Oleh : Syahrin Harahap**

Syahrin

Terorisme merupakan bentuk kejahatan internasional yang melanda umat manusia di dunia ini. Ancamannya membahayakan semua negara dan juga semua agama. Indonesia sendiri, termasuk negara yang menjadi imbas isu terorisme global, dimana sekelompok orang melakukan tindakan pemboman di beberapa tempat di Indonesia. Karena pelakunya beridentitas Islam, maka seolah terdapat kesan terorisme itu identik dengan keislaman. Di sini ancamannya membahayakan agama. Sehingga Islam pun tercemar oleh kelompok teroris yang berlindung di balik kedok agama ini. Untuk itu meluruskan makna terorisme, mengenal bentuknya dan memastikan bahwa Islam itu menolak terorisme menjadi keharusan umat Islam yang masih menyimpan asa bagi kedamaian di dunia. Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, seorang cendekiawan muslim dari Medan ini yang berjuang secara konsisten bagi  kerukunan umat beragama melalui Teologi Kerukunan yang digagasnya, menjelaskan dengan tegas bahwa Islam menolak terorisme dalam segala bentuknya. 

——————

Terorisme dalam aksi-aksi dan tujuannya sangat erat kaitannya dengan media informasi. Dilihat secara demikian, maka tujuan utama terorisme bukanlah kehancuran atau kematian itu sendiri, tetapi bagaimana kehancuran dan kematian itu menjadi sebuah “panggung tontonan” lewat media cetak, elektronik, atau digital yang diharapkan kian dahsyat pula efek ketakutan, kengerian, dan trauma yang ditimbulkannya.

Terorisme juga dapat berkembang menjadi pertukaran simbol (symbolic exchange) atau perang simbol (syimbolic war), yang di dalamnya ketakutan, kehancuran, dan kematian dijadikan sebagai pertanda (signifier), yang diharapkan memproduksi makna tertentu (signified), misalnya dengan adanya kasus Legian Bali, maka Indonesia diklaim sebagai sarang terorisme. Makna itu lalu dapat dipertukarkan dengan unsur lain (simbolik atau bukan), misalnya, akses investigasi atau militer negara tertentu ke wilayah teritorial seperti Indonesia.[i]

Lebih jauh, terorisme telah menjelma menjadi semacam “ideologisasi teror”, dalam rangka menciptakan kategorisasi siapa yang teroris dan siapa yang bukan teroris.

Ideologisasi teror telah menciptakan apa yang disebut dengan “kesadaran palsu” (false consciousness) pada tingkat psikologi masyarakat global, melalui distorsi informasi besar-besaran tentang terorisme di dalamnya.

Pengalaman para penulis, serta opini-opini berbagai kalangan di berbagai media, koran, dan internet, menunjukkan Amerika Serikat adalah sebuah negara yang secara historis amat menguasai infrastruktur media global, dan sering menggunakannya untuk menciptakan distorsi informasi dan kesadaran palsu tentang terorisme. Bahkan, Chomsky menyebut Amerika Serikat sebagai “sang teroris yang berteriak teror”.[ii]

Ideologisasi teror oleh Amerika Serikat berlangsung dalam kerangka politik kekuasaan “politik imagologi” (imagology politics), politik penciptaan citra palsu atau ilusi (illusion) tentang sebuah fenomena seperti terorisme, dalam rangka memperlihatkan superioritas demokrasi Amerika, melalui mekanisme “pemaksaan secara halus” (symbolic violence).

Kalau demikian halnya, tampaknya pendapat Piliang dapat diterima bahwa fenomena terorisme global akan selamanya digiring ke dalam semacam “citra cermin” (mirror image) yang mematrikan kesadaran masyarakat global pada sebuah konotasi (distorted connotation) tentang terorisme misalnya : Palestina, Iran, Irak, dan Korea Utara dengan terorisme dan semoga jangan sampai termasuk Indonesia.

Dalam kondisi demikian, dunia politik internasional seperti dikatakan Walter Truett Anderson[iii], akan tetap terkurung dalam sebuah “teater realitas” yang di dalamnya bahan-bahan baku politik seperti peristiwa teror (yang boleh jadi sengaja diciptakan), dikemas apik dalam sebuah narasi dan pencitraan untuk kemudian diceritakan dan dipertontonkan di hadapan masyarakat global, dan kita pun—dengan percaya diri—menyebutnya realitas teror.

Terorisme dan Kejahatan Bermotif Kebencian

Dalam tingkat tertentu juga terorisme dapat disebut sebagai kejahatan bermotif kebencian, atau setidak-tidaknya disulut oleh kejahatan bermotif kebencian, suatu fenomena yang saat ini sering muncul dalam kehidupan anak manusia, terutama dalam pergaulan antar kelompok.

Dalam terjadinya suatu kejahatan bermotif kebencian, pelaku dan korban tidak berdiri sebagai individu tetapi masing-masing mewakili kelompok yang terbentuk atas dasar kesamaan tertentu, perbuatan jahat yang dilakukan pelaku bersumber dari prasangka atau sikap penilaian negatif kelompoknya terhadap korban sebagai wakil kelompok lain yang menjadi sasaran kebencian.

Itulah sebabnya korban tindak kejahatan bermotif kebencian seringkali adalah orang-orang yang tidak bersalah, bahkan tidak tahu apa-apa, atau kesalahan karena kebetulan memiliki ciri atau bahkan kebetulan memiliki persinggungan dengan kelompok sasaran kebencian.

Kejahatan bermotif kebencian ini bisa muncul disebabkan beberapa faktor, di antaranya :

Pertama, sekedar iseng atau sengaja mencari kesenangan sekaligus pamer kekuatan dan kekuasaan. Salah satu contoh sederhana adalah berbagai bentuk vandalisme yang dilakukan remaja kota besar atas rumah atau harta benda lain milik warga etnik minoritas, dan dalam skala lebih besar mungkin dapar dilihat dalam kejahatan suatu negara kepada negara lain yang lebih kecil dan lemah.

Kedua, dengan dalih mempertahankan wilayah kekuasaan, kebencian penduduk asli terhadap warga penantang baik yang memiliki kesamaan etnik maupun yang berbeda ras etnik, dan termanifestasikan dalam kekerasan sehingga memicu kerusuhan.

Ketiga, dengan dalih melaksanakan misi suci untuk membasmi segala bentuk penyakit masyarakat. Berbagai tindakan sweeping swakarsa tanpa wewenang publik terhadap orang-orang atau tempat yang dianggap sebagai sarang kemaksiatan baik yang terorganisasi maupun spontan.

Keempat, dengan dalih melakukan retalisasi atau pembalasan. Hal tersebut bisa dilihat umpamanya dalam berlarut-larut konflik horizontal di tanah air, yang antara lain disebabkan oleh unsur lingkaran setan balas dendam.[iv]

Faktor lain yang cukup signifikan dalam menyulut terjadinya tindakan-tindakan teror adalah ucapan yang bermotif kebencian, yang kian membudaya di tengah masyarakat. Sebab seringkali tindakan teror muncul akibat adanya ucapan dan istilah-istilah pejoratif, baik dalam skala kecil maupun yang berskala luas.

*Sumber tulisan : Syahrin Harahap, Islam Menolak Terorisme, makalah disampaikan pada seminar “Kupas Tuntas Terorisme” oleh Pusat Kajian Islam Kontemporer, IAIN SU Medan.
**Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA adalah Guru Besar IAIN Sumatera Utara Medan dan Direktur Istiqamah Mulya Foundation.


[i] Yasraf Amir Piliang, “Politikus Horrobilis, Hantu-Hantu Terorisme” dalam Kompas, 21 Oktober 2002.

[ii] Ibid.

[iii] Walter Truett Anderson, Reality Isn’t What It Use to Be, 1990.

[iv] Bandingkan A.Supratiknya, Teror, Kejahatan Bermotif Kebencian?” dalam Kompas, 25 Oktober 2002.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL