LiputanIslam.com-Koran al-Sharq al-Awsat, media Saudi cetakan London, mengklaim bahwa Hamas sedang berupaya mencari kantor resmi di Aljazair. Ini bukanlah berita baru, karena media-media telah mewartakannya sekitar satu tahun lalu.

Dalam edisi Senin (17/7), al-Sharq al-Awsat mengutip laporan ini dari sumber Palestina yang namanya tidak disebutkan. Harian ini mengklaim, setelah mayoritas petinggi Hamas angkat kaki dari Doha dan menyebar di berbagai negara, kini kelompok tersebut tengah berupaya mencari tempat persinggahan bagi para tokohnya.

Masih menurut klaim al-Awsat, Aljazair dilaporkan telah menerima permintaan resmi dari Hamas untuk membuka perwakilan resmi di negara Afrika Utara tersebut. Namun Aljazair masih belum memberikan jawaban terhadap permohonan ini.

Saat ini, para tokoh Hamas disebut-sebut tersebar di Gaza, Lebanon, Malaysia, dan Qatar. Mereka tidak ingin hanya berada di satu negara agar tidak membebani negara tersebut. Oleh karena itu, Hamas berniat menempatkan para tokohnya di berbagai negara. Berdasarkan pengalaman Suriah, Qatar, dan Turki, Hamas tidak ingin memusatkan aktivitasnya di sebuah negara Arab. Sebab itu, kelompok ini memilih Jalur Gaza sebagai pusat aktivitas Ismail Haniye, kepala kantor politik Hamas.

Al-Awsat menyatakan, jubir Hamas, Sami Abu Zuhri, saat ini tengah berada di Aljazair. Menurutnya, sejumlah petinggi Hamas ingin menetap di Aljazair tanpa menyebabkan beban berat bagi tuan rumah. Beberapa bulan lalu, sebelum timbulnya konflik antara Qatar dan negara-negara jirannya, mereka meminta Aljazair agar memperkenankan Hamas membuka kantor di sana.

Menurut laporan al-Awsat, Abu Zuhri dalam wawancara dengan koran Aljazair, al-Shuruq, mengatakan,”Saya secara pribadi telah mengajukan permintaan untuk menetap di Aljazair. Para pejabat Aljazair telah berjanji akan mengkaji permintaan ini.”

Al-Awsat menambahkan,“Sebelum diboikot oleh negara-negara Arab, Qatar telah meminta dari sejumlah tokoh Hamas untuk memahami perkembangan politik regional dan meninggalkan Doha. Sejumlah tokoh Hamas lain juga diminta agar tidak melakukan aktivitas anti-Israel di Qatar. Sekitar satu tahun lalu, Turki juga meminta para petinggi Hamas angkat kaki dari negaranya. Hamas kini tahu mereka tak lagi memiliki banyak pilihan setelah Qatar untuk tempat tinggal para tokohnya. Lantaran mereka bermazhab Sunni, Iran tak mungkin dijadikan sebagai alternatif untuk menetap.”

Agar topik menjadi jelas, ada sejumlah poin yang perlu diperhatikan:

Pertama, sumber al-Awsat masih anonim dan tidak diketahui. Oleh karena itu, berita yang disampaikan koran ini tidak begitu bisa dipercaya.

Kedua, Hamas memiliki kecenderungan seperti Ikhwanul Muslimin (IM). Saat ini, Saudi dan konco-konconya (Mesir dan UEA) sangat memusuhi IM dan menyebutnya sebagai organisasi teroris.

Ketiga, al-Sharq al-Awsat adalah media Saudi yang tentu saja merefleksikan kebijakan-kebijakan Riyadh. Pekan lalu, dubes Saudi di Aljazair menyebut Hamas sebagai kelompok teroris. Pernyataan ini kontan menuai kecaman keras di media-media sosial, juga dari sejumlah partai dan anggota parlemen. Mereka mengatakan, bagaimana mungkin di negara yang memiliki latar belakang perlawanan dan perjuangan ini (Aljazair), dubes Saudi bisa berbicara seperti ini tentang kelompok pejuang Palestina. Tampaknya Saudi telah memulai sebuah perang media terhadap Hamas.

Keempat, tidak mustahil bahwa Saudi, dengan mempublikasikan berita lama yang telah diwartakan media-media Aljazair setahun lalu, berupaya menyampaikan pesan kepada negara di Afrika Utara ini, yaitu untuk membatasi keberadaan anggota Hamas di wilayahnya. Jika tidak, maka itu akan memengaruhi hubungan Aljazair-Saudi. Apalagi pekan lalu, dubes Saudi telah menyebut Hamas sebagai kelompok teroris.

Kelima, Saudi berusaha mengesankan bahwa siapa pun yang menentangnya, akan terkucilkan dan tidak memiliki tempat di dunia. Oleh karena itu, para pejabat Aljazair masih belum memberikan jawaban kepada permohohan Hamas. Padahal, rakyat Aljazair dikenal sebagai para pejuang melawan kaum agresor dan telah mengorbankan satu setengah juta syahid di jalan ini.

Keenam, izin tinggal di sebuah negara memiliki prosedur dan formalitas birokrasi khusus yang akan memakan waktu. Al-Awsat sendiri menyebutkan bahwa Abu Zuhri mengajukan permohonan itu atas nama pribadi. Tiap orang, tanpa melihat afiliasi keorganisasiannya, berhak untuk menentukan keputusan bagi hidup diri dan keluarganya.

Ketujuh, al-Awsat ingin mengesankan bahwa Qatar kini adalah musuh Saudi dan tunduk terhadap kepentingan Israel. Sebab itu, Qatar meminta para petinggi Hamas angkat kaki dan tidak melakukan aktivitas anti-Israel.

Kedelapan, al-Awsat mengklaim bahwa Hamas adalah gerakan Sunni dan Iran adalah Syiah. Jadi, Iran tidak akan membantu kelompok-kelompok Sunni. Padahal, sejarah resistensi menunjukkan bahwa Iran selalu mendukung kelompok-kelompok pejuang Palestina, yang semuanya bermazhab Sunni, termasuk Hamas. Al-Awsat tampaknya kembali usil dengan menghembuskan perpecahan di Dunia Islam. Dengan mengangkat isu sektarian, harian ini berusaha menghalangi persatuan muslimin menghadapi musuh bersama.

Tentu saja Hamas pernah melakukan sejumlah kekeliruan. Namun, Dunia Islam memiliki satu musuh bersama, yaitu Rezim Zionis. Oleh karena itu, perbedaan parsial tidak seharusnya menjadikan kita searah dengan musuh dan menyebut kelompok pejuang Palestina sebagai teroris. Ini adalah sebuah kekeliruan yang telah dilakukan Arab Saudi. (af/alalam/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL