radikalismeDi tengah ketegangan dan dinamika perpolitikan Timur Tengah, gerakan Islam radikal Timur Tengah semakin  menanamkan pengaruhnya di belahan dunia lain. Pengaruh tersebut juga merembes ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Kondisi yang tak stabil dan informasi yang simpang siur mempermudah tersulutnya rasa kebencian terhadap negara-negara dan kelompok-kelompok yang sedang berkonflik, sehingga memudahkan al-Qaida maupun gerakan lainnya untuk merekrut dan membuat kelompok-kelompok baru yang juga muncul di Indonesia, baik bercorak kekerasan atau partisipan. Jamaah Islamiyah (JI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Forum Aktivis Syariat Indonesia (FAKSI), Komunitas Umat Islam Bekasi (KUIB), Harakah Sunniyyah Masyarakat Islami (HASMI), dan lainnya yang dikatakan memiliki afiliasi dengan Timur Tengah dan organisasi skala internasional.

Jamaah Islamiyah (JI) telah menahbiskan namanya dengan serangkaian teror bom di Indonesia. Hal ini sudah kita ketahui bersama-sama. HTI secara resmi merupakan cabang dari Hizbut tahrir Internasional yang berpusat di Yordania. Meskipun tidak cenderung melakukan tindakan kekerasan, tetapi kelompok ini selalu menggaungkan Khilafah Islamiyah dan bertekad mengganti pemerintahan Indonesia yang Demokrasi dan Pancasila menjadi negara Islam. Begitu pula, saat ini HTI selalu menunjukkan dukungannya kepada kelompok oposisi Suriah. Adapun MMI, terdapat analisa yang kontroversial dari Sidney Jones, bahwa organisasi ini memiliki keterkaitan dengan JI Asia Tenggara dan memiliki kontak dengan al-Qaida dan juga Ayman al-Zawahiri pimpinan Jamaah Islamiyah atau Jamaah Jihad Mesir. Tapi, hal ini dibantah oleh MMI. Nasir Abbas, seorang mantan anggota JI menyatakan bahwa MMI khususnya Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar adalah pendiri JI yang memiliki kontak untuk pelatihan militer di Afghanistan dan kemudian berjuang bersama Mujahidin Afghanistan dan Pilipina Selatan. Di ajang pelatihan militer inilah para anggota JI Indonesia bertemu dengan anggota “Afghanul Arab” yang bernaung di bawah Tandzim al-Qaida. (Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal,2005 : 74-76). Kemudian JAT merupakan sempalan yang dikomandoi oleh Abu Bakar Ba’syir yang sebelumnya juga bergabung di MMI. Kelompok ini pun memiliki kecenderungan kekerasan. Sedangkan FAKSI dan KUIB dan HASMI, sebagaiman diketahui mendeklarasikan dukungan dan loyalitasnya pada gerakan radikal ISIS di Suriah.

Mencermati fenomena organisasi radikalisme dan terorisme yang lahir dari ideologi yang eksklusif ini, Laurence Pope, seorang Pejabat Koordinator untuk Perlawanan Terhadap Terorisme, pernah mengatakan, “Dua puluh tahun lalu, nasionalisme sekular adalah ideologi yang disukai di dunia Arab. Dan ideologi itulah yang dipakai teroris sebagai kedok tindakan mereka. Makin lama, ideologi Islam yang digunakan sebagai kedok oleh kaum ekstrimis.” Hal ini diperkuat seorang pejabat Amerika yang menangani masalah terorisme di Dewan Keamanan Nasional yang menegaskan, “Di mata Amerika, Islamis telah menggantikan posisi nasionalis pan-Arab sebagai otak dibalik terorisme di Timur Tengah; teroris masa kini pada dasarnya diilhami oleh agama, bukan nasionalisme.”

Lebih jauh, Prof. Richard Bulliet dari Universitas Columbia meyakini gagasan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan sebagian Muslim menunjukkan budaya fanatik dan teroristik yang tidak bisa ditoleransi atau dipahami. Bahkan nantinya, lanjut beliau, kita akan mencapai suatu kondisi yang di dalamnya orang tak lagi perlu bukti untuk meyakini bahwa ancaman teroris selalu datang dari kaum fanatik Muslim yang religius.

Namun, tidak bisa kita memukul rata bahwa ideologi agama eksklusif yang memicu munculnya radikalisme, takfirisme, atau terorisme itu hanya khas Islam, dikarenakan Islam memiliki konsepsi jihad. Sebab jihad sangat berbeda dengan terorisme. Radikalisme, takfirisme dan terorisme bisa dilakukan dengan dalih agama apapun. Itulah mengapa Graham E. Fuller dalam karyanya A World Without Islam menyatakan seandainya tidak ada agama Islam di muka bumi ini, terorisme akan tetap terjadi. Baginya, Islam tidak mengajarkan terorisme dan kekerasan yang destruktif; yang terjadi adalah Islam yang mengajarkan jihad disalahgunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik. (Masduqi, Ketika Non Muslim Membaca Alquran, 2013 : 169).

Jika kita merujuk pada historisnya, tidak hanya dalam Islam, terorisme berkedok agama juga terjadi dalam kebudayaan agama lainnya. Terorisme juga bukanlah fenomena kontemporer, melainkan telah ada sejak berabad-abad silam. Di kalangan Yahudi pada era Romawi, misalnya, tumbuh kelompok radikal bernama Sicarii yang membunuh para pejabat di sebuah wilayah yang disebut Judea. Pada masa sekarang, zionisme juga menjadi ideologi yang tak kalah sadisnya dengan Sicarii. Dalam sejarah Kristen pun dikenal Tentara Salib (Crusader) yang membantai warga Yahudi dan Muslim di Palestina demi membangun sebuah kota Kristen. Di India, kelompok radikal bernama Thuggee yang menghalalkan darah orang-orang tak bersalah guna dijadikan persembahan kepada para Dewa. Sementara itu dalam Islam sendiri, sejarah mencatat Khawarij pada era awal dan kelompok Hasyasyiyin pada era pertengahan sebagai representasi kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Selanjutnya pada era kontemporer, muncullah Alqaida dan kelompok-kelompok teroris lainnya yang dijuluki neo-khawarij karena sama-sama menempuh jalur kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Richard Booney (lihat Masduqi, 2013 : 172-173) menganalisis bahwa berbagai kelompok radikalisme, tekfirisme, dan terorisme yang mengatasnamakan agama tersebut memiliki kesamaan dalam sejumlah hal :

Pertama, teroris berkedok agama dinilai memiliki dampak yang lebih destruktif. Ini bisa dilihat pada, misalnya, aksi-aksi bom bunuh diri di Spanyol, Rusia, Israel, Maroko, Turki, Pakistan, Irak, Afghanistan, dan juga Indonesia.

Kedua, teroris berkedok agama selalu menilai targetnya sebagai kafir sehingga darahnya boleh ditumpahkan.

Ketiga, teroris berkedok agama senantiasa menggunakan atau menyalahgunakan teks-teks agama untuk menjustifikasi kekerasan yang diyakini sebagai tindakan suci dan sakral. Doktrin agama yang kaku dan absolutis menjadi semacam alat rasionalisasi bagi tindakan yang brutal dan tak manusiawi.

Keempat, para teroris berkedok agama sering mengklaim bahwa aksi kekerasan yang mereka lakukan adalah semata-mata untuk membela Tuhan dan mempertahankan agama.

Kelima, para teroris berkedok agama lebih fatal karena menganggap kelompoknya berada di pihak Tuhan, sementara musuh mereka berada di pihak setan. Dengan aksi teror, para pelakunya meyakini akan mendapatkan imbalan pahala dan kemuliaan surga. Terutama bidadari surga.

*Diambil dari berbagai sumber. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL