Pemandangan Laut di Kawasan Denarau, foto: Syam Asinar

Pemandangan Laut di Kawasan Denarau, foto: Syam Asinar

Fiji, sebuah negara kepulauan di kawasan Pasifik Selatan. Meski terdiri dari sekitar 300 pulau, luasnya hanya 18,242 km2, kurang lebih tiga kali luas wilayah DKI Jakarta. Daratannya yang dikelilingi samudra memiliki tanah yang subur. Ditambah dengan iklimnya yang tropis membuat tanaman tumbuh subur di Fiji. Karena itulah sejak awal abad ke-19, bangsa Inggris banyak membuka perkebunan di negeri ini. Banyaknya tenaga kerja kontrak yang dibawa Inggris dari India, juga menjadi jalan penyebaran agama Islam ke negeri ini.

Para perempuan Fiji, foto: Syam Asinar

Para perempuan Fiji, foto: Syam Asinar

Sehari setelah perayaan Maulid Nabi disesuai kalender nasional Fiji ––beda satu satu hari lebih dulu ketimbang di tanah air–– saya sedang berada di kota Nadi yang berada di pesisir Barat pulau terbesar di Fiji, Viti Levu. Di sana saya singgah ke Nadi Jamee Masjid. Mesjid terbesar di kota Nadi, yang berada di tepi Queen’s Road. Dari pusat kota, mesjid ini dapat dicapai dengan 10 menit berjalan kaki. Saat saya tiba, mesjid ini tampak sepi.

Populasi umat muslim di negeri kepulauan di Pasifik Selatan ini memang sedikit. Hanya sekitar 7 persen dari sekitar 850.000 jiwa penduduk Fiji. Kristen adalah agama dengan jumlah pemeluk paling banyak di Fiji (64,5% populasi). Hindu menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbanyak kedua (28% populasi). Sisanya, pemeluk Sikh, dan kepercayaan lain.

Pintu depan Mesjid Jami Nadi, foto: Syam Asinar

Pintu depan Mesjid Jami Nadi, foto: Syam Asinar

Sebagian besar pemeluk agama Hindu, Islam, dan Sikh adalah warga Fiji keturunan India, atau biasa disebut Indo-Fijian. Mayoritas penduduk kota Nadi adalah warga Indo-Fijian ini. Karena itu Nadi juga menjadi pusat bagi agama Hindu dan Islam di Fiji.

Islam datang ke negeri ini memang melalui para pekerja paksa dan buruh kontrak dari India. Merekadidatangkan Inggris untuk bekerja di perkebunan tebu dan pabrik gula, antara tahun 1879 – 1920. Inggris mendatangkan hampir 70 ribu pekerja dari India. Sebagian besar beragama Hindu, dan banyak pula yang beragama Islam. Terutama pekerja kontrak yang diangkut dari kawasan Kalkuta, Madras, Punjab, bahkan dari Baluchistan di Afghanistan. Karenanya tak heran selain Hindu dan Islam, kebudayaan India, mulai dari musik, pakaian, makanan, pun sangat kental di Fiji. Film-film produksi Bollywood juga sangat disukai di sini.

Muslimah di Fiji, foto: Syam Asinar

Muslimah di Fiji, foto: Syam Asinar

Meski sistem kuli kontrak dihapuskan pada tahun 1920, tetapi arus kedatangan kaum muslim dari India tetap berlangsung. Terutama melalui para migrant dari Gujarat.

Diceritakan, kaum muslim Fiji awalnya beribadah secara sembunyi-sembunyi. Sampai satu dekade sejak kedatangan mereka di negeri dengan 300-an pulau ini, barulah ajaran Islam dilaksanakan secara terbuka. Kini ada sekitar 200-an mesjid dan sekolah Islam tersebar di negeri Fiji. Perempuan berjilbab pun mudah dijumpai di pasar dan pusat kota.

Mesjid Nadi Jamee memiliki dua lantai. Tangga yang lebar seolah mempersilakan kaum muslim untuk naik ke lantai kedua. Tak satu pun orang terlihat di sana. Beberapa ekor burung kecil, lebih besar sedikit dari burung gereja hinggap di karpet abu-abu. Sepanjang persinggahan saya di Fiji, burung-burung liar di sini terkesan jinak. Tapi begitu saya hendak memotret, mereka kabur menjauh melalui lubang-lubang jendela selebar 3 meter dan tak berdaun.

Jendela besar tak berdaun, foto: Syam Asinar

Jendela besar tak berdaun, foto: Syam Asinar

Lubang jendela, sebenarnya rongga antar tiang yang tak diberi dinding, membuat mesjid ini nyaman. Berada di dalam mesjid membuat panasnya udara iklim tropis yang seharusnya terasa mulai menggigit kulit, sedikit reda. Adem.

Dengan menghitung lubang jendela yang berada saya menaksir luas mesjid. Sisi panjang ber lubang jendela 13, sedang sisi lebar 12. Dengan lebar tiap lubang jendela sekitar 3 meter, luas mesjid lebih 1400 dari meter persegi.

Lantai atas mesjid Nadi Jamee ini terbagi dua. Ada ruang terbuka yang luas. Di dua sudut kiri bangunan, jika dilihat dari arah utama, terdapat keran air wudhu berbaris. Ada bangku-bangku dari semen agar orang dapat berwudhu sambil duduk. Satu ruangan lain tertutup yang menempati kurang lebih sepertiga luas bangunan. Di sana terdapat mihrab.

Tempat wudhu berbangku, foto: Syam Asinar

Tempat wudhu berbangku, foto: Syam Asinar

Jam masih menunjuk pukul 11.30. Masih dua jam sebelum shalat Dzuhur. Saya menunaikan shalat sunah Tahiyatul Masjid dan berkirim doa. Rasanya cukup menentramkan jiwa. Sekaligus membuat badan terasa lebih segar setelah menghadapi terpaan suhu udara di bawah garangnya matahari siang kota Nadi. Sumuk betul.

Ladies Salaat Hall

Seusai shalat sunah, saya turun ke lantai bawah melalui tangga kecil yang ada di dalam mesjid. Tampak seorang bapak sedang mengepel lantai. Ternyata lantai bawah adalah ruang shalat untuk jemaah perempuan. Ladies Salaat Hall, demikian tertulis di depan pintu di samping tangga utama. Pintu masuk ke ruang shalat lantai bawah.

Ketika memutuskan berjalan keluar mesjid, barulah tampak seorang lain. Muslimah keturunan India melintas. Menuju ke dalam mesjid. Saya pun menoleh ke belakang, ke masa lebih seabad silam. Membayangkan saat Islam pertama kali datang ke pulau ini. Ketika muslim harus sembunyi-sembunyi untuk beribadah. Syukurlah, sekalipun tergolong minoritas, umat muslim Fiji kini dapat beribadah secara terbuka tanpa kendala. (Syam Asinar Radjam/LiputanIslam.com)

 

*penulis adalah praktisi pertanian organis yang senang menulis dan saat ini sedang melancong di Republik Kepulauan Fiji.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL