koalisi anti isis2Muskat, LiputanIslam.com – Koran al-Watan terbitan, Muskat, Oman, menilai perang Amerika Serikat (AS) dengan aliansi internasionalnya melawan terorisme lebih cenderung kepada dusta, sandiwara dan permainan daripada kepada realitas dan kesungguhan.

“Meskipun ada klaim-klaim efektivitas koalisi pimpinan AS anti ISIS, namun fakta di lapangan berkata lain. Apa yang terjadi di lapangan sangatlah tak terduga oleh orang-orang yang semula optimis terhadap efektivitas koalisi ini,” tulis al-Watan dalam dalam edirotialnya, Minggu (1/2/2015).

Menurut al-Watan, siapapun tak mungkin dapat menerima klaim bahwa koalisi ini memerangi ISIS, dan tak ada bukti yang mendukung klaim ini. Sebaliknya, AS justru terlihat senang dan puas menyaksikan kawasan Timteng kacau balau, dan sangat berharap situasi ini dapat menyulap masing-masing negara Timteng menjadi seperti Libya.

Selain itu, lanjut al-Watan, di Timteng tak yang berharga di mata Gedung Putih kecuali Rezim Zionis Israel dan minyak. Karena itu AS merasa bahwa dengan munculnya kelompok-kelompok teroris sekarang adalah masa terindah bagi Israel dan menghasilkan “berkah” berupa anjloknya harga minyak.

Alasan ketiga dikemukakan al-Watan untuk memastikan bahwa AS bersandiwara dalam isu pemberantasan ISIS ialah bahwa berlanjutnya kekacauan di Timteng dapat menjadi dalih bagi Washington untuk melestarikan kebercokolannya di kawasan Timteng.

Tidak dilibatkannya Suriah dalam koalisi anti ISIS juga dipandang al-Watan sebagai bukti nyata bahwa koalisi itu tidak serius memerangi ISIS.

“Walaupun Suriah sendiri mampu menjalankan banyak peperangan melawan ISIS, namun pengesampingan negara ini dari koalisi memperlihatkan kebohongan dan kepalsuan koalisi ini serta mengubah perang melawan terorisme menjadi aksi main-main dan olok-olok belaka,” tulis al-Watan.

Koran ini menambahkan, “Kita telah menyaksikan pemandangan yang menyakitkan berupa perilaku ISIS terhadap warga Arab dan ini menjadi lebih menyakitkan ketika mereka melanggar berbagai dimensi peradaban dengan menghancurkan masjid-masjid bersejarah, gereja, peninggalan-peninggalan purbakala Musium Mosul. Kita berhadapan dengan keganasan yang sama sekali tidak menghargai kemanusiaan maupun peradaban. Mereka dibiarkan melakukan semua ini, baik dengan tutup mata AS maupun dengan bantuan Turki dan sebagian negara Arab.”

Betapapun demikian, Al-Watan menilai AS belum terlambat untuk memperbauiki perilakunya selama ini dalam isu penumpasan terorisme. Menurut al-Watan masih ada waktu bagi bagi AS untuk insaf dari klaim-klaim dustanya, termasuk berhenti menebar olok-olok dengan cara melatih para pemberontak Suriah dan menyebut mereka sebagai oposisi moderat, sebab tidak ada oposisi moderat tapi di saat yang ternyata mengangkat senjata. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*