foto: shotussalam

foto: shotussalam

LiputanIslam.com — Foto puluhan anak-anak berseragam militer, wajah tertutup dan memegang senapan, dirilis oleh shotussalam.com, media pendukung ISIS di Indonesia. Dilaporkan, anak-anak tersebut dilatih secara khusus oleh ISIS, di wilayah Damaskus.

Prof Michel Chossudovsky, penulis buku  America’s War on Terorism menyatakan, Amerika Serikat telah menerbitkan buku-buku  jihad, dan untuk program tersebut, AS menghabiskan jutaan dolar. Buku-buku tersebut lantas disebarkan di sekolah Afghanistan, sehingga anak-anak di negara itu, sedari kecil telah didoktrin dengan kekerasan dan ideologi Islam radikal. Buku itu berisi tentang jihad, dengan menampilkan gambar-gambar senjata, peluru, tentara, dan menjadi bagian dalam kurikulum inti di sekolah.

Berikut ini, adalah contoh buku jihad di Afghanistan;

afganistan buku jihad

contoh buku jihad Afghanistan

“Jihad – Often many different wars and conflicts arise among people, which cause material damages and loss of human life. If these wars and disputes occur among people for the sake of community, nation, territory, or even because of verbal differences, and for the sake of progress…” [http://www.worldpolicy.org/journal/articles/wpj02-1/Davis.pdf]

Apa dampaknya bagi Afghanistan?

Foreign Policy, pada tahun 2013 merilis daftar negara yang termasuk dalam ‘failed state’ atau negara gagal. Dari 25 negara yang digolongkan failed state, Afghanistan menempati urutan ketujuh, berdampingan dengan Haiti dan Yaman. Afghanistan disebut sebagai negara dengan kondisi keamanan yang lemah, dan pemerintahannya juga lemah.

Di Afghanistan, bercokol teroris Taliban, yang merupakan hasil karya AS di tahun 70-an, namun kini menjadi musuh yang diperangi. Kelompok ini didominasi etnis Pashtun, yang memerintah Afghanistan sejak 1996 hingga 2001.

Taliban dibentuk oleh faksi mujahidin Afghanistan, para jihadis Islam yang menolak pendudukan Soviet di Afghanistan (1979-1989), dan tentunya dengan dukungan rahasia dari Central Intelligence Agency (CIA) dan ‘rekannya’ di Pakistan yaitu Inter-Services Intelligence (ISI).

Dan kini, drone AS tanpa henti menyerang Afghanistan – dengan dalih untuk memerangi Taliban. Namun seperti pada umumnya yang terjadi dalam serangan pesawat tak berawak, korban jiwa yang jatuh jutru kebanyakan berasal dari rakyat sipil. Tidak heran jika kemudian, para penduduk asli Afghanistan memilih kabur dari negaranya, dan mencari suaka ke Australia.

Kembali kepada kasus anak-anak di Suriah, di daerah yang kini dalam cengkraman ISIS, mereka pun mendapatkan pelajaran serupa. Mereka mendapat berbagai pelatihan militer dasar, seperti bongkar-pasang senjata laras panjang, dan latihan akurasi penembakan dengan menggunakan senjata AK-47. Tak hanya teknik memakai senjata, anak-anak itu juga mendapat berbagai ilmu syar’i di dalam mu’askar atau kamp pelatihan. Mengingat ISIS menganut ideologi wahabi takfiri yang radikal, maka, sangat besar kemungkinan bahwa pemahaman itu pula yang ditanamkan kepada anak-anak tersebut.

Lantas, apa yang akan terjadi pada Suriah kelak? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL