LiputanIslam.com–buya-hamka-2Berikut ini tulisan Buya Hamka di majalah Gema Islam no. 28 tahun II, 15 Maret 1963, yang dimuat ulang di buku “Hamka Membahas Soal-Soal Islam” (editor: H. Rusydi Afif, penerbit: Gerhana, Kuala Lumpur). Beliau menjawab pertanyaan pembaca tentang aliran Ismailiyah. Demikian jawaban Buya Hamka:

Ismailiyah dibangsakan kepada Imam ke VI Kaum Syiah, yaitu Ismail putera dari Ja’far Ash-Shadiq. Pokok kepercayaan dari kaum Syiah ialah bahwa Ummat Muhammad wajiblah selalu dipimpin oleh seorang Imam, dan Imam itu bukanlah diangkat oleh orang banyak, melainkan ditetapkan oleh Tuhan, melalui wasiat yang disampaikan oleh Nabi.

Imam pertama: Ali bin Abi Thalib.

Imam kedua: Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Imam ketiga: Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Imam Keempat: Ali Zainal Abidin bin Husein.

Keterangan: Sampai kepada Imam Keempat ini terjadi pertikaian pendapat. Kata yang setengahnya pula yang berhak menjadi Imam Keempat ialah Muhammad Ibnu Hanafiyah, putera Ali bin Abi Thalib yang lain, tetapi ibunya bukan Siti Fatimah anak Rasulullah. Pengikut faham ini bernama Kisaniyah.

Ali Zainal Abidin (Imam Keempat) sangat diagungkan oleh orang Iran, sebab ibunya ialah seorang puteri dari Raja Iran yang tertawan dalam perang, lalu ditebus oleh Ali bin Abi Thalib dan dijadikan istri anaknya Husein.

Imam kelima: Muhammad Al-Baqir.

Imam Keenam: Ja’far Ash-Shadiq.

Maka timbullah pula pertikaian faham tentang Imam Ketujuh. Sebab, Ja’far Shadiq meninggalkan dua putera yang terkemuka, yang tertua Ismail dan yang kedua Musa.

Maka satu golongan mengatakan bahwa Imam ketujuh ialah Ismail. Sebab itu mereka pun bernama Sab’iyah (Kaum Ketujuh), Kaum Karamitah, Fathimiyah, Hasyasyin pengikut Hasan bin Sabah, pengikut Aga Khan di India, Pakistan dan sedikit di Iran adalah mempercayai Imam ketujuh ialah Ismail. Merekalah yang bernama Kaum Ismail itu.

Yang selainnya mengaku:

Imam ketujuh: Musa Al-Kazbin  [Musa al Kazim–red].

Imam kedelapan: Ali Ar-Ridha.

Imam kesembilan: Muhammad At-Taqiy (Aljawwad).

Imam kesepuluh: Ali An-Naqiy.

Imam kesebelas: Hasan Al-Askariy.

Imam keduabelas: Imam yang Ghaib, yang ditunggu datangnya kembali (Al-Muntazar). Dialah Imam Mahdi.

Imam ini telah ghaib dalam usia 7 atau 9 tahun di Samarra.

buya hamka1

Yang percaya kepada dua belas Imam ini bernama Syi’ah Astna Asyriyah. Pengikutnya yang terbanyak ialah di Iran, dan Kerajaan Iran sekarang ini berdiri [Iran saat itu berbentuk monarkhi dan dipimpin Shah Pahlevi–red] atas kepercayaan yang demikian.

Imam yang kedua belas itu menurut kepercayaan Kaum Syiah akan datang kembali di dunia ini membawa petunjuk jalan yang benar dan menjadi hakim yang adil. Itulah Imam Mahdi. Dan kepercayaan ini masuk pula pengaruhnya kepada kaum Sunni melalui Kaum Shufi. Sangat mendalam pengaruhnya atas Islam Kejawen, sehingga datang kepercayaan menunggu kedatangan “Ratu Adil”. Berpengaruh pula di Makasar dan Bugis, menunggu kedatangan Kara Eng Data di tanah lapang Karebosi!

Pada pokoknya Kaum Syiah Ismailiyah masih mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Apatah lagi zaman akhir-akhir ini, setelah selalu berhadapan dengan penjajahan Barat yang hendak merussak binasa Kesatuan Kaum Muslimin, keinsyafan Kesatuan itu telah tumbuh di mana-mana, dalam kalangan Kaum Ahli Sunnah ataupun Kaum Syiah.

Kaum Syiah mengakui sebagai kita juga. Tidak ada Tuhan Selain Allah. Tidak Ada Nabi Sesudah Muhammad. (dw)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL