sunni sekitar 40 persen. Di Irak juga terdapat penganut Kristen, Yazidi, dan lain-lain. Etnis Arab dominan di Irak, tapi juga ada etnis Kurdi yang cukup besar.

Wow, di Irak ada Ikan Soekarno

Nama Presiden pertama Indonesia, Soekarno, ternyata sangat populer di berbagai negara, khususnya negara Asia dan Afrika yang pernah terjajah dan berjuang melawan penjajahan. Di Irak, misalnya, terdapat ikan air tawar yang disebut ‘ikan Soekarno’.

Di Irak, ‘ikan Soekarno’ itu adalah ikan yang sejenis dengan ikan mas di Indonesia, tetapi umumnya berwarna hitam, bukan kuning. Ikan ini biasa dijadikan santapan lezat, dan yang dijual biasanya berukuran besar, setidaknya beratnya sampai 1 kilogram.

Ada berbagai versi tentang asal muasal nama ‘ikan Soekarno’ ini. Versi pertama mengatakan, ketika berkunjung ke Irak sekitar tahun 1960, Presiden Soekarno membawa bibit ikan itu dari Indonesia, lalu bibit ikan diserahkan dan dikembangbiakkan di Irak.

Versi kedua mengatakan, sebetulnya ‘ikan Soekarno’ itu adalah ikan lokal yang sebelumnya memang sudah ada di Irak. Namun, sebagai penghormatan untuk Bung Karno atas kepemimpinannya yang menginspirasi kemerdekaan banyak bangsa di Asia dan Afrika, Soekarno diberi kesempatan melepas ikan itu dan lantas ikan itu pun dinamai ‘ikan Soekarno’.

Catatan perjalanan berserta foto disalin dari akun Facebook Satrio Arismunandar.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL