radikalismeSebagaimana dijelaskan sebelumnya, salah satu sebab munculnya neo-fundamentalisme adalah masuknya Arab Saudi ke jaringan Islamisme. Hal ini berangkat dari katakutan terhadap merebaknya pengaruh Revolusi Iran yang mengancam supremasi rezim Arab saudi di negaranya sendiri maupun di Dunia Islam, maka penguasa negara Petro-Dollar ini mendanai jaringan gerakan Islam. Pada tahun 1980-an, Arab Saudi membuat kesepahaman dengan Ikhwanul Muslimin Arab untuk tidak beroperasi di negara rezim Saud itu dengan konpensasi mendanai gerakan Ikhwanul Muslimin dan menjadikan organisasi tersebut menjadi penghubung gerakan Islam lainnya.

Kolaborasi antara Saudi dengan aktor-aktor Islamisme tergambar jelas dalam kasus perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Ikhwanul Muslimin mengorganisasi bantuan kemanusiaan bagi perjuangan Afghanistan dan membentuk “legiun Islami” terdiri dari para sukarelawan asal negara-negara Arab yang ingin berjihad membebaskan Afghanistan. Para sukarelawan ini dikenal degan sebuatan “Afghanul Arab”. Biro ikhwanul Muslimin terletak di Peshawar dipimpin oleh Abdullah Azzam seorang tokoh perlawanan Palestina di Yordania. Dalam kongsi ini bergabung pula dinas rahasia angkatan darat Pakistan, ISI (Inter Sevice Intellegence). Ikhwanul Muslimin dan Arab Saudi dengan dukungan AS, melakukan segala upaya, terutama menghimpun kelompok Islamis yang mendukung Sayyaf dan kemudian mendukung Hekmatyar. Selain mendanai kamp-kamp pelatihan mujahidin Afghanistan, termasuk kamp Jaji, Arab Saudi juga melatih kelompok-kelompok Hezbi di Kashmir, pejuang Moro di Philipina dan kaum Islamis Palestina. Para ulama Wahabi Arab Saudi di bawah Abdullah bin Baz, juga membangun jaringan yang serupa. Mereka bekerjasama dengan kelompok sealiran di Pakistan, yakni Ahli Hadis yang non-politis. (Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, 2005: 23-24)

Pasca perang teluk 1991, jalinan hubungan antar organisasi pendukung Islamisme dengan suplai dana Arab Saudi ini berantakan, dan semakin kacau menyusul pertikaian antar kelompok di dalam tubuh Mujahidin Afghanistan sendiri. Semenjak tergulingnya najibullah pada 1992, Afghanistan diliputi konflik internal antara faksi Hezbi Islami pimpinan Gudbuddin Hekmatyar dan jamiati Islami pimpinan Burhanuddin Rabbani. Dalam situasi ini, berbagai negara berebut pengaruh politik di Afghanistan. Karena adanya indikasi masuknya pengaruh Iran dan Uni Soviet ke dalam rezim koalisi pimpinan Burhanuddin Rabbani dan Ahmad Syah Masod, Arab Saudi dan AS yang sama-sama anti Syiah dan Uni Soviet berbalik ingin menggulingkan rezim baru tersebut. Maka mereka bersama Pakistan mendukung kelompok mahasiswa yang berkembang menjadi Taliban.

Mustafa Abdurrahman (2002: 25-31) menjelaskan, ketika Taliban berkuasa dan berkoalisi dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama binLaden yang mengagendakan terbangunnya Pan-Islamisme, maka Taliban kehilangan makna strategisnya bagi Amerika Serikat, bahkan berbalik menjadi ancaman, maka Amerika Serikat berbalik melawan Taliban. Titik kulminasi ketegangan rezim Taliban dengan AS tercapai ketika terjadi tragedi WTC dengan tertuduh Osama bin Laden. Maka AS bersekutu dengan teman sekaligus musuh lama, kelompok Burhanuddin Rabbani dan Syah Masod untuk merebut kekuasaan dan menghancurkan Taliban.

Kegagalan AS dan sekutunya mengelola pemerintahan dan keamanan di Afghanistan pasca penggulingan Taliban 2001 dan juga Irak setelah Saddam Husein lengser di 2003, menjadi momentum menguatnya aktivitas kekerasan dan teror oleh kelompok-kelompok radikal. Ini menunjukkan adanya konsolidasi besar-besaran dalam diri jaringan Tandzim al-Qaida. Di Afghanistan, kontrol dan kekuasaan Taliban masih terlihat nyata di wilayah-wilayah selatan dan perbatasan dengan Pakistan, ditandai dengan penyerangan ke pusat-pusat kekuasaan di Afghanistan. Di irak, aksi serangan roket, bom, penyergapan, pembunuhan dan bom bunuh diri seolah tidak bisa dicegah sedikitpun.

Pada awalnya, perlawanan muncul dari para pengikut setia Saddam Husein yang berbasis di Tikrit, Irak Utara. Segera saja dari kubu syiah menyusul dengan aksi massa maupun perlawanan gerilya di bawah komando Moqtada Sadr. Tak lama setelah itu muncul kelompok baru bermazhab sunni yang kemudian teridentifikasi sebagai jaringan Abu Mus’ab al-Zarqawi yang berhubungan dengan Osama bin Laden. Sepeninggal al-Zarqawi yang tewas dalam serangan AS, Abu Hamzah al-Muhajir (Abu Ayyub al-Mishri) tampil menggantikannya. Di bawah pimpinan baru, jaringan ini semakin meningkatkan serangannya.

Dalam carut marut pertikaian dan kondisi keamanan yang tidak menentu akibat kegagalan AS membangun kekuasaan politik yang baru ini, muncul masalah lain yang teramat pelik. Yakni pertikaian sektarian antara penganut Sunni dan Sy’ii. Bermula dari pengeboman Mesjid Imam Ali yang menewaskan Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim, pemimpin syiah dan ketua Dewan Tertinggi Revolusi Islam Irak beserta 82 orang lainnya. Tidak sampai disitu saja, kemudian diikuti pula dengan serangkaian serangan pada peringatan Asyura (peringatan pada 10 Muharram untuk mengenang kesyahidan Husain bin Ali) di Baghdad dan di Najaf yang menewaskan 140 pengikut syiah. Meskipun sampai hari ini belum jelas kelompok yang pelakunya, tetapi serangan itu berakibat pada kemarahan kaum syiah dan balas dendam dengan menyerang mesjid dan pemukiman sunni. Hal ini menyebabkan rantai kekerasan yang tiada putus-putusnya.

Namun, serangan atas kaum syiah ini, di duga kuat dilakukan oleh kelompok al-Zarqawi, karena sebagaimana kaum sunni radikal, kelompok ini memang anti syiah. Apalagi dipandang di mata al-Zarqaei kaum syiah telah berkolaborasi dengan AS untuk menguasai Irak. Namun ada analisis lain yang mengatakan bahwa al-Zarqawi adalah bagian dari kerja intelijen AS untuk melemahkan perlawanan rakyat Irak terhadap AS dengan membenturkan sunni dan syi’i. (Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal,2005 : 24-28)

Adapun tahun-tahun belakangan ini, Mesir dan Suriah menjadi ladang baru konflik umat Islam. Namun, kondisi Mesir tak separah Suriah. Oposisi yang mendapat dukungan besar dari AS dan juga Arab Saudi bertekad untuk menggulingkan pemerintahan Basar Asad yang mendapat dukungan kuat dari rakyatnya serta negara-negara sahabatnya seperti Iran dan Rusia. Sepertinya, kisah di Afghanistan akan terulang. Dengan bantuan dana yang kuat dari AS dan negara-negara Arab, kelompok anti Assad ini, dikomandoi oleh organisasi teroris al-Qaida dan berkolaborasi dengan faksi baru yang bernama Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), Jubhat al-Nusra dan lainnya. Sepertinya, ketegangan di Timur Tengah belum mau berakhir. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*