DSC_0343

Masjid Ali al-Jamam, foto: Mu’hid Rahman

Bahnasa, desa bersejarah di provinsi Alminya, 16 kilometer sebelah barat Bani Mazar menjadi tujuan dari 350 orang lebih peserta Holy Tour ke-9, sebuah agenda tahunan PCINU Mesir yang dibingkai dalam ziarah makam dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Dulunya, Bahnasa bernama Permezet (bahasa Mesir Kuno), sedangkan pada zaman Yunani dan Romawi, ia dikenal dengan nama Oxyrhynchus.

Kami berangkat dari Kairo pukul 07.30 pagi dengan 7 buah bus. Sesuai catatan sejarah, di Bahnasa terdapat banyak masjid — yang salah satunya bahkan melebihi usia masjid al-Azhar, yaitu masjid Hasan Shalih, cucu Sayyidina Husein. Namun, hanya masjid Ali al-Jamam yang dipugar menjadi besar, luas, dan modern. Di masjid ini kami menunaikan salat berjamaah — diteruskan dengan berbagai kegiatan, mulai dari shalawatan, tahlilan, hingga makan siang bersama.

Makam 5000 Sahabat

DSC_0359

Kubah Uqbah ibn Nafi’, foto: Mu’hid Rahman

Banyaknya peserta tour dan sempitnya area makam, mengharuskan kami membentuk 3 rombongan, dan rombongan saya kebagian menziarahi makam Ziyad ibn Abi Sufyan ibn Harits ibn Abdil Muthalib — setelah sebelumnya menziarahi makam seorang qadhil qudhat (hakimnya para hakim) yang bermazhab Maliki. Untuk mengenang beliau, namanya lantas diabadikan di masjid tempat singgah kami, Ali al-Jamam. Di sebelah makam Ali al-Jamam terdapat beberapa makam putra Aqil ibn Abi Thalib, seperti Jakfar dan Ali.

Kami lantas menuju kompleks makam Ahli Badr (beberapa sahabat Nabi Saw yang berjuang di Perang Badar), dan dari kejauhan terlihat kubah besar dikelilingi banyak nisan. Ternyata, disanalah makam putra Uqbah ibn Nafi’ yang bernama Muhammad. Namun, belum sampai di kubah itu, kami diperintahkan untuk berhenti oleh pihak kemanan yang mengawal perjalanan kami. Sempat bersitegang, kami hampir saja diperkenankan mendekat ke area Ahli Badr. Namun akhirnya, beberapa kakek yang menjadi juru kunci makam pun tidak bisa membantu kami memenangkan negosiasi dengan polisi.

Saya penasaran, dan mencoba bertanya pada salah satu dari mereka, “Ada apa, Pak?”

“Ada beberapa masalah,” jawab seorang polisi yang tidak berseragam dinas dengan mimik tak berkenan ditanya lagi.

DSC_0356

Pohon Maryam, foto: Mu’hid Rahman

Akhirnya kami cukupkan berziarah pada Ahli Badr dari jarak agak jauh. Daerah ini mendapat julukan Baqi’ Kedua [Baqi’: kompleks makam mayoritas sahabat, terletak di Madinah]. Ada begitu banyak makam sehingga tidak mungkin dikunjungi satu persatu.

Berdasarkan catatan sejarah, sebuah sumber menyatakan bahwa ada 70 sahabat Ahli Badr yang dimakamkan di sini — sedangkan riwayat lain menyatakan hanya 10. Namun diketahui namanya dengan jelas hanya empat orang. Ribuan lainnya baik itu sahabat, tabi’in, dan seterusnya tidak diketahui identitas jelasnya.

Sebelum beranjak pergi, kami sejenak berpose di Pohon Maryam. Konon, pohon rindang ini menjadi tempat berteduh Sayyidah Maryam saat berusaha menghindar dari Raja Herodes, raja Yahudi yang menitahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki demi mengantisipasi ramalan tentang akan adanya seorang lelaki yang kelak mengguncang kerajaannya.

Ada 3 Pohon Maryam di Mesir yaitu di Bahnasa, Mathareyah, dan Heliopolis. Sebagian ulama berkeyakinan pohon itu masih asli, sebagian lagi mengatakan bahwa pohon yang asli sudah mati.

Makam Tujuh Perempuan dan Sumur Penuh Berkah

DSC_0439

Sambutan masyarakat, foto: Mu’hid Rahman

Tidak sampai 10 menit, bus kami tiba di Makam Tujuh Perempuan. Menurut cerita turun-temurun, tujuh perempuan itu ikut berperang dalam pertempuran kaum muslim melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 22 Hijriyah. Ketujuhnya beragama Kristen-Koptik, tiga makam berada di luar kubah, tiga berada di dalam, dan satu di tepi sumur sebelah barat.

Ketujuh perempuan itu membantu mendistribusikan air minum, makanan, dan perbekalan lain yang dibutuhkan untuk pasukan muslim yang berada di bawah komando Qays ibn al-Harits, utusan Amr ibn Ash untuk pembebasan wilayah Sha’id (daerah selatan Mesir).

Di tengah peperangan yang semakin sengit akhirnya mereka memilih ikut berlaga di medan peperangan. Hampir tak ada yang ingat pada mereka sampai peperangan benar-benar berakhir. Jasad mereka ditemukan dan akhirnya dimakamkan di area itu. Dikabarkan, mereka dibunuh oleh pasukan Romawi.

DSC_0443

Sumur penuh berkah, foto: Mu’hid Rahman

Sedangkan juru kunci yang diwawancarai situs berita Youm7 juga memberikan keterangan tambahan bahwa makam ini disebut Sab’u Banat (Tujuh Perempuan) karena memang yang ada sekarang ini berjumlah tujuh makam. Selebihnya, wallahu a’lam

Kami disambut dengan lantunan shalawat oleh penduduk sekitar. Mereka membuat lingkaran, menabuh dufuf (sejenis rebana), sementara salah satu dari mereka lantang membaca syair yang berisi shalawat Nabi Saw maupun pujian tentang Tujuh Perempuan.

Saya, bersama seorang teman mengunjungi sumur yang terkenal penuh berkah. Tak jarang, warga Mesir yang ingin mencari berkah menggunakan air sumur ini untuk cuci muka, membasuh tangan, maupun minum. Sebagian orang percaya air sumur ini diberi keistimewaan oleh Allah Swt:  dapat menyembuhkan penyakit dan mempermudah mendapat momongan. Dalam hal ini, saya selangkah lebih maju dari mereka yang menuduh kita tak boleh memanfaatkan benda bertuah. Toh, tuah-nya berasal dari Tuhan.

Air sumur tersebut berasa asin seperti air laut. Menurut teman, ada mitos bahwa air sumur ini berasal langsung dari Laut Rumania, tapi tentu saja ini tidak masuk akal. Saya cenderung mengatakan mitos itu berasal dari penduduk setempat yang oleh teman saya disalah-artikan menjadi Rumania. Rumania dalam bahasa Arab juga merujuk pada Kekaisaran Romawi. Ada benang merah sejarah antara pejuang Bahnasa, sumur ini, dan pasukan Romawi. Dan Rumania, jaman dulu termasuk wilayah kekaisaran Romawi.

 

Tanah Ajaib

DSC_0427

Tanah ajaib, foto: Mu’hid Rahman

Tempat ini menyedot perhatian banyak peserta termasuk saya. Disebut tanah ajaib lantaran mampu membuat orang yang membujur diatasnya bergulingan sebagaimana halnya dengan Jabal Magnet (Magnetic Hill) di Arab Saudi. Hanya saja, Tanah Ajaib ini tidak sekuat Jabal Magnet yang kabarnya mampu menggerakkan mobil.

Konstruksi tanahnya agak miring patut disangsikan oleh orang yang belum mencoba. Sedangkan saya mencukupkan diri dengan melihat dan mendengar pengakuan beberapa kawan yang telah membuktikannya. Merasakan panas yang menyengat, bergulingan di pasir, membuat saya merasa cukup untuk melihat saja. Lagipula, ada yang mengatakan bahwa khasiatnya sama dengan Sumur Sab’u Banaat, sama-sama mempermudah mendapat momongan, saya kan masih bujangan. Hehe..

Suatu hari, almarhum Syaikh Abdul Halim Mahmud, Grand Syaikh ke-44 berziarah ke Bahnasa. Belum kedua kaki menginjak tanah, beliau melepas alas kaki yang dikenakan. “Bagaimana aku tidak melepasnya sedangkan aku hendak melangkah di atas tanah yang dulunya diinjak para sahabat dan dipenuhi darah syuhada?” jawab beliau pada seorang yang bertanya.

Dalam suatu riwayat Sahabat Amr ibn Ash berkata bahwa sesungguhnya Nabi Saw bersabda, “Tidak ada tanah yang lebih berkah setelah Mekkah, Madinah, al-Quds, dan at-Thur selain tanah Mesir. Keberkahan itu ada di sisi barat.” Kemudian, Amr ibn Ash berkata, “Barangkali itu Bahnasa.” (Mu’hid Rahman/LiputanIslam.com)

Mu’hid Rahman, tercatat sebagai mahasiswa al-Azhar jurusan Syariah Islamiyyah tahun kedua, menulis di zuwayla.blogspot.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL