al-sisi-egyptKairo, LiputanIslam.com – Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengaku sudah sejak satu tahun lalu mengingatkan pemerintah Amerika Serikat (AS) mengenai bahaya kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Demikian dilaporkan harian al-Ahram terbitan Mesir, sebagaimana diberitakan Rai al-Youm Senin (7/7/2014).

Al-Sisi juga menyatakan bahwa setelah menyerang Suriah dan Irak, ISIS juga akan menyerang Jordania, Arab Saudi dan Mesir. Dia juga mengingatkan bahaya seruan referendum Kurdistan Irak dan menyebutnya sebagai tindakan yang bukan hanya dapat mengoyak Irak, tetapi juga Suriah dan Jordania.

“Mesir dalam kondisi perang dan sedang menghadapi konspirasi dari berbagai pihak di dalam dan di luar negeri yang tidak menghendaki kejayaan Mesir, namun kami harus menang dan jaya. Sayang sekali, sebagian orang di dalam dan di luar negeri memandang pemecahan kembali kawasan Arab berdasar ras dan mazhab sebagai suatu keharusan,” ungkap al-Sisi.

Dia menambahkan, “Lihatlah apa yang diperbuat oleh ISIS di Suriah dan Irak. Hal yang sama juga mereka rencanakan untuk Mesir seandainya tentara Mesir bukan tentara yang tertangguh di kawasan.”

Presiden Mesir lantas mengungkapkan bahwa dia sudah mengingatkan AS sejak lebih dari satu tahun silam bahwa “ISIS akan bergeser dari Suriah, berpindah ke negara-negara sekitar, dan berusaha memasuki Jordania dan Saudi.”

Sementara itu, harian al-Youm al-Sabea melaporkan kecaman al-Sisi terhadap wacana referendum Kurdistan Irak. Dalam dialog dengan para pimpinan redaksi berbagai media Mesir dia mengatakan, “Referendum yang sekarang diinginkan oleh penduduk Kurdi tak lain adalah awal petaka pemecahan Irak menjadi negara-negara yang saling bermusuhan, dimulai dari negara Kurdi yang setelah itu meluas hingga ke Suriah yang juga dihuni oleh penduduk bersuku Kurdi, kemudian merambah lagi ke Jordania yang juga dihuni oleh penduduk seperti di Irak.”

Keinginan Kurdistan untuk memisahkan diri dari Irak juga ditentang oleh dua negara jirannya, Iran. Deputi Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian Ahad (6/7/2014) menyebut Israel sebagai satu-satunya entitas yang diuntungkan oleh disintegrasi Kurdistan.

“Kami tidak akan lupa bahwa Netanyahu adalah satu-satunya orang yang memberikan dukungan besar kepada disintegrasi Kurdistan. Namun kami tidak akan membiarkan dia meraih impiannya terhadap Irak dan kawasan,” ujar Abdollahian.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu pekan lalu menyerukan disintegrasi Kurdistan dari Irak. Seruan ini dia kemukakan bersamaan dengan konfrontasi pasukan Kurdistan Peshmerga melawan ISIS. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL