perempuan isis

Foto: Ilustrasi

Tunis, LiputanIslam.com – Polisi Tunisia telah menangkap pasangan suami isteri mantan anggota organisasi teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ketika keduanya pulang ke Tunisia dari Suriah melalui perbatasan Libya. Keduanya kini dilimpahkan ke pengadilan.

Berbagai media Arab, termasuk Shahifah al-Marsd, Kamis (9/10) mengutip laporan surat kabar Tunisia al-Chourouk mengenai kesaksian seorang wanita berusia 30 tahun mantan anggota ISIS dan berstatus sebagai ibu dari dua anak yang satu di antaranya masih berusia sekitar dua bulan.

Disebutkan bahwa dia pergi ke Suriah bersama suaminya untuk “berjihad melawan kaum kafir”. Namun demikian, setibanya di sana dia malah terjebak dalam praktik mesum dan memalukan, yaitu hanya dalam selang waktu 27 hari dia telah melayani 100 pria anggota ISIS sebelum akhirnya dia kabur dan pulang ke tanah air setelah menempuh proses yang penuh liku. Celakanya lagi, perbuatan itu dilakukan dengan sepengetahuan suaminya.

Ibu muda yang disebutkan bernama Nourhan itu mengaku masuk ke Suriah bersama suaminya melalui Libya kemudian ke Turki dan setelah itu masuk ke wilayah Suriah melalui kota Azaz, Suriah. Atas permintaan ISIS, dia dan suaminya singgah di sebuah kawasan yang dikuasai ISIS dan di situlah sang suami membiarkan Nourhan melayani para pria anggota kawanan teroris tersebut.

Menurut Nourhan, suaminya semula berusaha menolak tapi ternyata tidak dapat berbuat banyak hingga akhirnya terpaksa menuruti kehendak ISIS demi keselamatan jiwa diri dan isterinya.

Ibu malang ini mengatakan bahwa saat itu dia “berjihad nikah” bersama 17 perempuan lain yang berasal dari berbagai negara, termasuk Mesir, Tajikistan, Cechnya, Maroko, Suriah, Perancis dan Jerman. Belasan perempuan itu diatur dan dikendalikan oleh seorang perempuan asal Somalia bernama Ummu Shuaeb.

Dia menceritakan bahwa dia terus berjihad ala perempuan ISIS itu selama hampir satu bulan. Dia berhenti menjalankan tugas nistanya itu setelah suaminya menderita luka akibat serangan udara. Dia bersama suaminya direlokasi ke Turki untuk perawatan suami yang cidera.

Rupanya, kepergiannya ke Turki kali ini mereka jadikan kesempatan untuk kabur dan pulang ke Tunisia melalui Libya hingga akhirnya mereka dicokok oleh aparat keamanan Tunisia di perbatasan.

Kesaksian ini membuat heboh “jihad nikah” menjadi terangkat lagi ke permukaan, meskipun tentu ada saja orang-orang dari lingkaran-lingkaran ekstrimis yang membantah kesaksian itu di dunia Arab, terutama di Tunisia sendiri. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL