Moskow, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut koalisi anti-ISIS yang dipimpin Amerika Serikat telah mengetahui jual beli minyak ilegal yang dilakukan ISIS, namun mereka sengaja menampik untuk alasan yang tidak diketahui.

“Saya yakin mereka melihat semuanya, tetapi entah apa alasannya, mereka memilih tidak melakukan apapun (untuk menghentikan-red). Jet tempur Rusia mulai mengebom para kriminal tersebut ketika mereka mulai beroperasi di Suriah,” ujarnya, saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Moallem, seperti dilansir Presstv, (1/12/2015).

AS dan sekutunya bersikap selayaknya orang buta yang tidak mengetahui fakta di lapangan.

“Dan tentu saja, bukan sebuah kebetulan jika Turki menjadi gugup, setelah tangki-tangki minyak curian ISIS dibom oleh jet tempur kami,” jelasnya lagi.

Seperti diketahui, Rusia telah melancarkan serangan udara untuk memerangi ISIS dan teroris lainnya di Suriah sejak akhir September atas permintaan resmi dari pemerintah Suriah. Selain itu, Angkatan Laut Rusia juga berkontribusi memerangi teroris dengan menggunakan rudal yang diluncurkan dari Laut Kaspia.

Sementara itu, koalisi anti-ISIS pimpinan AS telah menggempur Suriah dan Irak sejak tahun lalu, namun tidak efektif. Justru, serangan ini menyebabkan wilayah yang dikuasai ISIS semakin meluas. (Baca: Bashar al-Assad: Akibat Serangan Udara AS, Wilayah yang Dikuasai ISIS Meluas)

Laporan PBB tentang Perdagangan Minyak ISIS

Selain ini, Rusia juga telah mengajukan proposal kepada PBB, meminta agar badan PBB menyiapkan laporan terkait jual-beli minyak curian ISIS.

“Kami berharap Dewan Keamanan PBB akan menyempatkan untuk menggali informasi ini. Kami juga telah mendesak agar hal ini dimasukkan ke dalam agenda pembahasan, kami benar-benar membutuhkan kejelasan,” ujarnya.

Mengacu pada Draft Rusia Resolusi 2199 yang diadopsi oleh PBB, Lavrov menyatakan bahwa transaksi minyak dengan grup teroris di Suriah dan Irak adalah tindakan terlarang.

Karena itulah, ia benar-benar mengecam pemerintah Turki yang telah berkolaborasi dengan ISIS dan membeli minyak dari teroris tersebut. (Baca: Liku-liku Minyak, Berawal dari ISIS Berakhir di Israel)

“Turki secara berkelanjutan membiarkan ISIS mengekspor dan menyalurkan minyak curian dari Irak dan Suriah, lalu minyak ini dijual ke negara-negara lain. Sama halnya dengan gandum dan kapas.”

Lavrov juga mencatat bahwa teroris ISIS sengaja membongkar mesin pabrik di Aleppo, lalu mengirimnya ke Turki untuk dirakit kembali.

“Sebagai ganti dari mesin pabrik tersebut, ISIS menerima senjata dan dibiarkan lalu lalang.”

ISIS mendapatkan dana dari berbagai sumber. Diantaranya adalah dengan penjualan minyak, penjualan barang-barang antik Suriah dan Irak ke para kolektor kaya di kawasan Teluk Persia, melakukan perampokan terhadap bank-bank di kota yang mereka kuasai, juga dari uang tebusan yang mereka terima dengan melakukan penculikan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL