bahrain revolusiKetika media-media Arab dan Barat begitu intens memberitakan ke seluruh dunia perihal ‘revolusi ‘ di Suriah, maka tidak demikian halnya yang terjadi di Bahrain. Sejak 14 Februari 2011, rakyat Bahrain tumpah ruah turun ke jalan menuntut dipenuhinya hak-hak mereka sebagai warga negara. Telah tiga lebih mereka berjuang tanpa lelah, dan pernahkah sekali saja kita mendengar Barack Obama berkata, ‘Al-Khalifa harus mundur’ sebagaimana yang ia katakan terhadap Suriah, bahwa Assad harus mundur?

Sepertinya tidak. Begitu pula halnya dengan pemimpin Arab yang lain seperti Arab Saudi, dan Qatar. Mereka semuanya bungkam. Yang tak kalah ironis, media-media pendukung ‘revolusi’ Suriah terkesan menolak dan menutupi aspirasi rakyat yang terjadi di Bahrain.

Kemarin, 14 November 2014, rakyat Bahrain kembali turun ke jalan. Dari laporan Press TV, mereka berdemonstrasi untuk menuntut pembebasan aktivis yang beberapa waktu lalu ditangkap dan ditahan oleh pihak keamanan rezim. Sayang, usaha mereka tidak membuahkan hasil, lantaran sebagaimana yang sudah-sudah, aparat membubarkan mereka dengan menembakkan gas air mata.

Dalam ‘revolusi’ Suriah, keterlibatan pihak asing sangat kentara. Sejak revolusi meletus pada bulan Maret 2011, banyak negara yang serentak mendesak Bashar al-Assad, Presiden Suriah, untuk mundur. Tak lama kemudian, Suriah dibanjiri jihadis-jihadis dari puluhan negara, yang mempertontonkan kebengisan tanpa henti di depan kamera. Mereka menggunakan senjata-senjata buatan Amerika Serikat dan Israel.

Namun dalam revolusi Bahrain, sama sekali tidak ditemukan keterlibatan pihak asing. Tidak ada aliran jihadis maupun senjata. Rakyat Bahrain murni bergerak sendiri, dan masih setia pada semangat revolusi. Revolusi rakyat Bahrain bergerak dengan kekuatan masyarakat penganut Sunni maupun Syiah, dan kekuatan nasionalis kiri.

Iran Dituduh Berebut Kekuasaan di Bahrain

Rezim Al-Khalifa, khawatir terhadap berulangnya Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang menumbangkan Syah Reza Pahlevi. Ia pun mulai menyebarkan propaganda, bahwa pelaku revolusi tersebut adalah orang-orang Syiah yang bersimpati terhadap Iran, dan mereka tidak bisa dipercaya.

Ali Shukari, jurnalis Al-Monitor menyebutkan bahwa klaim ini tidak benar. Selama ini Rezim Al-Khalifa sering bertindak brutal dalam menghadapi demonstran damai. Selain itu, menurut Ali, rezim Al-Khalifa juga tidak menghormati keberagaman di Bahrain, yang terbukti dengan tindakannya membubarkan Dewan Fiqih Syiah, sebuah lembaga yang memegang otoritas terbesar dari penganut Syiah di Bahrain. (Al Monitor, Februari 2014)

Yang tak kalah pentingnya adalah, revolusi Bahrain berlangsung dengan damai. Pihak yang menuntut terjadinya reformasi, tidak mengangkat senjata sebagaimana Free Syrian Army di Suriah. Jihadis semacam Al-Qaeda, ISIS, dan affiliasinya juga tidak ditemukan di Bahrain. Dan di lain sisi, rezim Bahrain membiarkan wilayahnya menjadi pangkalan militer Armada Kelima AS.

Pada bulan Desember silam, pihak berwenang Bahrain mengumumkan penyitaan sebuah kapal yang membawa senjata dan bahan peledak. Meskipun kapal itu berasal dari Irak, mereka menuduh bahwa Iran merupakan dalang utama di balik pengiriman. Rezim juga menuding bahwa rakyat yang menuntut revolusi tengah dilatih, memperoleh senjata, dan bersekongkol dengan pihak luar, seperti Iran, Suriah, Irak dan Hizbullah. Dan sampai kini, tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Sejak awal krisis, lebih dari 3.000 orang, termasuk aktivis, pengacara, anak-anak dan wanita, telah ditangkap. Bahkan ibu hamil ditangkap, seperti yang dialami oleh Bahrain Nadia al-Ali. Menurut asosiasi Bahrain dan internasional, lebih dari 21 anak-anak tewas akibat penyiksaan  yang dilarang secara internasional.

Ironisnya lagi, kepala intelijen Saudi, Pangeran Turki Al-Faisal Al-Saud, mengumumkan di Washington bahwa Iran telah mengganggu Bahrain sejak revolusi 1979. Ia juga menyatakan bahwa Arab Saudi tidak akan pernah menerima jika Iran merebut kekuasaan di Bahrain. Namun realitanya, disaat rakyat Bahrain melanjutkan aksi unjuk rasa menentang rezim al-Khalifa, Arab Saudi mengirim bantuan militer sejak awal revolusi. Al-Masry al-Youm melaporkan Riyadh mengirimkan 30 tank ke Bahrain untuk mendukung pemerintahan al-Khalifa dan memberangus suara protes rakyat Bahrain yang semakin meningkat. Tak hanya itu, Saudi juga juga mengirim sekitar 1.000 tentaranya ke Bahrain.

Jadi, siapa sesungguhnya yang ‘menganggu’ Bahrain, Iran atau Arab Saudi? Dan jika di Suriah, Arab Saudi turut memerangi Assad, mengapa di Bahrain mereka justru mendukung rezim yang berkuasa?

Semoga Indonesia selamat dari makar, tipudaya, dan kezaliman Arab Saudi dan sekutunya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL