no to isis kerenLiputanIslam.com – Ada sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah cukup lama mengemuka berkenaan dengan kekuatan kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS), terutama di tengah masyarakat Irak yang menjadi korban keganasan ISIS. Pertanyaan itu ialah seberapa kuat dan hebatkah gerombolan angkara murka yang mengatasnamakan agama Islam itu sehingga sampai terbentuk pasukan koalisi untuk menumpasnya?

Bagi kebanyakan orang Irak sendiri, gagasan Amerika Serikat (AS) membentuk koalisi yang melibatkan para sekutunya di Eropa dan Timur Tengah secara tidak langsung telah membangun kesan bahwa ISIS adalah sosok monster raksasa. Tapi benarkah ISIS sedahsyat itu? Fakta di lapangan sebenarnya tidak mendukung kesan yang hendak dibangun itu.

Tentang ini, seorang jurnalis Irak mengatakan, “Bayangkan, sebuah koalisi yang terdiri atas negara-negara kuat Barat dan kawasan Timur Tengah dengan segala perlengkapannya yang supermodern dan serba canggih telah mengumumkan perang terhadap sebuah gerombolan teroris, tapi ternyata sampai empat bulan ini mereka tidak dapat mengendalikan gerombolan ini. Apa makna dari semua ini? Ini berarti bahwa sebuah kelompok teroris di dunia dapat berhadapan dengan dunia.”

Rakyat Irak maupun khalayak dunia tentu ingat bahwa pada dekade 1990-an tentara rezim diktator Saddam Hossein yang dikenal sebagai salah satu pasukan tertangguh di Timur Tengah ternyata dapat dengan mudahnya diusir dari Kuwait oleh sebuah pasukan koalisi internasional hanya dalam tempo kurang dari 24 jam. Kemudian, pada tahun 2003, pasukan koalisi yang dipimpin AS dapat menggulung Saddam Hossein dengan partai Baathnya melalui operasi militer yang hanya berlangsung 19 hari. Karena itu, jika dibandingkan dengan kondisi sekarang, praktis setiap orang akan bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga 60-70 negara tak dapat berbuat sesuatu di depan ISIS?

Menjawab pertanyaan ini, beberapa penggalan peristiwa yang terjadi dalam perang-perang sebelumnya patut dikilas balik. Pada dua koalisi sebelumnya, AS dan sekutunya telah melancarkan 1000-2000 penerbangan jet tempurnya perhari, sedangkan sekarang hanya lima atau maksimal 10 penerbangan, itupun dengan kondisi serangan yang menggeramkan banyak orang karena berulangkali “salah sasaran” dan “tak sengaja” menimpa posisi tentara dan relawan Irak.

Di mata para pengamat, ada dua hal yang dapat ditangkap dari kenyataan dan sikap pasukan koalisi yang ada sekarang. Pertama, memompa mental para pimpinan, komandan dan petempur ISIS secara luar biasa serta memberi motivasi besar bagi para pendukung ISIS di Irak, Suriah dan berbagai belahan dunia agar turut berperang bersama ISIS. Kedua, menebar rasa cemas dan ketakutan di tengah masyarakat yang bangkit memerangi ISIS.

“Saya kira, kerjaan koalisi anti ISIS sejak awal memang lebih cenderung mengolok-olok belaka, apalagi ketika mereka melibatkan pilot-pilot perempuan Uni Emirat Arab dan Inggris, isu kekejaman ISIS dan krusialitas isu terorisme menjadi terpinggirkan serta berubah menjadi ajang propaganda,” ungkap seorang mahasiswa Irak jurusan sastra Arab kepada IRNA.

Mahasiswa Irak lain jurusan jurnalistik mengatakan, “Setelah kota Mosul jatuh, AS terlihat begitu santai sehingga ISIS menggelar pesta kejahatan, dan ribuan orangpun tewas, sementara kaum perempuan menjadi tawanan. Sejak awal AS memang tak serius. Bahkan ketika koalisi mulai beroperasi, banyak orang menganggapnya sebagai main-main belaka. Kita melihatnya sebagai perang banci dan main-main.”

Aksi main-main ini terjadi ketika kebiadaban ISIS sudah terlampau sulit digambarkan dengan kata. Mereka sangat haus darah, menebar genosida, menelantarkan penduduk, dan menjadikan kaum perempuan, khususnya dari kalangan minoritas, sebagai tawanan dan pemuas nafsu birahi.

Satu hal lagi juga patut diingat menyangkut motivasi negara-negara anggota koalisi internasional anti ISIS. Sebagian negara terlibat dalam koalisi asal-asalan ini hanya untuk bergagah ria dengan label anti terorisme, dan ada pula beberapa negara yang motivasinya hanyalah cuci tangan dari dosa-dosa ISIS. Kelompok terakhir ini tentu adalah negara-negara semisal Turki dan negara-negara Arab Teluk Persia, khususnya Arab Saudi, yang santer disebut-sebut sebagai bidan dan pengasuh ISIS.

Dengan mentalitas dan motivasi demikian, jelas tak beralasan untuk berharap pasukan koalisi akan berbuat sesuatu di tengah kencangnya isu penumpasan terorisme ISIS. Karena itu, relawan Irak ketika berhasil membebaskan beberapa kawasan penting seperti Amirli, Jurf al-Sakhar dan Jalawla, mereka segera mengumumkan bahwa AS dengan rombongan koalisinya sama sekali tidak ikut andil dalam pembebasan kota-kota tersebut.

Tidak jelas apa yang dilakukan pasukan koalisi sekarang. Tidak ada tanda-tanda mereka memiliki program dan target yang jelas dan terukur. Apa yang mereka lakukan selama ini ialah memublikasi berita sewaktu-waktu bahwa mereka telah menggempur beberapa posisi strategis ISIS. Celakanya, pasukan koalisi ternyata telah berulangkali diketahui “salah sasaran” dalam suplai senjata dari udara. Senjata yang mestinya jatuh kepada pihak yang berperang melawan ISIS malah jatuh ke tangan gerombolan teroris berfaham Salafi/Wahhabi ini. Dengan santainya mereka mengaku luput, salah dan tak disengaja, seolah publik akan segera percaya begitu saja.

Tak kalah fatalnya lagi, mereka juga berulangkali “tak sengaja” ketika roket-roket yang mereka tembakkan dari udara ternyata malah menimpa pasukan yang sedang berperang melawan ISIS. Pernah dalam satu kasus di kawasan Saqlawiyah, sebagaimana dikisahkan seorang perwira Irak, tentara dan relawan Irak yang sedang gencar-gencarnya bertempur melawan ISIS malah dibombardir oleh pasukan koalisi hingga pasukan dan relawan itu terbelah kemudian terjadi kondisi di mana sebagian di antaranya terkepung oleh pasukan ISIS. Keadaan ini menyebabkan tentara dan relawan yang tak terkepung sempat sekian lama tidak dapat berbuat apa-apa untuk memecah kepungan karena dihadang oleh gempuran udara pasukan koalisi.

Alhasil, pasukan koalisi sedemikian naif di Negeri 1001 Malam. Karena itu, tak heran apabila Wakil Ketua Parlemen Irak Humam Hamoudi belum lama ini melontarkan kecaman keras terhadap pasukan koalisi serta mengungkapkan kecurigaannya terhadap misi sebenarnya pasukan pimpinan AS ini di Irak.

Hamoudi bahkan berani memastikan bahwa tindakan pasukan koalisi justru telah memperkuat posisi ISIS di Irak maupun di Suriah.

“Ketika 60-70 negara dunia menyatakan bangkit melawan ISIS tetapi kemudian kelompok teroris ini ternyata masih tegak berdiri maka pesannya ialah bahwa ISIS adalah kekuatan besar yang mampu berhadapan dengan dunia,” kecamnya.

Pasukan koalisi telah melakukan pembodohan dengan membangun kesan sedemikian rupa. Mereka bermaksud menjatuhkan mental bangsa Irak dengan cara mengolah keadaan agar ISIS terlihat sebagai monster raksasa. Betapapun demikian, tentara dan relawan Irak terbukti tidak termakan oleh skenario Barat dan sekutunya di Timur Tengah. Mereka terus berjuang dengan gigih dan berhasil meruntuhkan mitos raksasa ISIS.

Kawasan demi kawasan telah bebas, dan kini pasukan Irak dan Kurdistan yang didukung relawan dan pasukan kelompok-kelompok adat mulai menggulung ISIS di sebagian wilayah provinsi Ninawa di bagian utara Irak, yaitu kawasan yang dijadikan ISIS sebagai pusat kekhalifahannya. Kota-kota strategis Sinjar, Tel Afar dan kawasan pedasaan Zumar sampai pintu perbatasan Rabi’ah telah bebas dan steril dari virus ISIS sehingga para pengamat mengatakan bahwa kota Mosul sudah terkepung.

Pada akhirnya, ISIS yang dimonster rakasakan  oleh Barat dan sekutunya itu tampaknya kini sudah lebih menyerupai kawanan laron yang sedang beterbangan mengitari api kematiannya sehingga para komandan operasi militer Irak memastikan bahwa jalan menuju Mosul sudah sangat dekat. (mm)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL