War TerorisOleh: Putu Heri

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, segenap aparat keamanan di Indonesia bersiap siaga. Tahun ini, sekitar 150.000 pasukan keamanan diturunkan untuk mengamankan gereja-gereja di Indonesia. Dengan menggandeng para ulama, pemerintah Indonesia juga melakukan upaya untuk mencegah pemikiran ekstremisme.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, 22 website yang dianggap mendukung penyebaran aliran radikal dibekukan oleh pemerintah. Bahkan seorang pengelola website pendukung ISIS (Al-Mustaqbal) yang bernama Muhammad Fachri, juga ditahan aparat. Secara berkelanjutan, pasukan gabungan TNI-Polri juga telah melakukan perburuan terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur yang dipimpin oleh Santoso.

Sepintas, apa yang dilakukan pemerintah untuk memerangi terorisme memang cukup meyakinkan. Hanya saja, ada beberapa hal mengganjal yang butuh penjelasan. Misalnya,

1. Mengapa website yang telah terbukti menyebarkan radikalisme, ekstremisme, dan secara aktif mendukung kelompok-kelompok teroris, pada akhirnya dibiarkan tetap eksis dan menebar propaganda?

2. Mengapa begitu sulit bagi jutaan anggota TNI-Polri untuk membekuk kelompok Santoso, yang menurut informasi, hanya memiliki belasan hingga puluhan pengikut? Suriah dan Irak, dibanjiri sekitar 36.000 jihadis dari 86 negara dalam 18 bulan terakhir. Apa yang akan dilakukan andaikata Indonesia harus mengadapi puluhan ribu teroris, sedangkan menangkap teroris yang jumlahnya belasan hingga puluhan saja tidak sanggup?

Mungkin, mengutip kalimat dari Catherine Sadhkam –analis politik Timur Tengah– bahwa sudah saatnya bagi kita untuk melihat kebenaran yang tak pernah kita pertanyakan. Dan untuk itu, kita harus kembali ke 10 tahun yang lalu, ketika seorang jurnalis SBS News, David O’shea, melakukan investigasi mendalam terkait perang melawan terorisme di Indonesia. Laporannya ini disiarkan melalui saluran SBS Australia pada 12 Oktober 2005.

***

Bisa dibilang, Bom Bali I adalah serangan terorisme yang paling parah yang pernah terjadi di Indonesia. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan. Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut.

Wisatawan yang paling banyak menjadi korban kala itu berasal dari Australia. Saat itu, Indonesia dan Australia pun sepakat untuk menjalin kerjasama dalam memerangi terorisme.

Pada saat terjadi bom Bali II pada tahun 2005, sekali lagi Australia menempatkan diri di garis depan dalam perang mewan teror. Indonesia dan Australia pun menjalin kerjasama untuk memburu para pelaku pengeboman Bali.

Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Indonesia kala itu berkata, “Kami siap untuk melanjutkan perang melawan terorisme, yang akan efektif secara global, regional, dan Internasional.

John Howard, Perdana Menteri Australia kala itu berkata, “Insiden tragis seperti ini yang juga telah memakan korban dari rakyat Australia, akan membawa kami (Indonesia dan Australia) menjadi semakin dekat.”

Kebersamaan Australia-Indonesia ini cukup mengesankan, dan dimainkan dengan sangat baik sehingga didukung oleh rakyat Australia. Namun tidak demikian halnya dengan Indonesia.

Negara di Dalam Negara

John Mempi, analis keamanan dan intelejen berkata,”Mengapa kekerasan yang terjadi ujung-ujungnya malah seperti ini? Mengapa ada aksi terorisme tahun demi tahun? Rezim berganti, pemerintahan berganti, tetapi kekerasan terus berlanjut. Mengapa? Karena ada ‘negara bayangan’ di negara ini. Suatu negara di dalam negara, yang memainkan aturan di Indonesia.”

Pernyataan John masih sangat relevan hingga hari ini. Bahkan kini, kita dihadapkan dengan kelompok teroris baru, yaitu Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang telah menebarkan pengaruhnya hingga ke Indonesia.

Para pendukung atau simpatisan ISIS, menggelar deklarasi untuk membaiat Abu Bakar al-Baghdadi yang disebut sebagai Khalifah Islam. Mereka juga menggelar serangkaian seminar di berbagai kota. Selain itu, perekrutan anggota baru juga dilakukan melalui dunia maya, dan tercatat, telah ratusan orang Indonesia bergabung dengan ISIS.

Bukankah ini sangat mengherankan? Mengapa setelah adanya operasi perang melawan terorisme di Indonesia, justru penganut pemikiran radikal ini semakin bertambah banyak. Seriuskah aparat berwenang Indonesia memerangi terorisme?

Gus Dur: Mereka Semua Pembohong!

Mendiang mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur, diwawancarai oleh David tentang keterlibatan antara Badan Intelejen Negara (BIN) dengan Polri dalam kasus Bom Bali 2012.

Berikut petikan wawancara David dengan Gus Dur:

Gus Dur: Bila rakyat Australia mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, saya pikir itu bencana.

David: Apa maksud Anda?

Gus Dur: Yeah, siapa yang tahu. Bisa saja yang memerintahkan untuk melakukan ini, melakukan itu, datangnya dari para penguasa, bukan dari orang-orang fundamentalis.

David: Rakyat Indonesia menganggap bahwa gagasan untuk percaya kepada Polri adalah hal yang menggelikan. Telah tercatat dalam sejarah, bahwa institusi ini terkenal korup dan tak berkompeten.

Gus Dur: Mereka semua pembohong.

David: Hanya untuk meyakinkan saja, apakah Anda meragukan kemampuan Polri untuk mengivestigasi kasus ini?

Gus Dur: Iya

Walau tidak menyebutkan secara terperinci, Gus Dur menenggarai adanya keterlibatan yang dalam antara aparat berwenang dengan aksi-aksi teroris di Indonesia. Benar, bahwa pelaku terorisme adalah orang-orang yang menganut pemahaman ekstrimis. Namun yang penting untuk diperhatikan, ada “kekuatan yang lebih besar” yang memberikan perintah kepada mereka untuk melakukan segala bentuk terorisme tersebut.

Akhirnya, David pun melakukan penelusuran dengan mewawancarai pihak-pihak yang terkait dengan terorisme, termasuk pelaku teror itu sendiri. (Bersambung)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL