pengungsi kobane02Damaskus, LiputanIslam.com – Kota Ain al-Arab atau Kobane yang terletak di bagian utara Suriah dan berdekatan dengan perbatasan Turki masih terus diacak-acak oleh pasukan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang telah menguasai separuh kota dan terus menebar serangan brutal untuk merebutnya secara total dari para pejuang Kurdi yang kalah dari segi jumlah maupun persenjataan.

Menyaksikan kondisi ini, para pengungsi Kurdi dari kota yang mayoritas penduduknya memang bersuku Kurdi itu menyampaikan keluh kesahnya kepada PressTV sembari menyebutkan bahwa di kota itu masih ada sekitar 3,000 orang, bukan sekitar 500 orang seperti yang disebutkan oleh sebagian media.

“Para teroris telah menyerbu kota ini. Mereka seolah bukan manusia. Mereka lebih menyerupai monster. Para militan itu memperkosa gadis-gadis remaja, kemudian memegal kepala mereka dan memajangnya di pasar,” ungkap seorang pengungsi, sebagaimana dimuat situs PressTV Rabu (15/10).

Para pengungsi juga kesal terhadap beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi dan Qatar, karena telah mendukung dan mendanai ISIS. Mereka juga prihatin karena karena serangan pasukan koalisi pimpinan AS ternyata tidak dapat membendung gerak maju pasukan ISIS.

Para pejabat Kurdi setempat mengingatkan bahwa Kobane sudah hampir jatuh sepenuhnya ke tangan gerombolan teroris bersenjata ISIS, yang berarti bahwa akan terjadi genosida terhadap beberapa orang Kurdi yang terjebak di dalamnya.

“Ini memuakkan. Ini bukan Islam. Tidak ada nabi yang mengatakan aksi seperti itu dapat diterima. Sebagian media menyatakan di sana (Kobane) hanya tersisa 500 warga sipil, padahal di sana masih ada sedikitnya 3,000 orang. Jika Kobane jatuh maka tidak ada lagi tempat bagi kami untuk pulang,” kata pengungsi lainnya.

Banyak warga Kurdi dari arah Turki yang tak sabar untuk membantu petempur Kurdi Kobane melawan ISIS, namun dicegah oleh tentara Turki sehingga negara ini terkesan memang berharap kota nahas itu jatuh ke tangan ISIS. Karena itu, para petempur Kurdi Kobane meminta kepada milisi Kurdi Irak supaya mengirim pasukan bantuan ke Kobane.

Di pihak lain, pasukan ISIS yang meskipun lebih kuat namun kewalahan karena banyak anggotanya tewas di tangan para petempur Kurdi Kobane akhirnya mendapat balabantuan dari pasukan ISIS yang berada beberapa kawasan Suriah lainnya, termasuk provinsi Raqqah dan Deir al-Zor.

Sementara itu, pejabat bidang kontra terorisme Uni Eropa menyebut kejahatan ISIS di Irak dan Suriah sebagai yang terbesar sejak berakhirnya Perang Dunia II.

“Saya tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa ini merupakan jejak krisis terbesar yang pernah kita lihat sejak Perang Dunia II. Angka-angka yang ada membuktikan hal ini. Kami memiliki lebih dari 51 juta penduduk kehilangan tempat tinggal secara internal atau sebagai pengungsi,” papar Kristalina Georgieva selaku Komisaris Uni Eropa untuk Kerjasama Internasional, Bantuan Kemanusiaan dan Tanggap Krisis. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL