Oleh : Syahrin Harahap**

Syahrin

Terorisme merupakan bentuk kejahatan internasional yang melanda umat manusia di dunia ini. Ancamannya membahayakan semua negara dan juga semua agama. Indonesia sendiri, termasuk negara yang menjadi imbas isu terorisme global, dimana sekelompok orang melakukan tindakan pemboman di beberapa tempat di Indonesia. Karena pelakunya beridentitas Islam, maka seolah terdapat kesan terorisme itu identik dengan keislaman. Di sini ancamannya membahayakan agama. Sehingga Islam pun tercemar oleh kelompok teroris yang berlindung di balik kedok agama ini. Untuk itu meluruskan makna terorisme, mengenal bentuknya dan memastikan bahwa Islam itu menolak terorisme menjadi keharusan umat Islam yang masih menyimpan asa bagi kedamaian di dunia. Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, seorang cendekiawan muslim dari Medan ini yang berjuang secara konsisten bagi  kerukunan umat beragama melalui Teologi Kerukunan yang digagasnya, menjelaskan dengan tegas bahwa Islam menolak terorisme dalam segala bentuknya. 

——————

Makna dan Bentuk-Bentuk Terorisme

Salah satu isu kontemporer yang menggetarkan dunia dan kemanusiaan adalah terorisme, suatu istilah yang semakin populer[i] karena telah menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kemanusiaan, peradaban, politik, ekonomi, hingga kehidupan agama.

Isu ini menyentuh kemanusiaan karena ia telah menjadi momok bagi anak manusia, menimbulkan ketakutan, kebencian, tragedi kematian moral dan suara hati. Menyentuh peradaban karena sering dikaitkan dengan peralihan kontroversi dunia dari perang dingin menjadi bentrok peradaban seperti hipotesis Samuel P. Huntington mengenai The Clash of Civilization. Isu ini juga telah menyentuh persoalan politik karena menimbulkan kekacauan politik global, nasional, dan transnasional, masa kini dan mungkin juga di masa datang.

Para pengkaji dan peneliti masalah-masalah terorisme menyebutkan adanya kesulitan untuk mendefenisikan terorisme. Juliet Lodge[ii] misalnya menyebutkan adanya problem dalam mendefenisikan isu dunia itu. Demikian juga halnya H.H. Tucker yang menyebutkan hal yang sama.[iii]

Dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World disebutkan bahwa terorisme adalah penggunaan kekerasan secara sengaja, tidak dapat dibenarkan, dan bersifat acak, demi tujuan-tujuan politik dengan sasaran orang-orang yang dilindungi. Pelakunya bisa negara, agen negara, atau perorangan yang bertindak sendiri.[iv]

Sementara dalam The Social Science Encyclopedia disebutkan bahwa terorisme adalah tindakan untuk menyebarkan intimidasi, kepanikan, dan kerusakan dalam masyarakat. Tindakan ini bisa dilakukan oleh individu atau kelompok yang menentang sebuah negara, atau bertindak atas kepentingannya sendiri.[v]

Ayatullah Syaikh Muhammad Ali Tashkiri mengedepankan defenisi yang cukup penting mengenai terorisme dan tinjauan yang diberikan tampak lebih fair dan religius. Menurutnya, terorisme adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk meraih tujuan yang tidak manusiawi dan buruk (mufsid) dan mengancam segala macam jenis keamanan, dan pelanggaran atas hak azasi yang ditegaskan oleh agama atau manusia.[vi]

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa defenisi yang diberikannya tidak mencakup :

  1. Tindakan pembelaan negara yang menghadang kekuatan musuh, penjajah dan penjarah.
  2. Perlawanan rakyat atas klik-klik yang dipaksakan pada mereka oleh angkatan bersenjata.
  3. Penolakan atas kediktatoran dan berbagai bentuk kelaliman dan usaha untuk merusak lembaga-lembaganya.
  4. Perlawanan atas diskriminasi rasial dan penyerangan pada kubu-kubunya.
  5. Pembalasan pada berbagai jenis agresi bila tidak ada alternative lainnya.[vii]

Dari berbagai jenis defenisi yang dikemukakan para ahli dan peneliti tersebut, secara umum terdapat benang merah yang menghubungkan keseluruhan defenisi dan penjelasan mengenai terorisme, bahwa aksi terorisme menyangkut penggunaan serta ancaman kekerasan untuk menimbulkan ketakutan (the use of threat of violence to create fear); juga menculik dan membunuh (to kidnap and munder people); melemparkan bom (set off boms) menyandera kapal terbang (bijack aeroplanes); mengadakan pembakaran-pembakaran (start fires); dan melakukan kejahatan-kejahatan kriminal yang sangat serius dan kejam.[viii]

Pada dasarnya terorisme adalah nafsu yang ingin memaksakan kehendaknya dengan kekerasan dan ancaman. Dilihat secara demikian maka terorisme adalah lawan demokrasi. Meskipun demikian, seperti disebut Gianfranco, terorisme sosio-politis dapat muncul di negara demokrasi dan non demokrasi. Tetapi sering muncul di negara demokratis karena atmosfir kebebasan lebih kondusif melahirkan kelompok-kelompok teroris.

radikalisme

Banyak kutipan yang dapat dikedepankan sehubungan dengan tindakan teroris dan sekaligus menjelaskan bahwa masalah terorisme adalah masalah yang sudah lama menjadi isu dunia. Sebagian di antara tindakan teroris itu adalah gerakan Ku Klux Klan, yang anti Negro, yang menggunakan teror dan pembunuhan. Demikian juga di zaman kediktatoran Hitler dan Mussolini, terorisme mereka untuk memberantas gerakan demokrasi. Di zaman Stalin, komunisme Uni Soviet menggunakan terorisme secara kejam dan tidak manusiawi.

Contoh nyata yang sekarang kita saksikan ialah zionisme Israel terhadap rakyat Palestina khususnya, dan juga terhadap penduduk Arab sekitarnya. Bahkan yang sangat tragis dan ironis, seperti disebut Roeslan Abdulgani, adalah bahwa terorisme Israel ini mendapat dukungan dan lindungan dari Amerika, yang selalu membanggakan diri sebagai negara demokrasi.[ix]

Bila dilihat dari model gerakan dan aksi-aksinya, maka jenis utama terorisme dapat dibagi tiga : terorisme revolusioner, terorisme sub-revolusioner, dan terorisme represif. Meskipun oleh Lodge kategori ini disebut sebagai over-generalis karena tidak dijelaskan karakter masing-masing.[x]

Akan tetapi kalau dilihat dari sudut pelaku dan cakupannya, maka terorisme dapat dikategorikan kepada terorisme internal dan terorisme internasional. Terorisme internal dilakukan oleh negara. Sementara terorisme internasional adalah tindakan terorisme yang melewati batas satu negara terhadap siapa dan oleh siapa, atau siapa sponsornya.[xi]

Sementara itu apabila dilihat dari sudut subjeknya, tindakan terorisme bisa dilakukan oleh individu, kelompok, dan bisa pula dilakukan oleh negara. Apabila suatut negara terlibat sebagai pelaku terorisme, seperti disebut Ray S. Cline, maka defenisi kerja terorisme dapat dirumuskan sebagai :

“Pemakaian kekerasan oleh negara dan kelompok yang berkaitan untuk mendapatkan tujuan strategis, politik atau agama, dengan tindakan kejahatan yang dimaksudkan untuk menciptakan kekhawatiran luas di populasi sasaran…tujuan utama terorisme negara zaman sekarang ini adalah merusak stabilitas psiko-sosial dan pemerintah politik negara pluralis, dengan pemerintah refresentatif”.[xii]

Sedangkan kalau dianalisis dari sudut akibat serta dampak tindakannya, maka terorisme mungkin dilakukan dalam beberapa tingkat, sebagaimana yang disimpulkan oleh Ali Tashkiri :

“Ada terorisme yang mengganggu keamanan, harkat martabat, harta milik dan lain-lain. Ada terorisme budaya yang mencabik-cabik identitas kemanusiaan, dan menyebabkan kehancuran dan ketidakpastian; ada pula terorisme informasi yang merampas kebebasan manusia menghirup udara segar. Kita dapat menyebutkan jenis-jenis terorisme lain, seperti terorisme ekonomi, terorisme ilmiah, terorisme diplomatik, terorisme militer dan lain-lain”.[xiii]

Apabila kategori yang diberikan Tashkiri dijadikan sebagai pisau analisis maka tindakan-tindakan teror atau terorisme kelihatannya bukan lagi menjadi musuh dunia, tetapi juga menjadi budaya dunia. Sebab dalam tingkat tertentu hampir semua negara, terutama negara yang memiliki watak kolonialis telah dan sedang melakukannya.

*Sumber tulisan : Syahrin Harahap, Islam Menolak Terorisme, makalah disampaikan pada seminar “Kupas Tuntas Terorisme” oleh Pusat Kajian Islam Kontemporer, IAIN SU Medan.
**Prof. Syahrin Harahap adalah Guru Besar IAIN Sumatera Utara Medan dan Direktur Istiqamah Mulya Foundation.

[i]Masalah terorisme sebenarnya bukanlah masalah yang sama sekali baru. Sebab sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa istilah ini untuk pertama kalinya muncul saat menggeloranya Revolusi Perancis pada tahun 1789-1799. Saat kelompok ekstrim yang dapat merebut kekuasaan dari kelompok moderat menggunakan kekerasan dan kekejaman luar biasa untuk menghancurkan lawan-lawannya. Lihat Roeslan Abdulgani, Terorisme Dulu dan Sekarang, Harian Waspada, 25 Oktober 2002.

[ii] Juliet Lodge (Ed), The Threat of Terrorism, (Boulder-Colorado: Westview Press, 1988), hlm. 1-10.

[iii] H.H. Tucker, Combating the Terrorist, (New York: Library of Congress Cataloging in Publication Data, 1988), hal. ix-xi.

[iv] August Richard Norton “Terrorism” dalam John L. Esposito (Ed.), The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, (New York: Oxford University Press, 1995), hal. 205-209.

[v] Gianfranco Pasquino, “Terrorism” dalam Adam Kuper & Jessica Kuper (Ed.), The Social Science Encyclopedia, Machiavelli-Eorld System.

[vi] Ayatullah Syaikh Muhammad Ali Tashkiri, The Defenition of Terrorism, dalam Al-Tawhid No. 1/vol. V, Muharram, 1408 H/1987. Dimuat dalam Jurnal Al-Huda, Vol. 1, No. 6, 2002.

[vii] Ibid

[viii] Roeslan Abdulgani, op.cit.

[ix] Ibid.

[x] Paul Wilkinson, British Policy on Terrorism : An Assessment, dalam  Julied Lodge (Ed.), The Threat of Terrorism, (Boulder-Colorado: Westview Press, 1988), hal. 29-54.

[xi] Ibid., hal. 4-5.

[xii] Ray S. Cline “Pengantar” dalam H.H. Tucker (Ed.), Combating the Terrorist (New York: Library of Congress Cataloging in Publication Data, 1988), hal. x.

[xiii] Ayatullah Syaikh Muhammad Ali Taskiri, Op.cit.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*