jihad nikahKairo, LiputanIslam.com – Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta’ Misriyah) mengingatkan kepada kaum muslimat bahwa menikah dengan anggota kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melalui dunia maya atau internet adalah perilaku yang menyimpang dari syariat, dan perempuan yang melakukannya layak digolongkan sebagai teroris.

Demikian dilaporkan Rai al-Youm, Rabu (4/3/2015), sembari menyebutkan bahwa fatwa ini merupakan tindakan yang pertama kali dilakukan di Mesir untuk mencegah kepergian kaum perempuan ke luar negeri untuk bergabung dengan para ekstrimis yang menjadi anggota ISIS.

Lembaga Fatwa Mesir menyatakan bahwa fatwa ini terkait dengan kepergian ratusan anak gadis di bawah umur ke berbagai kawasan yang dikuasai ISIS sebagai respon atas kampanye ISIS di dunia maya.

Dalam siaran persnya lembaga itu menyatakan pihaknya telah “memantau ajakan ISIS di laman-laman internet dan jejaring sosial terhadap anak-anak gadis untuk menikah dengan para ekstrimis ISIS melalui konferensi video sebagai persiapan untuk kepergian anak-anak itu ke berbagai lokasi bercokolnya organisasi teroris tersebut”.

Darul Ifta’ al-Misriyyah dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah tidak akan terjalin melalui konferensi video karena mengandung banyak cela bagi akad dari aspek dasar kerelaan dalam bentuknya yang hakiki sebagaimana dijelaskan dalam teks-teks syariat, di samping juga dari segi dengan kehadiran para saksi dan tinjauan mereka terhadap semua unsur akad.”

Lembaga ini mengingatkan, “Anak-anak gadis yang memenuhi ajakan yang berlawanan dengan syariat itu serta akan membawa banyak petaka bagi mereka dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran ekstrimisme dan terorisme melalui nikah non-syar’i tidak mendapat ridha dari Allah dan rasulNya.”

Kampanye “jihad nikah” dikembangkan ISIS sejak dua tahun silam untuk memenuhi hasrat seksual para petempurnya. Sebagaimana dilaporkan berbagai media dunia, termasuk media Arab, kampanye menghebohkan itu telah menyebabkan ratusan perempuan Arab dan non-Arab berdatangan ke Suriah dan Irak untuk memenuhi “panggilan jihad” itu, dan banyak di antara mereka yang hamil.

Rai al-Yaoum melaporkan bahwa fatwa jihad nikah itu disebutkan berasal dari seorang ulama Arab Saudi Syeikh Mohammad al-Arifi, namun belakangan dalam khutbah agamanya dia membantah telah mengeluarkan fatwa itu. Dia bahkan mengatakan, “Jihad nikah adalah pernyataan batil yang tidak mungkin dikatakan oleh orang yang berakal sehat.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*