Assalamu’alaikum Bapak Tifatul Sembiring

TIfatul SembirinIni adalah surat kedua saya untuk Bapak. Ceritanya, kemarin ada seorang teman yang mengunggah foto beberapa kepala yang terputus dari badan, yang berserakan di sebuah tempat. Jantung saya hampir copot, karena saya benar-benar tidak tahan melihat gambar-gambar sadis seperti itu. Gambar tersebut  adalah hasil dari ‘penyembelihan’ yang dilakukan gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Pak Tifatul, setahu saya, pemerintah Indonesia telah dengan resmi melarang gerakan ISIS di Indonesia. Tapi entah mengapa, hingga hari ini, saya masih banyak melihat adanya situs-situs pendukung ISIS – maupun pendukung teroris lainnya, yang dibiarkan tetap eksis dan menyebarkan ideologinya. (Baca juga: Pak Tifatul, Boko Haram Bukan Sekedar Halal Haram)

Aparat menangkapi tukang es yang mengibarkan bendera ISIS, tapi ironisnya, web-web populer yang saban hari mencuci- otak masyarakat dengan paham radikal justru bebas lepas. Apakah sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak tidak sanggup untuk memblokir situs-situs tersebut?

Sementara dilain pihak, Bapak sangat rajin memblokir beragam situs-situs yang Bapak anggap kurang patut. Artinya, Bapak memiliki kewenangan untuk melakukannya. Lalu mengapa di hadapan situs-situs radikal tersebut, Anda tidak berdaya, Pak? (Baca juga: Majalah ISIS, Eksis)

Muhammad Amrullah, dari PCINU Mesir mengungkapkan bahwa akar terorisme dan radikalisme adalah ideologi dan doktrin keliru yang telah mencuci otak, sehingga hal keliru dianggap  benar. Contohnya, ideologi yang mengkafirkan kelompok lain/ Takfiri. (Nu Online, 30 Maret 2014).

Sehingga, bisa disimpulkan bahwa paham Takfiri dan tiadanya toleransi terhadap pihak lain yang memiliki keyakinan berbeda, merupakan cikap bakal berkembangnya terorisme. Yang berbahaya bukan hanya teroris, namun juga pihak-pihak yang dengan sengaja menyulut perpecahan dengan menggoreng isu-isu SARA, ataupun yang melakukan propaganda dan fitnah dengan mengatas-namakan agama.

Dan apakah Bapak tahu, siapa saja pihak-pihak yang getol mengkampanyekan anti-perbedaan, mengobarkan kebencian dan kata-kata cacian kepada pihak lain yang berseberangan? (Baca: Potret Jihad ISIS: Menghancurkan Masjid)

Dan apakah Bapak tahu, kelompok ini memanfaatkan internet sebagai alat untuk memuluskan aksinya? Mereka membuat blog, website, halaman Facebook, dll, yang perlahan tetapi pasti, berhasil menarik minat masyarakat awam, untuk turut bergabung dalam gerakan ISIS.

Entah sudah berapa banyak korban jiwa yang berjatuhan di negara Suriah dan Irak. Begitu pula halnya dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah – Afrika yang dimasuki oleh teroris cabang Al-Qaeda. Negara-negara yang berdaulat luluh lantak, dan butuh waktu panjang untuk memperbaikinya. Tapi kapan waktu untuk memperbaiki itu tiba, jika teroris-teroris tersebut terus saja bermunculan?

Bahkan kini Boko Haram, yang pernah Bapak jadikan candaan beberapa bulan yang lalu, sekarang telah ikut-ikutan mendeklarasikan Khilafah Islamiyah di Nigeria, pasca jatuhnya kota Gwoza.

Bapak Tifatul yang terhormat. Para pahlawan kita, rela mengorbankan jiwa raganya untuk tanah air. Agar kita bisa hidup damai, tentram, tanpa adanya peperangan melawan penjajah. Alangkah kecewanya mereka, jika mengetahui para putra bangsa Indonesia, justru mengangkat senjata di Timur Tengah, dan memerangi sebuah negara atas nama menegakkan syariat Islam. (Baca juga: Agenda ISIS Hancurkan Candi Borobudur)

Jadi, sekali lagi saya meminta kemurahan hati Pak Tifatul, untuk turut andil menyelamatkan bangsa ini dari upaya penciptaan teroris-teroris baru. Blokir semua situs-situs itu, kendati Anis Matta, presiden partai Bapak (PKS), adalah pemuja Osama bib Laden, gembong teroris Al-Qaeda. Demi Indonesia, mohon hilangkan rasa sungkan Anda kepada Anis Matta. Terimakasih. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL