LiputanIslam.com— Salah satu dampak dari serangan Arab Saudi terhadap Yaman adalah kini Al Qaeda Yaman (AQAP) semakin menguat, memiliki “negara mini” di bawah kekuasaannya sendiri, yang mendapatkan dana dari merampok bank-bank lokal dan memungut pajak di pelabuhan setempat.

Jika ISIS di Suriah menjadikan Raqqa sebagai ibukotanya, maka AQAP memiliki Mukalla, sebuah kota pelabuhan di tenggara Yaman yang berpenduduk sekitar 500.000 orang. AQAP menghapuskan pajak bagi penduduk lokal, mengoperasikan kapal cepat yang diawaki oleh pejuang-pejuangnya yang dilengkapi senjata, mengenakan biaya terhadap kapal yang lalu lalang dan menyebarkan video propaganda.

Menurut rilis dari pemerintah Yaman, per harinya AQAP mendapatkan sekitar $1,4 juta dari penjualan minyak dan sekitar $2 juta dari pajak kapal yang masuk ke pelabuhan.

AQAP berbangga diri karena berhasil mengontrol Mukalla, dengan hanya 1.000 orang anggota saja. Wilayah ini memang merupakan wilayah yang terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian dari elit pemerintah.

AQAP mengadopsi banyak taktik yang digunakan oleh ISIS di Suriah dan Irak, AQAP pun berupaya memperluas wilayah kekuasaannya sendiri. Bahaya lainnya adalah kelompok ini juga berusaha untuk mendoktrin penduduk lokal dengan ideologi garis keras tersebut.

Siapa yang paling bertanggung jawab atas memburuknya situasi di Yaman saat ini? Ribuan warga Yaman telah gugur. Infrastruktur rusak berat dan penduduk terpaksa mengungsi.

Meski demikian, rakyat Yaman tetap melawan.

Ada hal yang sangat kontradiksi dari sikap Saudi dan sekutunya. Mereka menyerang Yaman dengan dalih ingin menumpas pejuang revolusioner Ansarullah yang dianggap teroris. Namun bagaimana sikap mereka terhadap kelompok teroris AQAP yang kini semakin berkembang di Yaman?

“AQAP berhasil menjarah uang di Mukalla senilai $100 juta, dan jumlah ini sangat besar, cukup untuk mendanai operasi mereka setidaknya selama 10 tahun,” ujar sumber-sumber di Yaman, sebagaimana dilansir Reuters, (8/4/2016).

Apakah mereka diserang oleh pasukan koalisi Arab? Tidak!

BBC (22/2/2016) mengklaim menemukan bukti bahwa pasukan koalisi Arab dan AQAP bahu membahu saling membantu memerangi kelompok Ansarullah.

Pada kunjungan ke garis depan dekat kota Taiz, pembuat film dokumenter mendokumentasikan para jihadis AQAP, dan pasukan koalisi Saudi ketika bekerjasa sama di medan tempur, meskipun selama ini mereka selalu membantah.

Jika memang Saudi dan sekutunya komitmen dalam memerangi terorisme, mengapa mereka hanya memerangi Ansarullah, sementara dengan AQAP malah menjalin kerjasama? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL