mesir konferensi anti radikalismeKairo, LiputanIslam.com – Para peserta Konferensi Internasional Pemberantasan Radikalisme dan Terorisme di Universitas al-Azhar, Kairo, ibu kota Mesir, menegaskan bahwa para teroris telah memberikan tafsiran yang keliru tentang Islam, menafsirkan masalah keagamaan dengan pendapat sendiri untuk tujuan-tujuan sempit serta melakukan tindakan-tindakan yang mencemarkan citra agama ini.

Sebagaimana dilaporkan situs berita Universitas al-Azhar, konferensi itu sendiri berlangsung dua hari dan berakhir Kamis (4/12) dengan merilis sebuah deklarasi.

Deklarasi itu menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah dewasa ini sedang mengalami suatu ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat kemunculan gerakan-gerakan ekstrim yang menggunakan cara-cara teror untuk memaksakan kehendaknya sendiri hingga banyak penduduk yang hak dan kehormatannya ternistakan.

Deklarasi itu sangat menyayangkan kejahatan itu terutama karena dilakukan atas nama Islam padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam, dan karena itu Islam yang sejati harus diperkenalkan secara lebih baik kepada masyarakat agar semua orang mengetahui bahwa Islam bukanlah agama kekerasan dan ekstrim.

Deklarasi itu juga menyatakan bahwa kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi bersenjata yang menggunakan cara kekerasan dan teror adalah kelompok-kelompok penjahat dan jauh dari agama Islam, karena menebar ketakutan di tengah masyarakat, membunuhi orang-orang yang tak berdosa, menjarah harta, menistakan kehormatan penduduk dan menodai kesucian agama mereka adalah tindakan anti kemanusiaan. Islam mengutuk aksi demikian. Aksi demikian harus dipandang sebagai tindakan untuk mencoreng reputasi Islam yang dilakukan oleh orang-orang yang mengabaikan realitas bahwa Islam adalah agama persatuan, perdamaian, keadilan dan persaudaraan.

Lebih jauh deklarasi itu menekankan bahwa umat Islam dan umat Nasrani masih terikat persaudaraan sehingga pernah hidup berdampingan selama sekian abad tanpa ada persoalan dan sampai sekarangpun akan tetap hidup berdampingan secara rukun, tentram dan damai.

Para peserta konferensi Kairo juga menyatakan bahwa sebagian media Barat sengaja mengaitkan kejahatan kelompok-kelompok teroris itu dengan Islam. Karena itu mereka meminta media Barat bersikap lebih fair, proporsional dan bersedia mengubahkan sikapnya karena kejahatan itu memang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam.

Untuk kalangan umat Islam sendiri, deklarasi itu menyerukan kepada alim ulama dan cendikiawan Muslim supaya memberikan pencerahan kepada masyarakat agar kalangan pemudanya tidak sampai terperangkap ke tangan kaum takfiri dan para pemuja kekerasan, karena belakangan ini tak sedikit anak muda yang menjadi korban pencucian otak dan tafsiran yang menyimpang atas al-Quran dan sunnah.

Di bagian akhir, konferensi internasional pemberantasan radikalisme dan terorisme di Kairo mengutuk agreasi rezim Zionis ke Palestina, terutama Baitul Maqdis, serta menyerukan kepada masyarakat dunia supaya menunaikan kewajibannya mencegah berlanjutnya aksi kaum Zionis tersebut serta memperkarakan kejahatan mereka di mahkamah internasional.

Grand Syeikh al-Azhar Ahmad al-Tayyeb dalam pidato pembukaan konferensi ini pada Rabu (4/11) mengutuk keras kebiadaban kelompok radikal takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia mengingatkan bahwa Islam yang diperkenal oleh kelompok ini kepada masyarakat sangat sarat dengan materi-materi yang menyimpang. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL