Ahmad Kuftaro web

LiputanIslam.com– Ada fakta yang menarik setelah membaca keseluruhan isi wawancara antara team Liputan Islam dengan seorang warga NU yang kini tengah berada di Suriah. Dalam wawancara tersebut, diketahui bahwa si narasumber kuliah di universitas  Om Durman cabang Mujamma’ Syekh Ahmad Kuftaroo Damaskus.

Coba perhatikan nama cabang universitasnya, yaitu Syekh Ahmad Kuftaroo.  Beliau adalah Grand Mufti Suriah yang digantikan oleh Sheikh Ahmad Hassoun lantaran beliau berpulang ke pangkuan Allah. Lazimnya, nama seseorang yang diabadikan menjadi sebuah nama jalan, nama universitas, nama gedung dan sebagainya, adalah wujud penghormatan, penghargaan dan agar jasa beliau akan selalu terkenang di dalam lembaran sejarah.

Beliau adalah seorang Sunni, pimpinan Tarekat Sufi Naqsyabandiyah dan termasuk salah satu pendiri Liga Muslim Dunia. Menjadi Mufti Damaskus pada tahun  1946, kemudian beliau menjabat sebagai Grand Mufti Damaskus pada tahun 1958, and dan akhirnya menjadi Grand Mufti Suriah pada tahun in 1964 sampai wafatnya tahun 2004.

Artinya, berita selama ini yang beredar bahwa muslim Sunni dibunuhi, dianiaya, dizalimi dan dinistakan adalah bohong belaka. Bagaimana bisa seorang ulama Sunni memegang tanggung jawab ‘mengurus’ kehidupan beragama dari 23 juta penduduk Suriah selama puluhan tahun lamanya  jika pernyataan ‘muslim Sunni dibunuhi, dianiaya, dizalimi dan dinistakan adalah benar? (LiputanIslam/AF)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL