proxy warLiputanIslam.com – Pada tahun 2013, saat konflik Suriah semakin memuncak dimana akhirnya gerakan perlawan Hizbullah terjun langsung ke gelanggang perang, dan pertempuran yang semakin sengit juga tidak dapat dielakkan—dengan penuh harap Bandar bin Sultan akhirnya berkunjung ke Rusia. Menemui Presiden Putin untuk membujuknya agar melepaskan dukungannya kepada Bashar al-Assad.

Saat itu, Bandar menawarkan berbagai “mahar” jika Putin bersedia berhenti mem-backing Assad, seperti akan membeli persenjataan dari Rusia senilai miliaran euro hingga harga spesial dalam segenap transaksi antara Riyadh –Moskow. Namun sayang, Bandar bertepuk sebelah tangan, Putin sama sekali tidak bisa dirayu oleh segala bentuk iming-iming tersebut.

Bandar pun tak kehabisan akal. Dia kembali merayu Putin dengan memberikan jaminan keamanan dengan turut serta melindungi Olimpiade Musim Dingin di kota Sochi di Laut Hitam yang dilaksanakan pada tahun 2014.

“Kelompok Chechnya yang mengancam keamanan permainan Olimpiade dikendalikan oleh kami”, demikan penyataan Bandar waktu itu.

Putin tetap menolak. Dan penolakannya berujung pada meledaknya dua bom beruntun di kota Volgograd Rusia pada Ahad sore (29/12/13) yang menewaskan 32 orang. Tentu saja, ledakan ini menciptakan kecurigaan besar terhadap kepada Arab Saudi dan sekutunya, dan serangan ini diterjemahkan sebagai peringatan kepada Putin supaya mengendorkan dukungannya kepada Suriah.

Bill Van Auken,seorang pengamat politik dalam artikel bertajuk “Terror bombings kill at least 32 in southern Russia” di situs World Socialist Web menulis, “Timbul spekulasi terbuka di pers Rusia bahwa serangan teror terbaru adalah karya rezim yang didukung AS di Timur Tengah sebagai pembalasan atas keberhasilan diplomatik Moskow dalam mengalihkan Washington terhadap upaya intervensi militer secara langsung untuk menggulingkan pemerintah Presiden Bashar al-Assad di Suriah.”

Baca juga: Terorisme di Cina, Agenda Siapa?

Suriah, Rusia, dan Cina Hari Ini

Kebijakan yang diambil Rusia dan Cina dengan memveto keputusan PBB untuk membawa Suriah kepada Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC), merupakan indikasi atas “kokohnya’ jalinan persahabatan antara ketiga negara tersebut. Baik Rusia maupun Cina, memiliki kepentingan yang sangat besar di Suriah, apalagi, Suriah adalah satu-satunya negara yang anti-AS di kasawan Arab, sehingga penting bagi keduanya untuk mempertahankan Suriah – jangan sampai Suriah dikendalikan oleh boneka-boneka AS sebagaimana Libya.

Di berbagai tempat, kita seringkali melihat “perang” yang terjadi antara AS, Cina dan Rusia. Misalnya di Ukraina. Merasa memiliki kepentingan atas Ukraina dan merasa bahwa kepentingannya terganggu, perang pun pecah di Ukraina yang melibatkan AS dan Rusia.

Di Nigeria, negara yang menjalin hubungan baik dengan Cina, kini menjelma menjadi negara gagal akibat aksi terorisme yang dilakukan oleh Boko Haram, militan turunan Al-Qaeda yang dipersenjatai oleh NATO. Keberadaan Boko Haram dan militan turunan Al-Qaeda lainnya di benua hitam tersebut, digunakan sebagai alat untuk mereduksi pengaruh Cina di kawasan Afrika.

Bahkan konflik Sampang yang terjadi pada tahun 2012 yang menyebabkan kaum muslim Syiah terusir dari rumahnya hingga kini, disinyalir lantaran adanya persaingan antara AS dan Cina, untuk memperebutkan “harta karun” yang tergenang di Sampang.

Nah, akibat veto dari Rusia dan Cina, Suriah pun lagi-lagi gagal untuk mereka kuasai. Apalagi, aliansi anti-Assad kini harus merasakan ketakutan menjelang pemilu di Suriah – yang hasilnya akan menjadi bukti otentik – apa yang sebenarnya diinginkan oleh rakyat Suriah. Mengacu pada survey yang dipublikasikan NATO tahun lalu, diketahui bahwa 70% rakyat Suriah menginginkan Bashar al-Assad, dan banyak pengamat memprediksi, bahwa pemilu ini hanyalah sekedar ‘peresmian’ kemenangan Assad.

Dengan kembalinya Assad sebagai pemimpin Suriah, atau jikalaupun yang terpilih ternyata kandidat yang lain, tetap saja AS dan sekutunya menelan pil pahit: pemimpin Suriah bukan boneka mereka. Tapi untuk menghukum Suriah dengan meminjam tangan PBB, juga tidak mungkin karena seteru abadi mereka Cina dan Rusia, tidak pernah mengiyakan setiap intervensi atas Suriah.

 

Al-Qaeda, Dari Rahim Amerika Serikat

Al- Qaeda, kelompok militan yang acapkali dielu-elukan sebagai mujahidin ini sesungguhnya adalah bentukan Amerika Serikat di akhir tahun 1970-an yang bertujuan untuk melawan Uni Sovyet. CIA menemukan fakta menarik bahwa bangsa Arab fanatik datang berbondong-bondong untuk membantu Afghanistan, dan CIA tahu persis bagaimana cara yang mudah untuk menunggangi kepentingan masyarakat pribumi.

Walaupun para relawan dari Arab mungkin akan menyulitkan dikemudian hari, CIA masih berkompromi karena setidaknya saat itu, mereka masih berada di barisan yang sama, yaitu anti Uni Soviet. Jadi Osama bin Laden , bersama dengan sekelompok kecil militan Islam dari Mesir, Pakistan, Lebanon, Suriah dan kamp-kamp pengungsi Palestina di seluruh Timur Tengah, menjadi mitra handal CIA dalam perang melawan Moskow.

AS, sebisa mungkin tidak akan mengotori tangannya sendiri untuk melawan musuh-musuhnya, melainkan memainkan skenario “nabok nyilih tangan” atau proxy war. Dan apakah sebuah kebetulan, jika yang mereka persenjatai dan mereka bina, selalu berasal dari kalangan Islam ekstremis sebagaimana telah terjadi di Suriah, Libya, Nigeria dan berbagai tempat lainnya?

Lalu, apakah AS dan sekutunya kini tengah menggunakan “tangan” yang sama guna menyebarkan teror untuk “menghukum” Cina atas kerjasama gasnya dengan Rusia [yang berarti menggagalkan rencana AS untuk menjatuhkan ekonomi Rusia] dan juga atas dukungannya kepada Suriah? Waktu yang yang akan menjawab, karena kebenaran, cepat atau lambat akan terungkap. (ba/LiputanIslam.com)

 

Referensi:

Liputan Islam: Al-Qaeda, Putra Kandung Amerika Serikat

Islam Times: Bandar bin Sultan Benar-Benar Membuktikan Ancamannya

Al- Monitor: Saudi Arabia Tries to Cut a Deal With Russia Regarding Syria

Liputan Islam: Pak Tifatul, Boko Haram Bukan Sekedar Halal Haram

Intelejen.co.id: Persaingan AS –Cina Picu Konflik Sunni Syiah di Sampang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL