jihad nikahBaghdad, LiputanIslam.com – Sejak beberapa waktu lalu kelompok ekstrimis takfiri Negara Islam Irak dan Suriah mengharuskan kaum perempuan di Mosul supaya menghubungi biro-biro nikah ISIS dan berkenalan dengan para anggota ISIS yang siap untuk melakukan nikah ala ISIS tersebut, demikian dilaporkan oleh berbagai media Timur Tengah, termasuk AnsarFNA, dan al-Wafd.

ISIS mengancam akan mengeksekusi berdasarkan vonis “pengadilan syariat” penduduk Mosul yang tidak mendaftarkan anak-anak gadisnya untuk diikut sertakan dalam jihad nikah. Mereka juga mengancam akan membunuh perempuan yang tidak mau menyerahkan dirinya kepada ISIS. Ancaman ini tak pelak membuat kaum perempuan di Mosul mengalami tekanan jiwa.

Menurut FNA, sekarang sudah tersedia daftar nama perempuan yang akan menjadi tumbal kebutuhan biologis para petempur ISIS, dan rencananya akan “dinikahkan” dalam beberapa hari mendatang.

Fatwa “jihad nikah” dilontarkan pertama kali oleh ulama Wahabi Syekh Mohamad bin Abdul Rahman al-Arefe yang menjadi imam masjid Akademi Angkatan Laut King Fahd, Arab Saudi, pada tahun 2011 dengan tujuan menguatkan mental para teroris ISIS di Suriah. Berbagai laporan yang ada setelah keluarnya fatwa itu menyebutkan adanya kaum perempuan pendukung ISIS dari sejumlah negara yang dengan sukarela menyerahkan dirinya kepada ISIS, tapi belakangan tersiar kabar bahwa ISIS memaksa kaum perempuan yang wilayah yang mereka kuasai supaya memenuhi hasrat biologis mereka atas nama jihad nikah.

TV Afaq Iraq pernah melaporkan bahwa empat perempuan di Mosul bunuh diri setelah dipaksa ISIS supaya menyerahkan dirinya untuk jihad nikah. Hal ini membangkitkan kebencian yang luar biasa penduduk Irak terhadap gerombolan teroris ISIS. Mereka menganggap ISIS telah memraktikkan kebejatan moral dalam bentuknya yang paling keji dan terkutuk.

Hingga kini pasukan Irak dan pasukan Kurdi Irak, Peshmerga, serta para relawan dan kelompok-kelompok pasukan adat Irak terus berjuang memerangi dan menumpas gerombolan ISIS yang masih tersebar di beberapa daerah di Irak utara, meskipun belum maksimal akibat persoalan politik yang tak kunjung tuntas. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL