radikalismeTeori Keempat : Terorisme Lahir Karena Rekayasa Politik.

Terori keempat ini menyatakan bahwa terorisme muncul disebabkan oleh rekayasa pihak yang berkuasa, biasanya melalui badan intelejen rezim yang berkuasa, seperti kasus peledakan bom zaman orde baru. Atau kelompok-kelompok yang dibuat oleh Arab Saudi untuk menjaga kekuasaanya, atau oleh CIA.

Di zaman pemerintahan Soeharto, gerakan teror yang terjadi dituduh didalangi oleh kelompok Islam radikal. Karenanya pemimpin Islam yang tidak disukai dituduh mendalanginya dan dijadikan alasan untuk menangkap mereka. Rumah-rumah ibadat di Indonesia dan pusat keramaian sering menjadi sasaran peledakan bom.

Begitu pula setelah pembajakan pesawat dan peledakan WTC, Amerika menuduh tragedi ini didalangi oleh Osam bin Laden, pemimpin Alqaeda, suatu organisasi di bawah tanah untuk melawan Amerika. Akibat tuduhan Amerika terhadap Osama bin Laden yang dicurigai bersembunyi di Afghanistan dan dilindungi oleh rezim Taliban, Amerika membombardir negeri tersebut. Begitu pula, Amerika menuduh Irak dan Saddam Husein sebagai teorisme dengan menggelindingkan isu senjata pemusnah masssal, sehingga mendapat mandat untuk menyerang dan menguasai Irak. Belakangan, Amerika mencuatkan tiga negara pendukung terorisme yakni Iran, Suriah, dan Korea Utara. Jadi, isu terorisme ini diciptakan dan direkayasa oleh Amerika tidak lain untuk menguasai negeri-negeri Islam yang strategis dan memiliki sumber daya alam luar biasa.

Tentang ISIS misalnya, mantan menteri luar negeri dan ibu negara AS Hillary Clinton secara terang-terangan mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak. Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru HIllary Clinton “Hard Choice”.

Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013.

“Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Dalam buku tersebut juga diuraikan bahwa “negara Islam” itu awalnya akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara di Timur Tengah. Namun rencana itu berantakan setelah militer Mesir melakukan kudeta, Juli 2013. “Kami memasuki Irak, Libya dan Suriah, dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni – 7 Agustus di Mesir. Itu membuat segala rencana berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS, Bill Clinton, itu. (lihat http://liputanislam.com/berita/hillary-clinton-terang-terangan-akui-isis-buatan-amerika/)

Tentang teori rekayasa politik ini, Noam Chomsky menyatakan, “Negara-negara adikuasa secara sistematis dan terus menerus telah melukiskan gambaran dunia yang tertentu di dalam benak kita. Untuk memudahkan memori kita dalam menyimpan informasi, peristiwa-peristiwa di dunia itu diberi label. Pikiran manusia telah dikontrol melalui penggunaan kata-kata dengan pemberian makna tertentu.” Sistem ideologi Amerika adalah sistem yang merekayasa kesepakatan dengan menciptakan kata-kata muluk, lalu memberikan maknanya sesuai dengan kehendak sang adikuasa. Sistem ini terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia bahkan di rumah kita sendiri, melalui televisi.

Gangguan terhadap keamanan dan kedamaian selama ini lebih disebabkan oleh kepentingan politik, dan bukan karena munculnya kesadaran komunitas. Pertentangan muncul karena kepentingan-kepentingan politik. Dengan kata lain, kepentingan politik nebeng pada agama, dan kemudian politik menggunakan simbol-simbol agama. Tujuan akhir dari politik adalah power sharing, dalam pengertian bagaimana caranya mendapatkan kekuasaan.

Terorisme sering dipicu oleh kepentingan untuk memengaruhi kebijakan politik atau bahkan untuk merebut kendali kekuasaan. Kelompok teroris yang kecewa atas kondisi negara termotivasi untuk mengubah kondisi politik melalui kekerasan. Kekerasan menjadi pilihan jika kelompok teroris merasa berhadapan dengan sikap represif pemerintah, kurangnya kebebasan politik dan pendudukan asing. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL