koalisi anti isisLiputanIslam.com – Belakangan ini dunia Arab dan Barat tenggelam dalam gempita kampanye perang Amerika Serikat (AS) terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Presiden AS Barack Obama bahkan mengutarakan strateginya untuk mengganyang kelompok brutal dan haus darah itu di Irak dan Suriah serta memastikan akan memulai serangan udara secara lebih terarah terhadap posisi-posisi ISIS di Irak dan Suriah.

Hal itu dilontarkan Washington setelah banyak kalangan di dalam dan luar negeri, termasuk Arab Saudi dan Turki, menganggap AS bertindak pasif dalam krisis Suriah.  Banyak pengamat menilai strategi AS yang semula mengalami pergeseran keluar dari Timur Tengah kini malah berbalik lagi dengan adanya pernyataan mengenai strategi kontra ISIS tersebut.

Ketika ISIS baru menyerbu dan menguasai Mosul, sama sekali tidak ada gelagat antusias AS untuk membela Irak. Washington membiarkan pasukan Irak di bawah instruksi perdana menteri Irak saat itu, Nouri al-Maliki, jungkir balik sendiri melawan ISIS. AS baru pasang badan ketika ISIS ternyata mengincar Arbil dan bahkan menyembelih dua wartawan AS James Foley dan Steven Sotloff.

Pada perkembangan selanjutnya Gedung Putih mengampanyekan perang anti ISIS yang melibatkan pasukan multinasional. Di situ AS mencanangkan strategi perang di mana pada tahap awal AS akan melancarkan serangan udara secara masif terhadap posisi-posisi ISIS di Irak dan Suriah, sedangkan untuk operasi darat di Irak diserahkan kepada pasukan Irak dan pasukan Kurdi Irak, Peshmerga, dan di Suriah diserahkan kepada Pasukan Kebebasan Suriah (FSA).

Ada beberapa catatan terkait koalisi kontra ISIS yang dikampanyekan AS sebagai berikut;

Pertama, tak seperti diklaim dalam berbagai analisasi media Barat, Iran dan AS tidak akan bisa dipertemukan di satu kubu. Dalam hal ini kaidah yang berlaku bagi keduanya bukanlah “musuhnya musuh adalah kawan”, melainkan prinsip “memilih yang buruk daripada yang terburuk”.

Sebagai musuh bebuyutan AS, Iran jelas sulit diharap akan bersedia dikondisikan dan diperlakukan seolah pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) atau terjun ke gelanggang sesuai resep Gedung Putih yang serba ambigu dan mencurigakan. Di pihak lainpun, AS masih konsisten pada pandangan mantan menlu AS Henry Kissinger yang kebetulan juga sering didengungkan lobi-lobi Zionis dan rezim Tel Aviv bahwa Iran jauh lebih berbahaya bagi kepentingan strategis AS dan Barat secara umum di Timur Tengah. Karena itu, juga terlampau tipis kemungkinan AS akan memilih bekerjasama dengan Iran.

Kedua, klaim AS terkait pertemuan kontra ISIS di Jeddah, Arab Saudi, bahwa di belakang AS telah berjajar 40 negara untuk ikut terlibat dalam operasi ganyang ISIS di Irak dan Suriah lebih menyerupai omong kosong belaka. Inggris yang notabene sekutu utama AS pun juga tidak akan berperan signifikan dalam aliansi anti ISIS. Turki yang juga anggota NATO dan seharusnya berperan kunci dalam perang anti ISIS ternyata juga kendur dan hanya menyatakan siap memberikan bantuan logistik kepada AS. Perancispun, meski sudah menyatakan siap terlibat operasi penumpasan ISIS, juga tak dapat diharap akan berperan signifikan, sebab masyarakat Perancis justru terlihat keberatan jika negaranya terlalu jauh mengekor kepada AS.

Sedangkan negara-negara Arab Teluk Persia serta Mesir, Jordania dan Lebanon juga tidak dapat diharap akan berbuat banyak untuk membantu operasi militer AS melawan ISIS. Negara-negara Arab Teluk Persia paling banter hanya akan memberikan bantuan dana operasi serta fasilitas militer untuk AS. Mesir yang masih kalang kabut akibat gejolak politik, sosial dan ekonomi jelas tidak akan bisa sedemikian aktif. Jordania yang digelisahkan oleh kelompok-kelompok Salafi/Wahabi di dalam negeri paling banter hanya bisa melibatkan diri dalam forum-forum diplomatik, bukan di lapangan. Lebanon yang tidak memiliki tentara yang tangguh lebih tidak bisa diharapkan lagi.

Ketiga, AS dan negara-negara sekutunya mengampanyekan koalisi anti ISIS sambil mempromosikan kelompok pemberonstak Suriah FSA sebagai aktor utama di medan pertempuran melawan ISIS. Namun hal yang menjadi pertanyaan ialah apakah FSA bisa diandalkan untuk melawan ISIS?

FSA terdiri atas para perwira militer yang desersi dan memisahkan diri dari angkatan bersenjata Suriah (Pasukan Arab Suriah/SAA) serta mendapat pengarahan dari badan intelijen Turki dan dukungan dana dari negara-negara Arab Teluk Persia.

FSA sudah terbukti dan diakui tak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi SAA. Mereka bahkan terlibat konflik internal yang membuat mereka kehilangan komando sentral. Hal ini membuat banyak anggota FSA mengalami disorientasi sehingga ada yang kembali bergabung dengan SAA dan ada pula yang bergabung dengan kelompok-kelompok ekstrimis seperti Front al-Nusra, Jaish al-Islam dan bahkan ISIS.

Patut pula dicatat bahwa banyak bantuan senjata untuk FSA yang akhirnya jatuh ke tangan kelompok-kelompok radikal tersebut akibat ketidak becusan FSA dalam pertempuran melawan mereka. FSA kini menjadi kelompok yang paling loyo di antara sekian kelompok yang ada di Suriah.

Atas dasar ini, pertanyaan yang muncul ialah bagaimana AS membuat pertimbangan untuk operasi militer di Suriah? Apakah karena desakan Arab Saudi pemerintah AS akhirnya membuat pernyataan yang mengharuskan penangkalan Iran dalam koalisi anti ISIS dan adanya dukungan kepada kepompok oposisi Suriah untuk penggulingan Presiden Bashar al-Assad? Secara lebih fokus lagi, apakah koalisi ini hanyalah akal-akalan Washington untuk dapat berbuat banyak di Suriah untuk menggairahkan lagi agenda lamanya; menggulingkan pemerintah Damaskus sebelum kemudian mengubah geopolitik Timur Tengah?

Keempat, dalam koalisi itu Arab Saudi berusaha berperan sebagai poros ketika sebenarnya pihak yang diharapkan Barat berperan demikian adalah Turki dengan pertimbangan bahwa Turki anggota NATO, secara militer lebih kuat serta berbatasan dengan Irak dan Suriah.

Ada dua tujuan yang diincar Saudi dari koalisi anti ISIS; Pertama, melemahkan pengaruh Iran di Irak; Kedua, menggulingkan pemerintah Suriah. Dalam konteks inilah muncul rencana supaya gerilyawan oposisi Suriah dilatih dan dipersenjatai di Arab Saudi untuk kemudian dilepaskan bertempur melawan ISIS dengan dukungan pasukan udara AS.

Kalangan diplomat menyangsikan masalah pembekalan senjata oposisi Suriah.

“Ada kekhawatiran terhadap kemungkinan senjata itu jatuh ke tangan kelompok-kelompok ekstrim atau bahkan terjadinya sebentuk persekutuan antara oposisi Suriah dan ISIS,” kata Dubes Jerman untuk AS Peter Wittig kepada New York Times.

“Kita sungguh tak dapat mengendalikan tujuan terakhir senjata-senjata itu,” keluhnya.

Pada intinya, hal yang paling bermasalah dalam strategi Obama ialah pemberian peran kunci kepada Arab Saudi yang notabene biang krisis di Timur Tengah. Sejak awal terbentuknya al-Qaeda sampai kemunculan fenomena ISIS, Riyadh diketahui selalu berperan sebagai pendukung dana dan mental kaum ekstrimis takfiri di berbagai pelosok dunia.

Kelima, kesalahan fatal AS akan terjadi ketika negara ini melakukan pelanggaran terbuka terhadap wilayah udara Suriah dengan dalih penumpasan ISIS. AS hendak mengubang perang melawan terorisme sebagai sebuah perang multinasional dengan dampak yang dapat mengobarkan lagi perang Suriah yang belakangan terus meredup seiring dengan banyaknya kemajuan pasukan pemerintah Suriah dalam proses penumpasan kelompok-kelompok bersenjata.

Agenda AS itu jelas memperlihatkan benang merah yang membedakan perang melawan sekelompok milisi yang anggotanya diperkirakan maksimal hanya sekitar 30 ribu orang dengan perang melawan sebuah negara yang didukung Rusia, Iran dan milisi tangguh Hizbullah yang berbasis di Lebanon.

Pada kesimpulannya, sasaran utama koalisi anti ISIS itu sebenarnya adalah Suriah, negara yang hingga kini dianggap masih menjadi teka-teki di tengah fenomena Arab Spring yang menggulirkan banyak perubahan di dunia Arab. Gedung Putih ingin segera menyudahi rasa penasarannya dan melihat kepastian konstruksi dan peta perimbangan kekuatan di Timur Tengah yang hingga kini masih terkatung-katung di Suriah. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL