radikalismeIdeologi adalah sistem kayakinan yang meliputi pemikiran teoritis (nazhari) dan pemikiran prakstis (‘amali). Pemikiran teoritis berhubungan dengan benar dan salah, yakni bagaimana sebenarnya realitas, sedangkan pemikiran praktis berhubungan dengan baik dan buruk pada perbuatan manusia, yakni bagaimana seharusnya (must) dan tidak seharusnya (must not) manusia bertindak. Misalnya, tentang keberadaan Tuhan merupakan pemikiran teoritis, sedangkan pemikiran tentang bahwa Tuhan wajib disembah, merupakan pemikiran praktis. Dalam makna ini pandangan dunia tercakup di dalam makna ideologi, atau dikatakan pandangan dunia landasan bagi pemikiran teoritis ideologi, karena menjelaskan bagaimana sebenarnya dunia ini.   

Karena ideologi, secara umum berhubungan dengan pemikiran dan perilaku, maka ideologi selalu meliputi kehidupan manusia. Artinya, setiap manusia memiliki ideologi yang dipegang teguh olehnya, bahkan seseorang siap mengorbankan harta dan nyawanya demi memegang teguh ideologinya, terlepas ideologi itu benar atau salah. Itulah mengapa Istvan Meszaros (1989) menyatakan suatu hal yang jelas bahwa dalam masyarakat kita semua hal telah ‘tercelup ideologi’ baik kita sadari atau tidak.

Begitu pula, ideologi umumnya dianut oleh suatu komunitas dan menjadi landasan pemikiran dan pergerakannya. Dalam kondisi ini, idologi memasuki kancah sosial, karena ia didakwahkan untuk merekrut banyak anggota bergabung dalam komunitasnya. Jadi, ideologi dirumuskan kemudian didakwahkan. Dalam proses dakwah ini biasanya dilakukan gambaran tentang pandangan dunia dan keadaan realitas dunia yang akan ditanamkan ke dalam benak seseorang. Informasi yang tertanam tersebut akan mampu mengendalikan pemikiran dan perilaku. Bagaimana proses itu terjadi? Melalui bahasa kata Noam Chomsky.

Dalam perumusan dan penyebaran ideologi, peran bahasa sangat menentukan. Tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa ideologi membentuk dan dibentuk oleh bahasa. Dengan ideologi orang memberi makna pada realitas sosial. Untuk memudahkan penyimpanan, pemeliharaan, pengolahan dan penyampaian makna diperlukan bahasa. Pada gilirannya, bahasa tertentu—yang ditampakkan pada pemilihan kata dan kalimat—membentuk realitas sosial yang tertentu yang tertanam dalam benak manusia. Chomsky menjelaskan bahwa pikiran manusia telah dikontrol melalui penggunaan kata-kata dengan pemberian makna dan label-label tertentu atas berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ini. Sistem ini terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia bahkan di rumah kita sendiri, melalui televisi.

Lantas apa hubungannya dengan tindakan radikalisme, takfirisme, atau bahkan terorisme? Jawaban sederhananya ketiga hal itu memerlukan ideologi. Dengan ideologilah mereka mengontrol pikiran dan tindakan para anggota komunitasnya. Karena itu salah satu teori tentang munculnya terorisme adalah dikarenakan ideologi eksklusif. Dan dalam konteks komunitas agama (Islam), ideologi ini di balut dengan ayat-ayat Tuhan (Alquran). Biasanya yang menjadi ayat langganan adalah ayat-ayat tentang jihad. Pada titik ini, radikalisme, takfirisme, dan terorisme muncul dengan penafsiran yang keliru atas teks-teks keagamaan. Penafsiran ini kemudian ditanamkan pada komunitasnya dengan cara lebih mudah karena berbasis ayat-ayat suci. Di sini radikalisme, takfirisme dan terorisme telah menjadi organisasi pergerakan yang eksklusif.

Secara historis, awalnya organisasi ekslusif ini adalah organisasi yang bersifat militansi yang bercorak fundamentalisme. Namun, tidaklah lantas komunitas ini melakukan tindakan kekerasan, radikalisme, takfirisme, apalagi terorisme. Tetapi mereka memiliki kecenderungan untuk menegakkan Islam Kaffah (Islam paripurna) dalam seluruh aspeknya. Karenanya kaderisasi dan pendidikan menjadi penting. Selain itu mereka akan melakukan perlawanan, jika penguasa berlaku zalim atau bercokolnya kolonialisme dalam negara mereka. Ikhawanul Muslimin di Mesir awalnya penganut sistem ini. Hasan Al-Banna sebagai pendirinya menegaskan Tujuan utama organisasinya adalah pendidikan. Tujuan yang dicanangkan kelompok ini menunjukkan bahwa mereka tampaknya tidak memiliki maksud-maksud politik pada tahun-tahun pertama, tetapi mereka berjuang untuk kembali kepada Islam as-Salafi. Tetapi, begitu berkembang, gerakan ini harus menentukan posisi ideologisnya mengenai persoalan Islam dan politik berdasarkan pada agenda-agenda umum. Secara bertahap, gerakan ini mengembangkan ideologi yang jelas dan komprehensip sehingga sangat berbeda dengan ideologi yang menjadi titik pijaknya semula. Ideologi baru ini, didasarkan pada ajaran-ajaran yang sederhana, tetapi mengancam struktur politik yang ada. Diantara ajaran-ajaran tersebut adalah :

  1. Inklusivisme Islam. Islam adalah agama dan negara, ibadah dan jihad, ketaatan dan perintah, kitab dan pedang.
  2. Islam harus dikembalikan kepada ajaran-ajaran awalnya sebagaimna dipahami oleh pengikut-pengikut Nabi dan murid-murid mereka dari generasi salaf yang soleh (salaf as-Salih)
  3. Pan-Islam. Seluruh umat Islam adalah satu umat, dan tanah air Islam adalah satu tanah air.
  4. Konsep khilafah dipahami sebagaiman sebelumnya dan merupakan simbol kesatuan Islam.
  5. Pemerintahan Islam merupakan ajaran dasar. (David Sagiv, Islam Otentisitas Liberalisme, 1997: 29-30)

Sistem ini juga ditunjukkan oleh kelompok Hizbullah dan Amal Islam di Libanon. Mereka melakukan pendidikan dan kaderisasi, membantu masyarakat dalam skala nasional, tetapi siap juga untuk membela negaranya melawan kolonialisme. Hal ini ditunjukkan dengan perjuangan senjata melawan Zionis-Israel.

Namun belakangan berdiri organisasi-organisasi yang berbasis pada ideologis eksklusif dan cenderung melakukan tindakan pengkafiran dan kekerasan seperti sempalan Ikhwan al-Muslimin yang membentuk organisasi Jammat al-Muslimin oleh Ali Abduh Ismail; Jamaat at-Takfir wa al-Hijrah yang didirikan oleh Syukri Mustafa. Namun, model gerakan ini tidak mendapat dukungan dari senior Ikhwan yang dipenjara, karena itu mereka mengkafirkan para senior ikhwa tersebut. Tuduhan ini diangkat oleh kelompok-kelompok sempalan lainnya, dan meningkatkan kebencian di antara mereka, dengan saling menuduh kafir, sehingga sering berakhir dengan perkelahian dan kerusuhan (David Sagiv, Islam Otentisitas Liberalisme, 1997: 50-51). Selain itu terbentuk juga Tanzim al-Qaidah yang didirikan oleh Osama bin Laden, seorang warga Kaya Arab Saudi. Saat ini, kelompok ini bisa dikatakan kelompok yang mengorganisir kelompok-kelompok radikalisme, takfirisme, dan terorisme yang menyebar di seluruh dunia. Di Asia Tenggara sendiri muncullah Jamaah Islamiyah yang didirikan oleh Abdullah Sungkar yang memiliki banyak pengikut di Malaysia dan Indonesia yang juga konon memiliki hubungan dengan al-Qaida. Tentang hal ini John L. Esposito berkomentar :

“Master teroris Osama bin Laden, sebagaimana ekstremis agama lainnya, adalah produk dari pendidikan dan pengalaman hidup, dari dunia religius yang diwarisinya dan ditemukannya kembali untuk mencapai tujuannya…Osama dan teroris lainnya mengeksploitasi otoritas masa lalu sebagai landasan berpikir, preseden, dan interpretasi agamis guna mencari pembenaran dan inspirasi atas seruan jihad mereka terhadap pemerintahan-pemerintahan di negara-negara Islam dan Barat; mereka mensahkan peperangan dan terorisme, dan mereka menyamakan bom bunuh diri yang mereka lakukan sebagai aksi syuhada…sedikit banyak, Osama dan al-Qaida adalah representasi dari sebuah muara radikalisme Islam kontemporer…Osama bin Laden dan al-Qaida adalah representasi langkah besar yang berikutnya, jidah internasional, yang bukan hanya mendeklarasikan jihad melawan pemerintahan-pemerintahan di dunia Islam saja dan menyerang perwakilan-perwakilan serta lembaga-lembaga Barat di wilayah itu, namun kni menjadikan Amerika dan Barat sebagai target utama dalam suatu peperangan tidak suci, unholy war, terorisme.” (Esposito, Unholy War, 2003: viii)

Namun seperti kita saksikan, sejauh perkembangannya sampai kini, kelompok yang cenderung dengan pada kekerasan, takfirisme, dan terorisme ini tidaklah mampu mewujudkan cita-cita mereka. Menurut Oliver Roy dalam Gagalnya Islam Politik (1996 : 47) dan Imadadun Rahmat dalam Arus Baru Islam Radikal (2005 : 21), kegagalan ini dikarenakan mereka selalu terbentur dengan represi yang dilakukan oleh penguasa dan di mereka juga tidaklah memiliki banyak pendukung. Tapi, karena efek yang mereka timbulkan berpengaruh secara global, maka tentu saja menjadi perhatian dunia. Belakangan, Arab Saudi dengan kekuatan pendanaannya menyebarkan pengaruhnya di jaringan Islamisme. Maka lambat laun terjadi evolusi yang semakin mendekatkan antara Islamisme dengan pemikiran kaum fundamentalis-konservatif model wahabiyah, inilah akar neo-fundamentalisme. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*