Foto: Syrian Arab Army

Foto: Syrian Arab Army

LiputanIslam.com — Hari ini, beredar luas kabar penculikan yang dilakukan oleh kelompok militan ISIL di Suria terhadap 150 siswa dan siswi Kurdi di Allepo. Dan disaat yang sama, mereka juga telah menculik 193 warga Kurdi dari berbagai jenjang usia mulai 17 hingga 70 tahun dari distrik Qabasin dekat kota al-Bab, Aleppo. Keberadaan para korban itu hingga kini masih belum diketahui. Berita selengkapnya bisa dibaca di sini.

Berbagai militan di Suriah dan aksi-aksi kejinya, sudah sangat sering diulas di Liputan Islam, misalnya:

Teroris yang memakan hati hingga merebus kepala manusia http://liputanislam.com/opini/tragedi-suriah-dari-makan-hati-hingga-merebus-kepala-manusia/

Teroris yang mengepung Kamp Yarmouk http://liputanislam.com/tabayun/siapa-yang-mengepung-yarmouk/

Teroris membunuh putra Grand Mufti Suriah http://liputanislam.com/tabayun/fitnah-voa-islam-atas-grand-mufti-suriah/

Komandan Al-Nusra yang menyamar, foto: Irib

Komandan Al-Nusra yang menyamar, foto: Irib

Mereka biasanya melakukan tindakan biadab seperti itu saat berada di atas angin — atau sedang bersama-sama dengan kelompoknya. Dada membusung gagah, langkah tegap dan memekikkan takbir. Lawan yang telah tidak berdaya dikeroyok beramai-ramai, lalu dibantai. Tapi saat sendiri atau sedang terdesak, nyalinya perlahan menciut. Mereka memulih kabur, dan  tidak malu-malu  menyamar menjadi perempuan.

Beberapa bulan lalu, Alalam (11/1/2014) melaporkan, menyusul meningkatnya pertempuran di antara kelompok bersenjata Suriah, salah seorang pemimpin Front Al Nushra mencoba melarikan diri dari Suriah dengan mengenakan pakaian wanita, sialnya ia tertangkap militer Suriah. Situs Suriah Online menulis, “Pemimpin teroris Front Al Nushra itu terpaksa memakai baju wanita untuk lolos dari pos pemeriksaan di Jusiyah.” Namanya Abu Anas Al Sahaba, pemimpin Front Al Nushra di kota Raqqa.

Lalu, Syrian Arab Army (3/6/2014) juga melaporkan, salah satu komandan dari Brigade Ahrar al-Sham’  tertangkap saat berusaha melarikan diri dan menggunakan baju wanita berwarna merah marun yang dihiasi manik-manik. Saat fotonya diambil, sang komandan diam dengan kepala tertunduk.

Apakah “Mujahidin” patut melakukan hal-hal seperti ini? Membunuh, menculik orang yang sudah tidak berdaya? Namun di kesempatan lain, mereka juga sangat pengecut dan tunggang langgang lari menyelamatkan diri  walau dengan menggunakan cara-cara memalukan seperti menyamar ? Bukankah para “Mujahidin” ini mengklaim bahwa mereka berjihad di jalan Allah — yang tentunya jika gugur, maka surga dengan 72 bidadari akan menyambutnya? Lalu, mengapa mereka malah menghindarinya? (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL