jalanan di Ganjnameh (foto: AI)

jalanan di Ganjnameh (foto: AI)

Oleh: Aura Illya*

Saya ingat, hari itu hari Kamis pagi. Saya dan Aras, partner kerja saya, memulai perjalanan dari Tehran menuju kota kecil Toyserkan di provinsi Hamedan dengan melalui jalan-tol Tehran-Saveh. Kami berniat menziarahi makam Nabi Hayqooq di Toyserkan. Saya dan Aras menyetri bergantian. Sambil menyetir, saya mengenang obrolan saya dan teman-teman di pusat pendidikan bahasa Persia bagi orang non-Iran, di Dekhoda, Universitas Tehran. Topik obrolan saat itu adalah tentang tempat-tempat menarik di Iran yang ingin dikunjungi oleh masing-masing pelajar.

Seorang teman sekelas, Monica, menyatakan keinginannya untuk mengunjungi tempat-tempat kuburan nabi-nabi di seantero Iran, khususnya nabi-nabi dari Bani-Israel. Monica adalah seorang Yahudi Polandia yang baru saja satu musim menikah dengan lelaki Yahudi Iran dan bermaksud menetap di Iran untuk selamanya. Monica tampak termasuk sebagai orang Yahudi yang cukup taat pada agama yang dianutnya.

Keinginan Monica itu membuat hati saya pun turut tertarik untuk menjelajahi keberadaan kuburan nabi-nabi di seantero Iran. Kemudian saya ketahui dari berbagai informasi bahwa konon sedikitnya ada 27 orang nabi dikuburkan di seantero Iran! Nabi-nabi ini baik dari kalangan non-Bani-Israel, mau pun dari kalangan Bani-Israel.

Seorang dari sekian orang nabi yang disebut oleh Monica ketika itu adalah Nabi Hayqooq (atau Hayaquq atau Habaquq atau Habakkuk) as yang konon mempunyai kisah hidup cukup unik.

Nabi Hayqooq as

melewati gunung bersalju (foto: AI)

melewati gunung bersalju (foto: AI)

Arti dari nama Hayqooq atau Habakkuk adalah ‘dipeluk’. Nama ini diberikan kepada beliau berdasarkan peristiwa yang terjadi pada kehidupan beliau. Pada masa ciliknya, Nabi Hayqooq beliau pernah sakit keras dan bahkan kemudian sampai meninggal-dunia. Lalu seorang nabi yang hidup di masa itu, yaitu Nabi Alyasa (Elisha) as yang merupakan penerus dari Nabi Ilyas (Elijah) as, memeluk beliau sambil berdoa dan meminta kepada Allah SWT untuk menghidupkan beliau kembali. Allah SWT mengabulkan doa Nabi Alyasa as dan menghidupkan beliau kembali. Bahkan kemudian Allah SWT menjadikan beliau sebagai seorang nabi dari sekian banyak orang nabi dari kalangan Bani-Israel. Nabi Hayqooq juga merupakan seorang dari sekian orang penjaga dan pengurus kuil Nabi Sulaiman as di Jerusalem.

Ada doa yang disunnahkan dibaca di bulan Rajab, bernama Doa Amal Ummi Daud. Doa ini diajarkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq as.Di dalam doa ini ada satu bagian yang mengirim shalawat kepada nabi-nabi Allah SWT –baik yang tersebut dalam Al Quran atau tidak– dengan menyebutkan nama mereka secara rinci. Nama Nabi Hayqooq as juga disebut dalam doa itu.

Perjalanan Tehran-Saveh-Hamedan yang terdiri dari Tehran-Saveh melalui jalan-tol dan kemudian dari Saveh-Hamedan melalui jalan biasa yang berjarak total sekitar 350 km itu berhasil kami lalui dalam jangka waktu sekitar 5 jam. Kami sempat beristirahat untuk makan siang di suatu restoran-kebun. Kami makan dengan menu sangat standar ala restoran Iran: nasi dengan kabab, salad, moust (yoghurt) dan minuman dough (minuman sejenis yoghurt encer dengan daun mint).

kebab, nasi, dan moust (foto:huffingtonpost.com)

kebab, nasi, dan moust (foto:huffingtonpost.com)

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Toyserkan, dengan rute lewat Ganjnameh. Jalannya banyak naik-turun dan berkelok-kelok seperti layaknya jalan-jalan di daerah pegunungan. Ada banyak air terjun di sana, juga ada banyak gua. Di musim dingin memang biasanya di daerah ini banyak salju dan di bagian tertentu malah dipakai orang untuk bermain ski. Kami membawa rantai untuk ban mobil kami, jadi kami sudah bersiap siaga untuk menghadapi salju di jalan.

Kali ini Aras yang menyetir mobil, karena saya ingin menikmati pemandangan panorama pegunungan di waktu musim dingin yang penuh salju. Saya selalu suka dengan salju. Sepanjang jalan kami melewati banyak kebun, banyak rumah dengan arsitektur indah dan banyak restoran-kebun. Keluar dari Ganjnameh, jalan mulai makin kecil, sempit dan makin tajam naik-dan-terus-naik dan berkelok-kelok, mengingatkan saya pada jalan menuju dataran tinggi Dieng di Jawa-Tengah. Bedanya, di sini gunungnya penuh tertutup dengan salju cukup tebal. Di atap mobil-mobil lain yang lalu-lalang banyak yang membawa perlengkapan dan  peralatan untuk ski. Dan memang di beberapa lokasi di sepanjang jalan saya lihat ada orang-orang yang bermain ski. Di bawah sana terlihat bentangan kota Hamedan, sangat indah.

makam nabi hayqooq dr kejauhan (foto:AI)

makam nabi hayqooq dr kejauhan (foto:AI)

Perjalanan benar-benar mengesankan hingga sekitar 10 km sebelum desa Sataneh setelah melewati suatu Resort Ski yang cukup besar dan ramai. Tiba-tiba kami tak menemukan lagi mobil-mobil lain yang lalu-lalang. Hingga akhirnya kami sampai di suatu tempat kelokan jalan dimana di hadapan kami  ada bulldozer besar menghalangi jalan dan ada papan bertulisan besar : “Jalan ditutup karena ada longsoran salju menutupi jalan dan menyebabkan jalan menuju Sataneh terputus” … “Desa Sataneh terisolasi longsoran salju!”

Ini artinya, kami sudah melakukan perjalanan sekitar 25 km naik-dan-terus-naik dan berkelok-kelok di daerah pegunungan yang penuh salju, tapi akhirnya terpaksa berbalik arah!Tak ada pilihan lain lagi, kami harus kembali lagi ke Hamedan lalu mengambil rute alternatifmenuju Toyserkan, yaitu lewat Malayer. Kesabaran kami menempuh perjalanan jauh ini akhirnya membuahkan hasil. Dari kejauhan, tampaklah kubah yang saya impikan itu: kubah mausoleum Nabi Hayqooq. (LiputanIslam.com)

(bersambung ke bagian kedua)

*Aura Illiya adalah warga Indonesia yang sedang bekerja di Teheran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL