jamaran-2.Berada di bawah kaki gunung Alborz, Jamaran seolah tersembunyi dari hiruk-pikuk kesibukan kota Teheran. Udara dingin dan tetesan air hujan tak mengurangi semangat kami menyusuri jalan kecil menuju pintu masuk kompleks, karena mobil hanya boleh parkir di ujung gang.

Melewati pintu gerbang, pengunjung akan diperiksa ketat. Pemeriksaan semacam ini memang kerap dilakukan di beberapa mausoleum dan tempat-tempat penting lainnya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Serombongan pemuda dan anak-anak berkerumun di depan pintu pemeriksaan. Seorang pemuda Iran mendekat dan menyapa kami. Ia melepas syal kotak-kotak putih dan memberikannya kepada Mehdi, putra saya. Senyum keceriaan terpancar dari wajah pemuda itu. Kelihatannya, dia senang sekali, ada turis asing yang menziarahi rumah pemimpin yang dicintainya.

Husainiyah

Husainiyah, adjamaran-1alah bangunan pertama yang akan dijumpai para pengunjung. Husainiyah ini dibangun oleh Sayid Ibrahim Jamarani pada tahun 1896. Tak ada kesan kemegahan arsitektur, bahkan terlihat sangat sederhana. Luas seluruh bangunan hanya sekitar 350 meter persegi. Karpet biru yang terpasang di atas lantainya adalah jenis karpet termurah yang pernah saya lihat. Pintu, jendela, dan tiang-tiangnya pun sangat biasa. Menurut cerita yang saya dengar, saat akan diserahkan kepada Imam, penduduk setempat bermaksud merombaknya, tapi Imam lebih memilih apa adanya.

Meski secara fisik Husainiyah Jamaran tampak sederhana, namun tempat ini menjadi saksi sejarah paling penting di Iran. Di tempat inilah, dahulu Imam Khomeini menyerukan orasi-orasi dan fatwa-fatwa yang menggetarkan tahta kekuasaan Barat.

Di Husainiyah yang sama, hari ini saya melihat puluhan remaja duduk melingkar. Khusuk mendengarkan mentor mereka bercerita. Mengenang kembali perjalanan sang Bapak Revolusi. Saya menyaksikan bagaimana transformasi nilai-nilai semangat juang antar generasi berlangsung.

Menjelang siang, romjamaran-3bongan lain mulai berdatangan. Beberapa keluarga kecil yang membawa anak-anak dan bayi mereka terlihat memasuki ruangan Husainiyah. Rombongan lainnya, ibu-ibu mengenakan abaya dan berbicara dengan logat Arab yang kental. Mereka menatap lekat setiap sudut Husainiyah, seolah sedang menghayati potongan-potongan sejarah yang pernah terjadi di sini. Sementara kami segera berkemas untuk menuju museum yang terletak di bawah bangunan Musalla.

Di museum itu, pengunjung dapat melihat rekam jejak perjalanan Imam Khomeini. Foto-foto klasik yang mendokumentasikan kehidupan Imam, terutama aktivitas sosial politik, terpampang di sepanjang koridor. Sebuah perpustakaan mungil juga terdapat dalam museum. Memuat berbagai karya Imam Khomeini maupun karya berbagai tokoh tentang Imam. Kalau sedang beruntung, pengunjung akan memperoleh poster-poster kecil dan beberapa buku saku. Setelah puas berkeliling, kami menuju bagian terpenting kompleks ini, yaitu rumah Imam Khomeini.

Antara Jamaran dan jamaran-4Niavaran

Seluruh pasang mata tertuju pada sofa tua yang tertutup kain putih dari balik kaca. Di atas sofa itu, terlihat cermin besar, payung, dan tumpukan buku-buku. Di sinilah tempat tinggal Imam Khomeini. Tadinya Imam ditempatkan di sebuah apartemen, namun ia memilih pindah ke rumah kontrakan di Jamaran ini, yang hanya berukuran 40 meter, termasuk halamannya. Sederhana. Ya, bahkan teramat sederhana untuk ukuran rumah seorang pemimpin negara.

Rumah di Jamaran ini menjadi antitesis dari kemewahan istana Niavaran, sebuah titik terindah di Teheran. Pepohonan berjajar rapi dilatari pegunungan yang indah. Luas kompleks sendiri mencapai 11 hektar. Kaki saya terasa pegal saat mengunjungi tempat yang sekarang menjadi museum itu. Ada beberapa bangunan istana dalam komplek tersebut. Salah satu gedung utama memiliki luas sekitar 9000 meter persegi yang terdiri dari tiga lantai. Di lantai pertama, terdapat aula yang besar, ruang penerima tamu, dan ruang makan. Sementara kamar-kamar dan ruang pakaian berada di lantai dua dan tiga.

Posisi dan perabotan dalam ruangan istana dibiarkan utuh sebagaimana awalnya. Sehingga pengunjung bisa membayangkan betapa mewahnya istana Niavaran saat itu. Hampir semua barang-barang yang menghiasi istana ini berasal dari luar negeri. Mungkin hanya karpet yang masih buatan lokal. Ketika saya memasuki ruang makan, berbagai perlengkapan makan tertata utuh di atas meja. Dari keterangan yang tertulis menyebutkan, perangkat makan itu ada yang dilapisi emas serta perak dan diimport langsung dari Perancis. Kemewahan lain tergambar lewat dekorasi interior, mebel, juga koleksi pakaian anggota istana.

istana shah pahleviNamun, kemewahan itu sekarang hanya menjadi saksi bisu keangkuhan istana. Sudah lama tempat ini ditinggalkan oleh penghuninya. Orang-orang datang ke sini hanya untuk membuktikan kehidupan glamor keluarga Pahlevi yang tertulis di berbagai buku maupun media. Tak sedikit malah yang mengaitkan kekayaan raja ini dengan kesenjangan kuat ekonomi yang terjadi di Iran saat itu. Kalaupun ada yang terpesona dengan berbagai koleksi peninggalan Shah Reza Pahlevi, hanya sekedar pujian biasa tanpa kesan mendalam.

Sebaliknya, banyak orang, bahkan tokoh yang memiliki kesan membekas setelah melihat rumah Imam Khomeini. Asra Ahmad Foad, reporter koran Yowm al-Sab Mesir, menceritakan kekagumannya saat mengunjungi rumah Imam Khomeini: “Ini sungguh luar biasa, saat mendapati rumah pemimpin tertinggi Iran ternyata hanya berupa kamar yang digunakan untuk menjalankan roda kenegaraan sekaligus melakukan pertemuan dengan orang-orang dari seluruh dunia” Ungkapan senada juga disampaikan oleh Ahmad al-Sharif, Imam masjid utama di Provinsi Zhejiang, Cina. Tidak terkecuali, tokoh-tokoh Indonesiapun banyak yang penasaran dengan rumah Imam. Pada 1991, Amin Rais, mantan Ketua MPR RI juga pernah datang ke tempat ini.

Pesan kesederhanaan dari Jamaran ini, telah memberikan teladan etika seorang pemimpin. Tugas utama pemimpin adalah melakukan yang terbaik untuk rakyatnya, bukan mencari kesejahteraan diri dan keluarganya. Selama mentalitas ini belum terbukti pada setiap pemimpin, maka pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme hanya akan menuai jalan buntu.(Afifah Ahmad/LiputanIslam.com)

*penulis tinggal di Teheran, pernah menulis buku berjudul “Road to Persia”

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*