perang kobaneKobane, LiputanIslam.com – Pasukan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan telah menguasai “segi empat keamanan” milik milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di bagian utara kota Ain al-Arab atau Kobane, Suriah.  Bersamaan dengan ini, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengingatkan kemungkinan akan terjadinya tragedi pembunuhan massal jika Kobane sampai jatuh ke tangan ISIS.

Mengenai kemajuan pasukan ISIS di Kobane, ketua Lembaga Pengawas Hak Asasi Manusia (HAM) Suriah, Sami Abdulrahman, kepada  AFP Jumat kemarin (10/10) menjelaskan bahwa segi empat keamanan berhasil dikuasai ISIS itu meliputi markas YPG, markas pasukan keamanan Kurdi “Asayish” dan dewan perwakilan rakyat daerah setempat.

pengungsi kobane02

Pengungsi Kobane yang tertahan di perbatasan Suriah-Turki melihat dari kejauhan kotanya digempur oleh pasukan ISIS.

Namun demikian, sumber-sumber Kurdi menyatakan ISIS masih baru menguasai sepertiga kota Kobane. Mereka menepis laporan yang menyebutkan bahwa ISIS sudah menguasai pusat kota.

Beberapa jet tempur pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serika dilaporkan telah menggempur beberapa posisi ISIS di Kobane, sementara pertempuran milisi Kurdi terus berlangsung sengit melawan ISIS yang berusaha menduduki kawasan utara Kobane demi menguasai pintu perbatasan kota ini dengan Turki.

Utusan Khusus Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Staffan de Mistura, menyerukan kepada Turki supaya membiarkan para relawan Kurdi dari wilayah Turki bertempur mempertahankan Kobane.

“Kami ingin mengajukan permintaan kepada otoritas Turki supaya setidaknya membiarkan aliran relawan bersama semua perlengkapan mereka masuk ke dalam kota (Kobane) untuk berkontribusi melakukan operasi pembelaan diri,” ungkap de Mistura kepada wartawan di Jenewa Jumat kemarin.

pengungsi kobane01

Pengungsi Kurdi mendirikan shalat jamaah di dekat perbatasan Suriah-Turki.

Dia menegaskan bahwa Resolusi PBB No. 2170 mengharuskan semua orang berusaha semaksimal mungkin mencegah pembunuhan massal. Menurutnya, ada sekitar 500 hingga 700 yang terjebak di Kobane, sedangkan belasan ribu lainnya tertahan di perbatasan antara Suriah dan Turki.

De Mistura mengingatkan bahwa situasi sekarang memungkinkan terjadinya tragedi pembantaian massal ribuan orang, termasuk anak kecil, seperti yang pernah terjadi di Srebrenica, Bosnia, pada tahun 1995.

“Jika kota ini sampai jatuh maka 700 orang (para pejuang Kurdi) dan 12,000 orang lainnya (penduduk yang tertahan di perbatasan) kemungkinan akan dipenggal kepalanya,” ungkapnya, sebagaimana dikutip Reuters.

Pihak Turki sendiri enggan memenuhi seruan tersebut. Besir Atalay, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa di Turki berasalan bahwa Kobane sudah kosong dari penduduknya, dan yang tersisa di sana hanyalah para petempur Kurdi dan pasukan ISIS.

“Sekarang ini tidak ada orang yang tersisa di Kobane kecuali militan PYD (Partai Persatuan Demokrasi Kurdi Suriah), sedangkan yang lain sudah datang (mengungsi) ke Turki,” katanya, seperti dilansir World Bulletin. PYD terafiliasi dengan PKK (Partai Pekerja Kurdi Turki) yang dipandang pemerintah Turki sebagai organisasi teroris.

Pernyataan pedas untuk para pejuang Kobane juga dilontarkan oleh Wakil Ketua AK, Yasin Aktay.

“Tidak ada tragedi di Kobane sebagaimana yang diteriakkan oleh teroris PKK. Yang terjadi di sana adalah perang antara dua kelompok teroris,” ungkapnya.

Sementara itu, Sky News melaporkan pernyataan Kepala Hubungan Luar Negeri Kobane, Idris Naasan bahwa ISIS berhasil memasuki Kobane berkat bantuan dari sebagian negara jiran kepada kelompok teroris takfiri tersebut.

Dia juga menyebutkan bahwa belakangan ini sebanyak 125 milisi Kurdi tewas dalam pertempuran, sementara 12 lainnya tertawan. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL