ISIS-Iraq-Syria-US-IranKairo, LiputanIslam.com – Harian al-Masry al-Youm dalam laporannya mengenai konferensi kontra kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bertema “Keamanan dan Perdamaian di Irak” yang berlangsung di Paris, ibu kota Perancis, Senin kemarin (15/9) menyebutkan bahwa Perdana Menteri Irak Fouad Massoum terlihat menampik negara-negara Arab dan malah optimis pada besarnya peranan Iran dalam perang melawan terorisme.

Menurut al-Masry al-Youm, Massoum dalam wawancara dengan Associated Press menekankan urgensi keterlibatan Iran dalam segala bentuk upaya internasional untuk menumpas terorisme. Sembari menyatakan negaranya tidak memerlukan keterlibatan Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam serangan udara anti ISIS, Massoum menyayangkan ketidak hadiran Iran dalam konferensi Paris.

Koran Mesir itu menilai pernyataan Massoum tak ubahnya dengan menampik keterlibatan negara-negara Arab dalam penumpasan ISIS dan malah berharap peran serta Iran, padahal konferensi itu dihadiri oleh sekitar 40 negara Barat dan Arab.

Iran sendiri, sebagaimana pernah diberitakan Liputan Islam, enggan menghadiri konferensi Paris karena hanya diarahkan untuk penggalangan aliansi anti ISIS di bawah komando AS. Padahal, menurut Iran, AS tidak bisa diharapkan serius memerangi ISIS. Menurut Teheran, Washington menerapkan standar ganda, tebang pilih, dan kondisional dalam isu anti ISIS. (Baca: Iran Remehkan Konferensi Kontra ISIS di Paris)

Dalam perkembangan terbaru, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei yang baru selesai menjalani masa perawatan pasca operasi di Teheran Senin (15/9) memastikan pemerintah AS membual, menebar omong kosong dan tendensius dalam kampanye anti ISIS. Hal itu dia kemukakan saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry bahwa Iran tidak akan diajak dalam perang melawan ISIS.

“Adalah kebanggaan bagi kami ketika AS putus asa akan keterlibatan Iran dalam aksi menyimpang dan keliru yang dilakukan secara beramai-ramai, bahkan ini merupakan kebanggaan tertinggi bagi kami,” ungkapnya, sebagai dilansir IRNA, Selasa (16/9).

Di mata Teheran, AS adalah negara yang ikut membidani dan membesarkan ISIS untuk mengusik Suriah dan Irak, walaupun pada akhirnya ISIS keluar dari kontrol dan kendali AS dan negara-negara pengasuh ISIS lainnya.

Laporan lain dari New York Times Senin (16/9) menyebutkan klaim Kerry Senin kemarin bahwa pemerintahan Obama masih membuka pintu “komunikasi rahasia”-nya dengan Iran mengenai krisis keamanan Irak, tapi di saat sama juga menolak pelibatan Teheran dalam konferensi Paris.

Menurut New York Times, Kerry bahkan telah memberitahu Raja Abdullah dari Arab Saudi dan para pejabat tinggi Uni Emirat Arab bahwa AS tidak akan menghadiri konferensi Paris jika Iran juga ada di sana. Dia juga menegaskan bahwa negaranya tidak melakukan koordinasi militer dengan Iran.

Namun demikian, sebagaimana disebutkan IRNA, statemen Kerry mengenai “komunikasi rahasia” itu menunjukkan bahwa bagaimanapun juga Barat tetap berharap adanya kerjasama Iran untuk mengatasi problema yang justru diciptakan oleh Barat sendiri, apalagi telah diakui bahwa segala bentuk prakarsa keamanan Timur Tengah tidak mungkin berhasil tanpa kerjasama dengan Iran.

Menurut IRNA, hal inilah yang Senin kemarin menjadi sorotan media dunia, dan banyak kalangan menilai ketidak hadiran Iran dan Suriah dalam konferensi Paris telah menjadi titik kelemahan pertemuan kontra ISIS tersebut. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL