Serangan Teroris di China

Serangan Teroris di China

LiputanIslam.com – Sehari setelah dicapainya kesepakatan antara Pemerintah Cina dan Rusia tentang kontrak penjualan gas jangka panjang selama 30 tahun, tiba-tiba saja kawanan yang disebut pemerintah Cina sebagai teroris, menubrukkan 2 mobil dan melemparkan granat ke tengah-tengah kerumunan pasar di Urumqi (22/5), menewaskan 31 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Pemerintah Cina menyebutnya sebagai “insiden kekerasan teroris”. Benarkah ada teroris di Cina?

Urumqi adalah ibukota Proivinsi Xinjiang, yang merupakan wilayah Cina yang paling banyak penduduk muslimnya. Selama ini wilayah ini paling sering terjadi ketegangan sektarian antara penduduk suku Uighur yang muslim dengan warga etnis Han yang merupakan etnis mayoritas di Cina. (Liputan Islam, 22/5/2014)

Melewati 10 tahun negosiasi, akhirnya kini Rusia terdesak untuk mengembangkan pasar migasnya setelah pangsa pasar utamanya di Eropa terancam oleh sanksi-sanksi Amerika dan UNi Eropa akibat krisis Ukraina. Para pengamat memperkirakan nilai kontrak tersebut mencapai $400 miliar lebih, atau sekitar Rp 4.000 triliun, dan Presiden Putin dalam pernyataannya kepada media Rusia tentang kesepakatan dengan Cina, mengatakan, “Harganya sangat memuaskan kita semua (Cina dan Rusia).”

Dan pada hari yang sama, Rusia dan Cina kembali memveto resolusi yang didukung negara-negara Barat di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk membawa Suriah kepada Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) Kamis (22/5). Sebelumnya, kedua negara anggota tetap DK PBB itu juga sudah tiga kali menggunakan hak vetonya terhadap resolusi terkait krisis Suriah.

Mungkin kita harus kembali mundur kebelakang untuk melihat keterkaitan antara ketiga peristiwa diatas yang terlihat seperti kebetulan semata, melihat dari sudut pandang yang lebih luas untuk kemudian bisa menyimpulkan dengan bijak, apa yang sebenarnya terjadi. Saya [redaktur] akan berusaha mengulas lebih dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di belahan dunia akhir-akhir ini sebagai bahan perbandingan.

Petaka Pipa Gas Iran-Irak- Suriah

Pipa Islam

Pipa Islam

Peran sentral Suriah dalam hal pipa gas Arab adalah salah satu faktor kunci mengapa sekarang Suriah sedang menjadi target imperialisme Barat. Sama seperti Taliban yang harus disingkirkan setelah mereka menuntut terlalu banyak sebagai imbalan atas pipa Unocal, Presiden Bashar Assad harus dijatuhkan karena ia bukan “pemain” yang bisa didikte begitu saja.

Secara khusus, Turki, Israel dan sekutu mereka AS menginginkan terjaminnya aliran gas melalui Suriah, dan tidak menginginkan rezim Suriah untuk menghalangi jalur pipa tersebut, atau menuntut keuntungan yang terlalu besar. Kesepakatan juga telah ditandatangani untuk menjalankan proyek pipa gas alam dari ladang gas raksasa di Selatan Iran melalui Irak dan Suriah (dengan kemungkinan perpanjangan pipa ke Libanon).

Dan kesepakatan untuk menyalurkan minyak dari ladang minyak di Kirkuk Irak ke pelabuhan Banias di Suriah juga telah disetujui: Turki dan Israel akan didepak keluar dari persaingan pipa gas ini. Tidak heran Turki dan Israel sama-sama meluncurkan serangan militer terhadap Suriah. Di sisi lain, industri gas alam raksasa Rusia akan terancam jika rezim Suriah saat ini digulingkan, maka tidak heran Israel dan Rusia masuk ke dalam konflik Suriah. Demikian pula monarki di Qatar dan Arab Saudi juga akan diuntungkan dalam persaingan pasar gas jika rezim Suriah berhasil ditumbangkan, jadi mereka pun mendukung pemberontak.

Tidaklah sulit untuk melihat bahwa pemberontakan di Suriah mulai terjadi dua tahun yang lalu, hampir pada saat yang bersamaan dengan penandatanganan nota di Bushehr pada tanggal 25 Juni 2011 tentang pembangunan pipa gas Iran-Irak-Suriah yang baru, yang terbentang sepanjang 1.500 km dari Asaluyeh di lapangan gas terbesar di dunia, dari Pars Selatan (terletak antara Qatar dan Iran) ke Damaskus. Panjang pipa di wilayah Iran adalah 225 km, 500 km di Irak, dan di Suriah sepanjang 500-700 km. Kemudian dapat diperpanjang melalui dasar Laut Mediterania ke Yunani. Kemungkinan pasokan gas cair ke Eropa melalui pelabuhan Mediterania Suriah juga sedang dipertimbangkan. Investasi dalam proyek ini sebesar 10 miliar USD.

Proyek pipa gas ini, yang juga dijuluki Pipa Islam, akan mulai beroperasi pada periode 2014-2016. Kapasitasnya yang diproyeksikan adalah 110 juta meter kubik gas per hari (40 miliar meter kubik per tahun). Irak, Suriah dan Libanon telah menyatakan kebutuhan mereka untuk gas Iran (25-30 juta meter kubik per hari untuk Irak, 20-25 juta meter kubik untuk Suriah, dan 5-7 juta meter kubik hingga 2020 untuk Libanon). Sebagian pasokan gas akan dialirkan melalui sistem transportasi gas Arab ke Yordania. Para ahli percaya bahwa proyek ini bisa menjadi alternatif untuk pipa gas “Nabucco” yang dipromosikan oleh Uni Eropa (dengan kapasitas yang direncanakan 30 miliar meter kubik gas per tahun), yang tidak memiliki cadangan yang cukup.

Jalur pipa gas dari Iran akan sangat menguntungkan bagi Suriah. Eropa akan memperoleh keuntungan dari itu juga, tapi jelas seseorang di Barat tidak menyukainya. Sekutu-sekutu pemasok gas Barat di Teluk Persia juga tidak senang dengan itu karena : Turki tidak akan menjadi pemasok gas no.1, karena kemudian akan keluar dari permainan.

Berikut inilah nasib Suriah yang direncanakan oleh Barat dan sekutu-sekutu mereka: Bagian-bagian dari wilayah Suriah di mana detasemen pemberontak beroperasi dengan dukungan dari Amerika Serikat, Qatar dan Turki, yaitu wilayah utara, Homs dan wilayah sekitar Damaskus, yang bertepatan dengan rute pipa adalah menuju ke Turki dan Tripoli, Lebanon. Sebuah perbandingan peta konflik bersenjata dan peta rute pipa Qatar menunjukkan hubungan antara kegiatan bersenjata dan keinginan untuk mengendalikan wilayah Suriah.

Sekutu Qatar berusaha untuk mencapai tiga tujuan: untuk mematahkan monopoli gas Rusia di Eropa, Turki bebas dari ketergantungan pada gas Iran, dan untuk memberikan Israel kesempatan untuk mengekspor gas ke Eropa melalui darat dengan biaya kurang.

Seorang analis dari Asia Times, Pepe Escobar mengatakan bahwa Emir Qatar tampaknya membuat kesepakatan dengan Ikhwanul Muslimin yang akan mendukung ekspansi internasional mereka dalam pertukaran untuk sebuah pakta perdamaian dengan Qatar. Rezim Ikhwanul Muslimin di Yordania dan di Suriah, yang didukung oleh Qatar, tiba-tiba akan mengubah seluruh geopolitik pasar gas dunia  – jelas mendukung Qatar dan merugikan Rusia, Suriah, Iran dan Irak. Ini juga akan menjadi pukulan telak ke China.

Perang melawan Suriah bertujuan untuk ambisi Barat beserta sekutu mereka, serta menghancurkan kesepakatan antara Teheran, Baghdad dan Damaskus. Implementasi proyek pipa gas Iran-Irak-Suriah telah dihentikan beberapa kali karena aksi militer, tetapi pada Februari 2013 Irak menyatakan kesiapannya untuk menandatangani perjanjian kerangka kerja yang akan memungkinkan proyek pembangunan pipa tersebut.

Referensi:
http://www.sott.net/article/262416-Syrian-Opposition-Armed-to-block-Iran-Iraq-Syria-gas-pipeline-construction
http://subrealism.blogspot.com/2013/05/do-western-governments-and-proxies-want.html
[Diterjemahkan dan dipublikasikan pertama kali di Berita Harian Suriah]

Bersambung ke bagian kedua

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL