sumber foto: islam toleran

sumber foto: islam toleran

LiputanIslam.com — Assalamu’alaikum Islamtoleran.com, apa kabar? Semoga senantiasa sehat. Melalui surat terbuka ini, ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan terkait pemberitaan Anda.

Di sini Anda mengabarkan, bahwa artis Oki Setiana Dewi (OSD) telah ditipu oleh Partai Keadilan Sejahtera. Artis yang populer melalui film Ayat-ayat Cinta tersebut, menurut Anda, telah mengeluh di Twitter, lantaran hak yang harusnya diterima oleh adiknya yang dalam iklan PKS – ternyata belum dibayarkan. Sebagai buktinya, Anda melampirkan foto screenshoot kicauan tersebut.

Namun setelah kami selidiki, ternyata kicauan tersebut tidak ada di timilene OSD. Dan karena itulah, pertanyaan kami kepada Anda adalah, darimana Anda mendapatkan foto tersebut? Anda ambil sendiri, atau mendapatkan dari pihak lain?

Jika Anda mengambil gambar tersebut sendiri, bisakah kami meminta link kicauannya? Saat Anda mengambil foto sebagai barang bukti, kami yakin Anda juga akan menyimpan link-nya. Namun jika Anda mendapatkan foto tersebut dari pihak lain, maka, siapa dia? Bolehkah kami menghubunginya?

Pertanyaan kedua kami untuk Anda, sebelum Anda mempublikasi berita tersebut, sudahkah Anda mengkonfirmasi langsung kepada OSD bahwa kicauan tersebut, memang benar adanya? Jika sudah, maka, melalui apa Anda melakukan konfirmasi, bertemu langsung, melalui telepon, email, atau media sosial? Namun jika belum, mengapa Anda masih mempublikasikan artikel tersebut? Tanpa adanya keterangan resmi darinya, bukankah artikel Anda tersebut tak lebih dari sekedar isu atau gosip?

Dalam menyajikan sebuah berita, cover both side of story adalah sebuah kewajiban. Katakanlah si A dan si B terlibat konflik, maka tugas media adalah, mengabarkan konflik tersebut secara utuh. Dari berita Anda, bisa disimpulkan bahwa ada sedikit konflik antara PKS dengan OSD. Lalu, Anda menjadikan kicauan OSD sebagai rujukan. Pertanyaan ketiga dari kami, mengapa Anda tidak meminta keterangan dari PKS untuk memastikan apakah kicauan OSD tersebut memang  benar? Dengan mengabaikan keterangan dari kedua belah pihak ini, penyimpangan atau penyesatan informasi semakin terbuka lebar. Walaupun kita memiliki perbedaan pandangan politik ataupun agama terhadap pihak manapun, tetap saja, saat Anda memposisikan diri sebagai media, maka kepentingan itu harus disingkirkan – dan tunduk sepenuhnya terhadap kaidah-kaidah jurnalistik.

Mengapa kami mempertanyakan hal ini?

Mari, kami mengajak Anda untuk menyimak kasus Rachmawati dan AirAsia yang sempat menghebohkan dunia maya. Rachmawati, menjadi sasaran bully oleh netizen dan fotonya disebarluaskan – akibat statusnya yang kontroversial atas musibah yang menimpa pesawat AirAsia. Namun apa yang terjadi kemudian? Ternyata akunnya diretas sejak lama!

Sayang sekali, konfirmasi dilakukan belakangan. Netizen sudah terlanjur menghujat remaja berjilbab tersebut, dan berbagai media juga turut menggoreng ceritanya berulang-ulang, menjadi santapan nikmat di tengah tangis keluarga korban kecelakaan AirAsia. Rachmawati, dicemarkan nama baiknya oleh pihak yang tak bertanggung jawab, hingga gurunya pun turut bereaksi.

Belajar dari kasus Rachmawati, tentunya akan muncul spekulasi-spekulasi lain terhadap validitas sebuah akun media sosial. Jika akun Rachmawati belakangan diketahui telah diretas, maka, apakah Anda—IslamToleran–  bisa memastikan bahwa akun OSD tidak dalam keadaan diretas pada saat ia berkicau demikian?

Dan yang terakhir, coba Anda perhatikan kicauan OSD, yang bertanggal 20 September 2014. Sedangkan Anda mempublikasi artikel terkait pada tanggal 29 Desember 2014. Tiga bulan setelah kicauan tersebut terjadi baru Anda sebarkan kepada pembaca. Ibarat padi yang berumur tiga bulan, tentulah tidak sama lagi bentuknya dengan yang baru ditanam di sawah. Begitu pula dengan berbagai kasus, yang setiap saat bisa berubah seiring berjalannya waktu. Katakanlah kicauan OSD tersebut benar adanya, lantas, apakah kasusnya masih stagnan hingga tiga bulan kemudian? Jika iya, maka judul “OSD Ditipu PKS” tentunya masih relevan. Namun, bagaimana jika yang terjadi adalah kemungkinan lain, misalnya, kasus tersebut diselesaikan dengan kekeluargaan. Jika sudah begini, maka judul yang Anda gunakan adalah sebuah penipuan baru…

Kami sama sekali tidak sedang membela PKS, ataupun beraffiliasi dengan PKS. Bahkan, tokoh-tokoh PKS seperti Anis Matta dan Tifatul Sembiring, sangat sering kami kritik atas berbagai pernyataannya. Kami juga tidak segan-segan mengkritik PKS Piyungan, Dakwatuna, ataupun Islampos. Bahkan, Anda pernah mempublikasi ulang artikel kami yang berjudul ‘Media Islampos, Mempermalukan Kebesaran Islam‘ kan?

Kami meyakini, bahwa jurnalis dan wartawan memang harus berpihak. Media massa juga harus berpihak. Tapi bukan berpihak kepada kepentingan pribadi, kelompok, maupun kepentingan penguasa. Kita semua, hanya boleh berpihak kepada kebenaran. Demikian. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL