nasrallah posterBeirut, LiputanIslam.com – Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa kawasan Timur Tengah sedang berada di tahap yang sangat genting dan determinan di mana Amerika Serikat (AS) dan sekutunya sedang menerapkan strategi baru yang dijalankan oleh Zionis dan kaum takfiri untuk melemahkan dan menghancurkan berbagai negara dan bangsa Timur Tengah.

“Ada rute baru yang bertumpu pada para antek bayaran yang haus darah serta memiliki faham menyimpang dan sesat serta bertujuan menghadapkan seluruh kawasan ini dengan tragedi besar,” kata Nasrallah dalam wawancara dengan TV al-Manar Jumat (15/8) malam dalam rangka memperingati kemenangan Hizbullah dalam perang melawan Israel Juli 2006.

Menurutnya, Israel pernah mengemban misi untuk menghantam kubu perlawanan (muqawamah) di Lebanon, Palestina dan Suriah, namun kubu muqawamah Lebanon dan kemenangannya dalam dalam Perang Juli 2006 telah mengandaskan misi itu.

“Kondisi lapangan telah memaksa Israel mengerang setelah kehabisan tenaga, lalu meminta kepada AS supaya menghentikan perang… Keteguhan kubu muqawamah di lapangan, simpati rakyat kepadanya, dan kesolidan politik Lebanon telah membuat AS dan Eropa mengendurkan sikap dalam penentuan syarat-syarat penghentian perang,” paparnya sembari menegaskan bahwa perang itu telah menghasilkan membesarnya kubu meqamawah dan tertundanya serangan Israel terhadap Suriah dan Gaza.

Meski demikian, dia menambahkan bahwa semua itu bukan berarti misi AS di Timur Tengah sudah berakhir, karena AS dan Israel masih akan terus mencari-cari jalan untuk melicinkan ambisinya dengan berbagai cara sesuai fasilitas dan perkembangan yang ada.

Dia menyerukan kepada segenap pihak supaya menyorot bahaya dan ancaman ini agar dapat ditanggulangi.

“Kita semua dapat menanggulangi bahaya dan mengandaskan konspirasi apapun terhadap negara, kawasan, bangsa dan kesucian kita,” katanya.

Dia menambahkan, “Perang dan agresi Israel yang terjadi di Jalur Gaza sekarang adalah bagian dari rute baru yang sudah dimulai sejak sebelum serangan terhadap Gaza, dan sekarang Gaza adalah bagian dari rangkaian mata rantai atau bagian dari sekian tahap rute baru. Rute baru ini dibuat sesuai perkembangan dengan tujuan meraih target yang sama berupa penguasaan atas sumber-sumber minyak dan gas serta menjamin superioritas Israel.”

Nasrallah menilai stretegi yang dijalankan AS dan Israel sekarang lebih berbahaya karena targetnya bukan lagi menggulingkan suatu rezim kemudian mendatangkan rezim penggantinya, melainkan menghancurkan semua negara, angkatan bersenjata, rakyat dan entitas yang ada.

“Dikehendaki adanya peta baru regional yang terbangun di atas mayat-mayat yang termutilasi – bukan lagi mayat perorangan melainkan mayat berbagai bangsa dan negara-, di atas puing reruntuhan dan pikiran-pikiran yang sesat akibat aneka peristiwa yang terjadi atau yang direncanakan akan terjadi, dan di atas mental-mental pengecut.”

Dia menambahkan bahwa mental demikian yang hendak dibangun oleh AS untuk kawasan Timur Tengah dapat disaksikan misalnya ketika AS mengevakuasi sebagian warga yang terjebak di pegunungan Sinjar. Menurut Nasrallah, hal itu dilakukan untuk mengesankan bahwa merekalah yang dapat berbuat demikian dan bahwa bangsa-bangsa Timur Tengah membutuhkan bantuan mereka.

“Pemandangan demikian antara lain dapat kita lihat ketika helikopter AS mengevakuasi kaum perempuan dan anak-anak kecil di pegunungan Sinjar, kemudian mengatakan, ‘Inilah kaum perempuan dan anak-anak kalian.’ Kita di kawasan diharapkan terjerumus kepada tragedi, kemudian untuk lepas dari tragedi itu kita harus siap menerima segala titah, dan lebih buruk lagi ialah ketika musuh bebuyutan menjelma seakan juru selamat,” paparnya.

Dia menambahkan, “Elemen utama dalam rute baru ini ialah Israel untuk menyerang kubu muqawamah, dan yang lain adalah apa yang disebut sebagai kelompok takfiri yang wujud kongkretnya sekarang ialah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).”

Lebih lanjut dia memastikan bahwa strategi baru AS dan Israel itu dapat dipatahkan.

“Rute baru dapat diatasi, dan saya memastikan kepada semua bangsa di kawasan bahwa ini bisa dilakukan sebagaimana telah terjadi pada rute sebelumnya, namun tidak dengan harapan semata, melainkan dengan tindakan dan jerih payah,” tegasnya.

Dia menambahkan, “Pertama kita harus memahami, menyadari dan meyakini adanya ancaman nyata yang mengarah kepada kita. Orang yang mengatakan tidak ada ancaman tentu jauh dari realitas. Kita juga tidak perlu banyak bicara supaya tidak tersusupi oleh mentalitas kalah-menang akibat rasa takut sebagaimana pernah terjadi di kawasan di era invasi Mongol. Kita harus menyadari adanya bahaya beserta volume dan kapasitasnya, kemudian kita merumuskan konsep untuk menghadapi, menyudahi dan mematahkannya, dan tidak seharusnya kita mengarah kepada ilusi atau kepada opsi-opsi yang gagal. Kita harus memilih opsi-opsi yang sukses berdasar pengalaman.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL