Foto: www.haaretz.com

Foto: www.haaretz.com

LiputanIslam.com – Kasus penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo, dan penyanderaan yang terjadi di Perancis, menuai respon dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia mengimbau kepada kaum Yahudi Perancis, dan seluruh daratan Eropa agar berimigrasi menuju Israel.

“Untuk seluruh Yahudi di Perancis, untuk semua Yahudi di Eropa, saya ingin mengatakan bahwa Israel bukan hanya kiblat saat Anda berdoa. Israel adalah rumah Anda,” ujar Netanyahu, dalam sebuah siaran televisi Israel, seperti dilansir Russia Today, 11 Januari 2015.

Netanyahu kembali mengungkit sentimen anti-Semit, menempatkan seolah-olah kaum Yahudi adalah pihak yang paling menderita dan teraniaya. Di sisi lain, Islam disebut sebagai agama barbar dan radikal.

Mari kita diluruskan.

Pertama, atas kasus yang terjadi di Perancis, kecaman yang paling besar justru dialamatkan kepada Islam. Pihak kepolisian Perancis menyatakan bahwa pelakunya adalah kelompok Al-Qaeda in Arab Peninsula (Al-Qaeda yang berbasis di Yaman). Sementara itu, Al-Qaeda juga selalu mengklaim sebagai representasi Islam yang sesungguhnya.

Memang, tak sedikit kaum Muslimin yang juga turut mengecam kejadian ini. Namun secara keseluruhan, opini dunia telah mengkristal: Islam disebut teroris.

Akibatnya, tak lama berselang sebuah masjid di kota Le Mans, Perancis, diserang dengan granat. Menurut laporan Russia Today, empat granat latihan dilemparkan ke halaman masjid, Kamis (8/1) malam. Sebuah granat meledak, namun tidak ada orang yang terluka dalam insiden ini. Pelaku serangan juga menembakkan senjata ke masjid.

Kedua, jiwa manusia memang tidak ternilai harganya, tidak peduli apapun agama, etnis, ataupun negaranya. Netanyahu menyatakan, ada empat orang Yahudi yang turut tewas dalam serangan tersebut. Ia mengutuk keras, dan dunia berduka cita untuk kematian mereka.

Lantas, bagaimana dengan pembantaian yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap penduduk Palestina selama operasi militer dengan sandi ‘Operation Protective Edgeyang dilancarkan Israel pada pertengahan tahun 2014 lalu?

Dalam invasi militer besar-besaran ke Jalur Gaza selama lebih dari 50 hari tersebut, Israel telah membunuh sebanyak 2,143 orang Palestina yang sebagian besar adalah warga sipil, termasuk kaum perempuan, anak kecil dan lansia.

Rakyat Palestina adalah manusia, yang darahnya sama merahnya dengan orang-orang Yahudi. Jika aksi yang merenggut jiwa manusia, oleh Netanyahu disebut teroris radikal, maka tentu saja Netanyahu biangnya teroris radikal.

Di sisi lain, Israel terdengar begitu manusiawi dan berbaik hati. Mengundang seluruh kaum Yahudi untuk ‘pulang’ ke Israel. Netanyahu bahkan mengatakan, bahwa Israel bersedia membantu, menyambut dengan tangan terbuka dan hangat. Sayangnya, hal ini bertolak belakang dengan bagaimana cara Israel memperlakukan para pencari suaka, yang berasal dari negara-negara Afrika.

“Saya telah mencatat serangan rasis terhadap pencari suaka Afrika non-Yahudi di Israel selama beberapa tahun. Pada bulan Januari 2012, sebuah organisasi di Israel yang membantu Afrika pencari suaka, African Refugee Development Center, meminta saya untuk penulis atas nama mereka sebuah laporan kepada Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial (CERD). Setelah menerima laporan dalam bentuk teks dan video, komite PBB mendesak pemerintah Israel untuk mencegah serangan rasis terhadap orang Afrika di Israel.

Pemerintah Israel mengabaikan seruan PBB, dan bulan berikutnya, Israel mengebom taman kanak-kanak untuk anak-anak Afrika di Tel Aviv, yang memicu gelombang kekerasan terhadap orang Afrika non-Yahudi di Israel. Dalam tautan ini, adalah wujud nyata rasisnya Israel yang bentuk teks dan video,” tulis David Sheen, seorang jurnalis dan filmmaker, di situs pribadinya.

Islam adalah agama damai, tidak mengajarkan terorisme. Jika ada serangan, dan pelakunya kebetulan beragama Islam, maka ia tidak merepresentasikan Islam secara keseluruhan. Tolong diingat, atas kasus terorisme yang melanda negara-negara di Timur Tengah, justru korban terbesar adalah kaum Muslimin. Yang mengangkat senjata untuk memerangi terorisme, juga mayoritas adalah kaum Muslimin. Sementara Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, adalah negara pendukung terorisme itu sendiri. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*