Beirut, LiputanIslam.com – Sebanyak 140 teroris anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tewas diterjang ranjau dan dihantam serangan artileri pasukan Suriah di sekitar bandara militer al-Tabaqa di Rif Raqqa, Suriah, Kamis sore kemarin (21/8), demikian dilaporkan lembaga pemberitaan Lebanon, al-Manar. Bersamaan dengan ini, pemerintah Suriah menyatakan pihaknya tidak memerlukan bantuan Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan terorisme.

Sebanyak 300 pasukan ISIS mencoba menyerang dan menaklukkan Bandara Militer al-Tabaqa, namun pasukan Suriah sudah menggelilingi kawasan sekitar bandara itu dengan banyak ranjau yang ternyata berhasil membuat barisan teroris ISIS kocar-kacir.

Pasukan ISIS mula-mula mengirim bom mobil yang dikemudikan oleh seorang pelaku bom bunuh diri dengan harapan dapat menemukan celah masuk untuk menyerbu bandara tersebut, namun serangan itu ternyata sia-sia. Mobil yang dikendarai oleh teroris buronan bernama Mahed al-Sahim alias Abu Hajir itu berhasil diledakkan oleh pasukan Suriah sebelum mencapai sasaran.

Menyusul kegagalan itu, sebanyak 300 personil ISIS bersama beberapa kendaraan lapis baja dan mesin-mesin perangnya bergerak menuju bandara. Namun, selain diterjang oleh banyak ranjau, mereka juga kocar-kacir disambut pasukan Suriah dengan gempuran sengit senjata artileri, mengakibatkan sedikitnya 140 teroris tewas di tempat dan beberapa lainnya cidera serta kabur bersama sisa personil yang selamat.

Sementara itu, Menteri Penerangan Suriah Amran al-Zaabi menyatakan sampai sekarang belum ada pesawat udara Amerika Serikat (AS) yang masuk ke wilayah Suriah untuk menggempur ISIS. Dia menegaskan bahwa Suriah tidak membutuhkan bantuan AS untuk menumpas teroris.

“Suriah sama sekali tidak menjalin kerjasama keamanan dan intelijen resmi dengan AS dan Eropa,” ungkap Amran dalam wawancara dengan TV al-Mayadeen.

Dia menambahkan, “Pesawat tempur AS sampai sekarang belum ada yang menggempur posisi-posisi teroris di wilayah Suriah, dan ini tidak akan pernah dilakukan tanpa persetujuan dari pemerintah Suriah. Sebab, paradigma perang kami dalam perang melawan terorisme adalah paradigma yang total dan menyeluruh, dan pasukan Suriah sendiri memiliki pengalaman yang cukup handal dalam perang melawan teroris di kawasan.”

Di pihak lain, Wakil Ketua Penasehat Keamanan AS, Ben Rhodes, menyatakan tidak tertutup kemungkinan serangan AS terhadap ISIS akan menjangkau wilayah Suriah.

“Ketika isu mengenai perlindungan terhadap orang-orang AS dan pembasmian rencana-rencana serangan teroris terhadap AS mengemuka maka kami tidak menolak segala kemungkinan,” ungkapnya dalam wawancara dengan Radio NPR, sebagaimana dikutip IRNA.

“Karena itu,” lanjutnya, “ketika masalah yang mengemuka adalah misi utama kebijakan luar negeri AS, yakni perlindungan terhadap warga kita, maka kami tidak membatasi diri dengan batasan-batasan teritorial.”

Pemerintah AS memperkirakan ada belasan ribu warganegara asing, termasuk dari AS, yang datang ke Suriah dan bergabung untuk memerangi pemerintah Damaskus.

“Kami memperkirakan di Suriah ada sekitar 12,000 petempur datang dari sedikitnya 50 negara – petempur asing, termasuk sejumlah kecil warga Amerika – yang mungkin pergi ke Suriah pada awal konflik yang bermula sejak lebih dari tiga tahun tersebut,” ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Mari Harf Kamis kemarin, sebagaimana dikutip PressTV. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL