iran qasem soleimani 03

Jenderal Qasem Soleimani (kedua dari kiri) di tengah pasukan Kurdistan Irak, Peshmerga,

LiputanIslam.com – Terkait perang melawan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) nama koalisi anti ISIS selama ini sering didengungkan oleh berbagai media dunia ketika melaporkan “serangan udara” pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS). Namun demikian, diam-diam terdapat koalisi lain yang berkonsentrasi dalam operasi serangan darat. Koalisi lain itu adalah koalisi yang berada di bawah komando Iran, negara Republik Islam yang selama ini menyatakan pantang terlibat dalam “koalisi udara” yang sering disebut Teheran sebagai koalisi sandiwara, teatrikal dan tak serius memerangi ISIS.

Seperti diketahui, tanggal 10 Juli 2014 dunia dikejutkan oleh serbuan kawanan teroris yang mengatas namakan Islam tersebut ke provinsi Nineveh di bagian utara Irak yang berujung pada pendudukan ibu kota provinsi ini, Mosul, dan beberapa wilayah lain.

Saat peristiwa itu terjadi, AS dan para sekutunya di Barat dan Timur Tengah memilih bungkam dan sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran terhadap bahaya ISIS. Mereka belingsatan, pasang badan, berkampanye perang anti ISIS dan mempromosikan koalisi udara setelah gerombolan sempalan jaringan teroris transnasional al-Qaeda itu bergerak ke arah kota Kurdi Kirkuk yang kaya minyak dan menjadi sentra kepentingan AS di Irak.

Sebelum itu, sedemikian apatisnya Washington terhadap bahaya ISIS sehingga bahkan tak segan-segan mengabaikan pelaksanaan perjanjian keamanannya dengan pemerintah Irak yang saat itu dipimpin Perdana Menteri Nourdi al-Maliki. AS bergeming meskipun selalu ditagih oleh Baghdad supaya memenuhi kebutuhan senjata dan militer Irak. Akibatnya, Baghdad terpaksa beralih melobi pemerintah Rusia.

Pada periode yang layak disebut periode pertahanan itu pemerintah Irak yang kalang kabut berusaha membendung ekspansi ISIS di berbagai kawasan Irak sama sekali tidak mendapat bantuan dari AS dan para sekutunya di Barat yang selama ini mengklaim sebagai lokomotif pemberantasan terorisme di dunia.

Seandainya tidak ada fatwa jihad melawan ISIS dari ulama panutan Syiah di Irak Ayatullah Ali al-Sistani maka tak terbayang apa yang terjadi sekarang di Irak akibat ulah gerombolan teroris paling brutal itu, apalagi mereka saat itu masih didukung oleh AS dan sekutunya untuk menggulingkan pemerintah Suriah dan mengacaukan keamanan Irak. Bukan rahasia lagi bahwa sebagaimana AS, di tahap itu beberapa negara Arab sekutu AS di Teluk Persia, terutama Arab Saudi dan Qatar, bermain aktif di balik mengguritanya ISIS di Suriah dan Irak. Turki juga ditengarai berperan besar di balik serangan teroris yang menjatuhkan Mosul ke tangan ISIS.

Alhasil, AS dan sekutunya kemudian menebar gempita perang melawan ISIS setelah kelompok superekstrim itu ternyata bergerak jauh di luar kendali mereka sehingga mengancam interes AS dan Barat secara umum di Irak.

Di pihak lain, sebagaimana dilaporkan Fars News Agency (FNA), Republik Islam Iran yang selama ini memang bermusuhan dengan AS tidak pernah berhenti mewaspadai pergerakan ISIS, dan bahkan diam-diam turun tangan langsung menghadapi mereka ketika keadaan dirasa mendesak. iran qasem soleimani 01

Masih menurut FNA, rekam jejak Iran dalam perang melawan terorisme sudah terlampau jelas dan panjang, dimulai dari masa pendirian negara Zionis di bumi Palestina yang kemudian disusul dengan terbentuknya gerakan perlawanan Islam Lebanon yang bernama Hizbullah dan berafiliasi dengan Iran.

Dalam perkembangan mutakhir, jejak Iran dalam penumpasan teroris di Suriah juga terlihat dan menjadi pertanda bahwa Teheran masih eksis dalam proses pengendalian situasi keamanan di Timur Tengah. Dan yang lebih mutakhir lagi tentunya adalah peranan Iran yang lamban laun terungkap dalam proses penumpasan ISIS di Negeri 1001 Malam, Irak.

Iran sejak awal peristiwa serbuan ISIS ke Irak utara sudah menunjukkan reaksi keras dan mengingatkan soal bahaya keamanan serta eksistensi, integritas dan persatuan nasional Irak. Reaksi keras itu mula-mula ditandai dengan pernyataan bahwa Iran tidak akan membiarkan para ekstrimis takfiri berbuat sekehendak hatinya terhadap tempat-tempat yang disucikan oleh umat Islam, khususnya kaum Syiah.

Jauh hari sebelum terbentuk koalisi udara pimpinan AS, sebuah koalisi regional dari Poros Resistensi (Axis of Resistence) sudah terbentuk dan turun tangan untuk mempertahakan eksistensi dan kedaulatan Irak, persis sebagaimana yang terjadi di Lebanon selatan dan Gaza untuk membendung agresi pasukan Zionis, demikian pula di Suriah untuk menangkal perang yang dipaksakan kekuatan internasional terhadap Suriah untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Belum 10 hari ISIS menguasai Mosul dan beberapa kawasan lain di Irak utara, Iran menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan di level apapun kepada pemerintah dan rakyat Irak melawan terorisme ISIS. Pernyataan ini lantas mengundang gelombang reaksi kecaman dari Barat dan negara-negara sekutunya. Teheran segera dituding bernafsu untuk melakukan intervensi militer di Irak.

Saat itu, media sosial Iran diriuhkan oleh petisi demi petisi yang menyatakan kesiapan masyarakat Iran untuk ikut berjuang melawan ISIS dan al-Qaeda di Irak. Tak hanya itu, ribuan massa juga berkonsentrasi di kantor-kantor para ulama besar (marji’) Iran untuk mengungkapkan kesiapan yang sama, persis seperti yang terjadi ketika kawanan ekstrimis takfiri Salafi/Wahabi di Suriah menyerang makam cucu nabi Hazrat Zainab ra dan beberapa tempat suci lainnya.

Beberapa lama kemudian, media AS dan negara-negara Barat lainnya, termasuk Washington Post, merilis laporan mengenai keberadaan Pasukan Quds di Irak. Pasukan ini merupakan satuan pasukan khusus yang berada di bawah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan disebut-sebut sebagai pasukan yang ditakuti dan bertanggungjawab melakukan operasi-operasi ekstrateritorial.

iran qasem soleimani 02Media Barat saat itu menyatakan bahwa berita mengenai keberadaan pasukan khusus Iran itu belum dapat dikonfirmasi kebenarannya. Meski demikian, media Barat tetap menekankan bahwa keberadaan para jenderal Iran dari satuan pasukan khusus itu di Irak sangat mungkin terjadi. Alasannya, jika di Suriah saja mereka turun tangan maka apalagi di Irak yang bersebelahan langsung dengan Iran.

“Mereka itulah para penasehat militer yang membuat pemerintah Suriah berhasil memenangi pertempuran melawan kelompok-kelompok militan bersenjata,” tulis Washington Post, sebagaimana dikutip FNA.

Iran turun tangan di Irak untuk memerangi terorisme tentu sama sekali tidak membawa atribut AS maupun koalisi internasional anti ISIS. Sebagaimana diakui para pakar Timur Tengah, dengan cara dan strateginya sendiri Iran telah memberikan kontribusi besar di Irak. Salah satu kontribusinya ialah memberikan pencerahan kepada publik Irak mengenai konspirasi besar berlabel ISIS yang sengaja digalang Barat dan sekutunya dengan lihai untuk mengganyang Irak.

Menurut Teheran, realitas ini harus disadari terlebih dahulu sebelum bergerak untuk menumpas ISIS. Bagi Iran, fakta ini perlu dibongkar agar seluruh rakyat Irak, khususnya Sunni dan Syiah, dapat terlibat dalam pasukan relawan anti ISIS dengan penuh kesadaran akan siapa sebenarnya musuh-musuh mereka dan jangan sampai mereka terkecoh oleh upaya-upaya adu domba antarsesama anak bangsa dan umat Islam Irak. Harapan Iran sejalan dengan sikap para ulama Sunni dan Syiah Irak sehingga terbentuklah kelompok-kelompok relawan yang bersumpah untuk berjuang semata-mata demi nasionalisme dan keislaman mereka, bukan atas dasar semangat-semangat partisan, sebab musuh mereka yang bernama ISIS jelas-jelas biadab jika ditinjau dengan ajaran agama, norma kemanusiaan dan akan sehat sesederhana apapun.

Peran Iran di Irak terlihat lebih jelas dibanding di Suriah. Hal ini bahkan dinyatakan secara terbuka oleh Pemimpin Kurdistan Irak Masoud Barzani dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di Arbil.

menlu iran dan barzani

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, kiri, dalam konferensi pers dengan pemimpin Kurdistan Irak Masoud Barzani di Arbil.

“Iran adalah negara pertama yang segera datang membantu kami, dan seandainya tidak ada bantuan Iran niscaya wilayah ini (Kurdistan) berada dalam kondisi sulit,” ungkap Barzani, sebagaimana dikutip IRNA.

Dari wilayah Kurdistan hingga wilayah-wilayah berpenduduk Sunni dan Syiah di Baghdad, Karbala dan Najaf peranan Iran juga terlihat jelas. Menurut IRNA, bantuan senjata serta nasehat militer Iran di tahap awal dapat membendung keruntuhan eksistensi negara Irak, dan di tahap-tahap selanjutnya berhasil membebaskan berbagai daerah dan kota dari tangan ISIS.

Dalam hal ini, peran Iran yang paling fenomenal terlihat dalam peristiwa pembebasan kota Amirli di provinsi Salahudin yang semula dikepung oleh ISIS selama 80 hari. Kota ini bebas setelah seorang jenderal Iran bernama Qasem Soleimani ikut terlibat dalam operasi pembebasan kota yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah tersebut.

Sejak itu peran Pasukan Quds di Irak terbongkar di mata publik regional dan internasional. Beberapa media Barat dan Arab, termasuk Reuters dan Alarabiya dalam laporannya tentang pembebasan Amirli dan beberapa kawasan lain menyatakan tidak mungkin dapat secepat itu operasi pembebasan itu sukses tanpa intervensi Iran.

Perkaranya bahkan lebih jauh dari sekedar bantuan senjata dan nasehat militer. Seorang komandan pasukan Irak di lapangan mengatakan bahwa beberapa operasi militer ternyata dilancarkan oleh pasukan Iran sendiri.

“Sebagian operasi dilakukan oleh orang-orang Iran. Mereka juga memberi kami senjata, mengatur rencana-rencana operasi serta melatih pasukan keamanan dan angkatan bersenjata Irak,” katanya kepada Reuters.

Beredarnya foto Jenderal Qasem Soleimani dalam perisiwa pembebasan Amirli tampaknya bukan terjadi karena kebocoran atau kebetulan, melainkan lebih sebagai pesan yang sengaja ditebar Teheran, dan pesan itupun telah ditangkap dengan baik oleh pihak-pihak regional dan internasional.

Jenderal John Allen selaku komandan koalisi internasional anti ISIS dalam wawancara dengan CNN terpaksa mengakui peranan signifikan Iran dalam penumpasan terorisme ISIS, sementara Menteri Pertahanan Austalia David Johnston, sebagaimana dikabarkan The Sidney Morning Herald, berharap pasukan komando negara ini dapat bekerjasama dengan “Pasukan Quds Iran yang ditakuti” dalam penumpasan ISIS.

Jenderal Soleimani kini dikenal sebagai “Sang Pembebas”. Dengan dana dan fasilitas yang terbatas dibanding pasukan koalisi udara yang konon melibatkan 40 negara, jenderal itu berhasil mengelola dengan baik perang darat Irak melawan ISIS dari Amirli hingga Kurdistan Irak, Salahudin, Samarra, Baghdad, Jurf al-Sakhar, Karbala dan Najaf. Pembebasan demi pembebasan terjadi berkat operasi darat, sementara koalisi udara dengan segala gegap gempitanya terbukti tidak membuahkan hasil yang jelas, dan bahkan malah terindikasi melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan pihak ISIS, seperti terjadi dalam kasus “salah kirim senjata” kepada ISIS di Kobane, Suriah.

Realitas ini lantas mengingatkan orang pada pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatullah Ali Khamenei; “Koalisi (udara) anti ISIS adalah kosong dan hampa belaka. Dalam kasus Suriah mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa, dan di Irakpun kondisinya juga demikian.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL