ISIS Executes 3 Chinese Fighters as TraitorsNewDelhi, LiputanIslam.com – Badan-badan intelijen India dalam laporannya kepada kementerian dalam negeri negara ini menyatakan bahwa kelompok teroris ISIS menerapkan diskriminasi secara terbuka terhadap para anggotanya yang berasal dari Asia dan non-Arab sehingga mereka yang datang dari negara-negara Asia selatan ditempatkan sebagai serdadu bawahan dan pembawa misi peledakan bom bunuh diri.

Para anggota ISIS dari India, Cina, Pakistan, Sudan, dan Nigeria biasanya ditempatkan di level-level bawah dengan perlengkapan yang terbatas dan dipaksa melancarkan operasi bom bunuh diri.

Laporan ini terpublikasi ketika pemerintah dan badan-badan intelijen India diresahkan oleh infiltrasi faham radikalisme ISIS di wilayah India.

Sebagaimana dilansir India Today, laporan itu menyebutkan bahwa orang-orang Asia Selatan lebih berkemungkinan untuk terbunuh dalam pertempuran karena mereka digunakan sebagai prajurit, sementara orang-orang Arab cenderung diposisikan sebagai perwira dengan gaji yang lebih besar dan akomodasi yang lebih baik.

Laporan itu juga menyatakan bahwa diskriminasi terhadap orang-orang Asia Selatan bahkan terlihat jelas dalam semua aspek kehidupan para anggota ISIS.

Asian Age menyebutkan bahwa menurut laporan itu, orang-orang yang berasal dari India, Cina, dan Pakistan begitu sudah bergabung dengan ISIS paspor mereka segera dibakar supaya mereka tak dapat pulang lagi ke negara masing-masing.

Laporan intelijen juga menunjukkan tingginya proporsi korban di kalangan teroris asal Asia Selatan dan Afrika. Para pejuang Arab dengan pengalaman pertempuran yang lebih baik sebagian besar diposisikan di belakang pejuang ini sehingga korban mereka kecil secara proporsional. Hal ini menjelaskan mengapa begitu banyak orang India dari kontingennya yang kecil terbunuh.

India dan Asia Selatan tidak dipercaya oleh pimpinan ISIS sehingga selalu diawasi oleh polisi yang sebagian besar berasal dari Tunisia, Palestina, Arab Saudi, Irak dan Suriah.

“Ada defisit kepercayaan yang jelas antara pejuang Arab yang dominan dan orang-orang dari negara lain yang sebagian besar dipikat kepada ISIS melalui teknik propaganda canggih di internet,” ungkap laporan itu.

Dalam laporan itu tidak disebutkan bagaimana perlakuan ISIS terhadap para anggotanya yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, namun sangat besar kemungkinan diskriminasi itu juga diterapkan kepada para anggota dari Asia Tenggara karena laporan itu menekankan faktor Arab dan non-Arab.

Selain itu, laporan itu juga menyatakan ISIS menganggap Islam seperti yang dipraktikkan di India, Pakistan dan Bangladesh sudah jauh menyimpang dari ajaran Quran dan Hadis yang murni sehingga umat Islam di negara-negara ini dianggap kurang termotivasi untuk merespon “jihad” yang diserukan oleh para Salafi/Wahabi.

Praktik dan tradisi keagamaaan Islam di tiga negara Asia Selatan itu juga mirip dengan tradisi keagamaan di Indonesia yang lebih bercorak sufistik dan moderat serta lebih akomodatif terhadap tradisi dan kearifan lokal sehingga menjalankan tradisi-tradisi semisal tahlil, maulid Nabi Muhammad saw, shalawatan, ziarah kubur, dan hormat kepada bendera yang oleh kalangan Salafi/Wahabi dianggap bid’ah, syirik dan sesat. Sikap dan keyakinan kalangan Salafi/Wahabi inilah yang membuat mereka kerap disebut takfiri (mudah mengafirkan kelompok lain atau lawan pendapat). (Baca juga: Dialog Keberagaman di Semarang: Mudah Mengafirkan Itu Penyakit!) (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL