Di depan Istana Montaza (foto: Ahmad MZ)

Di depan Istana Montaza (foto: Ahmad MZ)

Oleh: Ahmad Muhakam Zein*

Mendengar kata Alexandria, kebanyakan orang mengenalnya sebagai kota pariwisata yang terdapat di negeri Seribu Menara, Mesir. Kawasan pesisir di ujung utara Mesir ini memang menjadi salah satu ikon andalan destinasi wisata Mesir. Kota yang didirikan oleh Iskandar Zulkarnain ini menyuguhkan sehamparan pantai yang indah memanjang. Mulai dari pantai di kawasan taman Montazah yang luas nan eksotis, hingga benteng Qaitbay yang berdiri indah nan gagah. Hamparan panorama bibir pantai yang terkapling rapi oleh para warga setempat itu kini rata-rata berbayar untuk masuknya. Namun, dengan tarif masuk yang masih relatif murah (mulai 10-30 EGP atau dikurskan sekitar 18-55 ribu rupiah), kita akan menerima fasilitas kursi, payung pantai untuk berteduh atau kafetaria dengan kemasan dan tarif yang berbeda-beda. Setiap harinya, ribuan manusia selalu memadati kawasan sepanjang pantai Alexandria untuk sekadar menikmati panorama, memancing ataupun berenang tatkala liburan musim panas.

Para wisatawan yang memadati kawasan pantai Alexandria didominasi oleh wisatawan domestik alias pribumi Mesir. Hal itu lumrah karena karakteristik masyarakat Mesir umumnya memang menyukai kegiatan rekreasi atau jalan-jalan bersama orang-orang terkasih maupun keluarga. Suhu politik dan keamanan yang belum jua stabil, tentunya termasuk faktor yang membuat sektor pariwisata Mesir cenderung lesu di banding tahun-tahun sebelum revolusi. Padahal untuk menjadi destinasi wisata, kota Alexandria punya beberapa objek yang tergolong indah dan menarik. Sebut saja taman Montazah dan benteng Qaitbay yang sudah saya singgung di awal, istana Salamlek dan Haramlek Raja faruk, perpustakaan Biblioteka Alexandria, Planetarium, taman Ma’murah, serta area belanja murah di Mansyiah atau Khalid.

menanti senja (foto: Ahmad MZ)

menanti senja (foto: Ahmad MZ)

Bagi mahasiswa asing al-Azhar dari benua Asia ataupun Afrika, rihlah ke Alexandria biasanya diniati untuk berlibur sekaligus berziarah. Sebab selain indah, di kota wisata bahari ini terdapat makam nabi Danial, sahabat Abi Darda, syekh Abu Abbas al-Mursyi, syekh Syarafuddin al-Bushiri (penulis kasidah Burdah), dan makam-makam ulama besar Islam lain yang kebetulan wafat di Alexandria. Di kota ini pula terdapat beberapa tarekat serta kegiatan belajar-mengajar (talaqi) yang diampu oleh para syekh terkenal di Mesir. Di antaranya pengajian dan tarekat yang langsung dibimbing oleh syekh Mohammad Ibrahim Abdul Ba’its al-Kattani, pakar hadits kontemporer Mesir, maupun oleh syekh Abdussalam Syita dan syekh ‘Ala Musthafa Na’imah. Di tulisan edisi selanjutnya, insya Allah akan saya suguhkan detail ihwal objek-objek wisata religi ataupun non religi di kota Alexandria.

Kota Senja nan Eksotis

alexandria4

pantai Alexandria (foto: Ahmad MZ)

Usai menjalani musim ujian yang melelahkan, kota Alexandria menjadi sebuah target pasti yang terbersit di benak saya dan diamini kawan-kawan serumah. Begitu ujian terakhir kelar, tugas-tugas selesai dan jadwal kegiatan ekstra kurikuler masih belum berjalan, saya langsung meluncur menuju stasiun Ramsis untuk memesankan tiket kereta tujuan Alexandria.

Dari kota Kairo, perjalanan menuju Alexandria bisa ditempuh menggunakan kereta api, tramco (sejenis colt), maupun bus. Seperti halnya di Indonesia, kereta api menjadi sarana transportasi yang paling digemari masyarakat. Jika tidak memesan tiket beberapa hari sebelumnya, kemungkinan besar kami akan kehabisan tiket. Kecuali kalau kami sengaja mau naik kelas ekonomi yang tiketnya bisa langsung bayar di atas kereta. Di Mesir, kelas-kelas keretanya pun sama seperti di Indonesia, ada kelas ekonomi yang tiketnya cukup ditebus dengan 8,5 EGP (Rp. 15.000), ada kelas bisnis seharga 21 atau 35 EGP (sekitar 38-62 ribu rupiah), ada pula kereta kelas eksekutif Asbani yang jika dibanding harga tiket eksekutif di Indonesia masih jauh lebih murah, yaitu hanya 45 EGP (Rp. 80.000). Bila ingin menikmati angkutan transportasi selain kereta, kendaraan tramco atau bus umum bisa menjadi pilihan yang lumayan nyaman. Dengan perjalanan 3 hingga 4 jam-an dan biaya 35 EGP (Rp. 62.000), kita sudah akan dihantarkan ke kota Alexandria.

alexandria5

pantai Alexandria (foto: Ahmad MZ)

Setelah mendapatkan tiket kereta di tangan, kami langsung berangkat menuju stasiun Ramsis yang jaraknya dari flat kami hanya sekitar 15 menit. Jadwal kereta yang saya pesan sengaja dipilih jam sepuluh-an pagi. Agar, setelah sampai Alexandria, kita masih bisa istirahat sebentar. Baru sore harinya kita akan menuju kawasan pantai montazah, menikmati keindahan senja dari sana. Begitu waktu menunjukan pukul 10.05, kereta sudah meluncur cepat menuju Alexandria. Hanya butuh waktu tiga jam untuk sampai di kota pesisir yang dahulu pernah menjadi Ibu kota Mesir itu. Jam satu siang, kami sudah sampai stasiun Masr Alexandria. Kami pun langsung berganti naik kereta super ekonomi menuju kediaman salah seorang kawan yang tinggal di Alexandria. Jarak tempuh selama 45 menit, cukup diganti dengan ongkos tiket kereta yang super murah, yakni satu pound alias Rp. 1.800, 00. Sebuah realitas yang mengingatkan saya pada kereta ekonomi lokal di daerah saya, Cilacap Jawa Tengah yang kini sudah dipensiunkan.

pantai Alexandria (foto: Ahmad MZ)

pantai Alexandria (foto: Ahmad MZ)

Jam dua siang, kami sudah sampai di rumah Syarif Abdurrouf, mahasiswa al-Azhar cabang Thantha (kota sebelah Alexandria), tapi rumahnya di Ashafira Alexandria. Pukul lima sore, kami pun mulai memburu senja di pantai taman Montazah. Tiket untuk bisa menikmati senja via taman Montazah per orang 8 EGP atau sekitar 15 ribu rupiah. Begitu masuk, kami langsung dihadapkan pada sehampar taman yang besar nan rapi. Sebelum sampai bibir pantai, kami juga melewat istana Salamlek dan Haramlek Raja Faruk yang berdiri kokoh nan megah.

Setelah lumayan jauh berjalan, akhirnya kami bisa menikmati panorama senja kesumba Alexandria. Sungguh keindahan eksotis yang menyegarkan otak dari kepenatan dan kegalauan yang sebelumnya mengakrabi kepala. Panorama dan keindahan senja tidak sebatas matahari yang sedang syahdu menujui peraduannya. Tapi, senja adalah mozaik keelokan alam integral yang paling purna pada tiap harinya. Panoramanya terbukti juga menjadi medium yang tepat bagi kami untuk berkontemplasi atas karunia Tuhan yang tak terperi (LiputanIslam.com).

*mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo, Mesir; simak tulisannya sebelumnya Indahnya Ramadhan di Mesir dan Idul Fitri di Mesir.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL